Menurut PBB, sudah ada 142 kematian anak yang terkonfirmasi. Namun, jumlah kematian diperkirakan jauh lebih tinggi.
Manuel Fontaine, Direktur Program Darurat UNICEF, menyebut ada 4,8 juta dari 7,5 juta anak di Ukraina yang telantar.
"Mereka terpaksa meninggalkan segalanya, rumah mereka, sekolah mereka dan, sering kali anggota keluarga mereka," kata Fontaine kepada Dewan Keamanan PBB, dikutip dari Associated Press, (12/4/2022).
"Saya telah mendengar orang-orang tua tiri yang putus asa membawa anak mereka ke tempat yang aman, dan anak-anak sedih karena tidak bisa kembali bersekolah."
Duta Besar PBB Sergiy Kyslytsya mengklaim Rusia telah membawa lebih dari 121.000 anak-anak keluar dari Ukraina.
Bahkan, Rusia dilaporkan membuat RUU yang akan digunakan untuk mempermudah prosedur adopsi, bahkan adopsi bagi anak-anak yang masih memiliki orang tua dan kerabat lainnya.
Baca: Lebih dari 10.000 Warga Sipil Dilaporkan Tewas di Mariupol, Ukraina
Kata Kyslytsya, mayoritas anak-anak yang diangkut keluar berasal dari Mariupol.
Mereka dibawa ke wilayah Donetsk yang berada di Ukraina timur. Dari sana, mereka bakal dibawa ke Kota Taganrog yang berada di Rusia.
Kyslytsya mengatakan UNICEF telah mendengar laporan yang mirip. Namun, UNICEF belum bisa memverifikasi laporan tersebut.
Menurut Fontaine, ada sebanyak 2,8 juta anak yang telantar di Ukraina, dan ada 2 juta di negara-negara lain.
Pada saat yang sama, kata dia, masih ada jutaan anak yang tetap tinggal di rumah mereka dan terancam kekurangan makanan.
Dia mengatakan penutupan sekolah di Ukraina berdampak kepada pendidikan 5,7 juta anak usia dini dan 1,5 juta siswa pada jenjang pendidikan yang lebih tinggi.
Baca: Presiden Ukraina: Rusia Kemungkinan Bakal Serang Kyiv Lagi jika Donbas Jatuh
Baca: Pemimpin Chechnya: Rusia Akan Rebut Ibu Kota Ukraina, Luhansk & Donetsk Dibebaskan Dulu
"Ratusan sekolah dan fasilitas pendidikan telah diserang atau digunakan untuk keperluan militer," kata dia.
"Yang lainnya digunakan sebagai tempat berlindung oleh warga sipil."
Selain itu, ada juga laporan pemerkosaan dan kekerasaan seksual terhadap pengungsi Ukraina.
Laporan itu berasal dari Direktur Eksekutif UN Woman Sima Bahous setelah dia kembali dari Moldova yang menerima sekitar 95.000 pengungsi.
Kada Bagous, pemerintah Moldova sangat prihatin dengan adanya risiko perdagangan manusia di sana.
Sementara itu, Duta Besar AS untuk PBB, Linda Thomas-Green, mengecam Rusia karena invasinya membuat wanita dan anak-anak telantar dan mengalami kekerasan.
"Sejak perang melawan Ukraina dimulai oleh Rusia, Rusia telah mengebom panti asuhan dan rumah sakit bersalin," kata Thomas-Greenfield.
Baca: Viral Video Tentara Ukraina Melamar Sang Kekasih di Situasi Perang yang Masih Berjalan
Baca berita lainnya tentang konflik Ukraina-Rusia di sini