NATO: Sudah ada 7.000 hingga 15.000 Tentara Rusia yang Tewas di Ukraina

Editor: Febri Ady Prasetyo
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Bendera Pakta Pertahanan Atlantik Utara atau North Atlantic Treaty Organization (NATO).

TRIBUNNEWSWIKI.COM - Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) pada hari Rabu, (23/3/2022), memperkirakan sudah ada 7.000 hingga 15.000 tentara Rusia yang tewas di Ukraina.

Jumlah ini termasuk besar. Sebagai perbandingan, Rusia kehilangan sekitar 15.000 pasukan selama perang 10 tahun di Afganistan.

Invasi sudah berlangsung sebulan dan pasukan Ukraina dilaporkan melakukan perlawanan yang sangat gigih.

Seorang pejabat senior NATO mengatakan perkiraan ini didasarkan pada informasi dari pihak Ukraina, pihak Rusia, dan data intelijen.

Pada tanggal 2 Maret lalu Rusia menyebut telah ada 500 personelnya yang tewas dan ada sekitar 1.600 yang terluka.

Invasi yang dimulai sejak tanggal 24 Februari itu dianggap sebagai serbuan terbesar di Eropa sejak Perang Dunia II.

Awalnya pemerintahan Ukraina dianggap bisa digulingkan dengan cepat oleh Rusia.

Namun, keadaan justru sebaliknya. Sudah sebulan Rusia melakukan invasi, tetapi belum juga berhasil merebut ibu kota Kiev.

Baca: Zelenskiy Minta Seluruh Warga Dunia Berkumpul di Alun-Alun & Jalan untuk Dukung Ukraina

Baca: Rusia Blokir Google karena Dianggap Sebarkan Hoax Tentang Perang Ukraina

Foto yang dirilis pada tanggal 19 Maret 2022 oleh satelit Maxar memperlihatkan Gedung Teater Mariupol di Ukraina hancur karena serangan udara Rusia. (AFP)

Pasukan Rusia dilaporkan kewalahan menghadapi perlawanan sengit dari pasukan Ukraina.

Gerak maju pasukan Rusia dilaporkan terhenti atau diperlambat oleh satuan tempur Ukraina yang dibekali senjata dari negara-negara Barat.

Seorang pejabat pertahanan AS pada hari Rabu mengatakan angkatan darat Rusia sedang menggali parit pertahanan yang berada 15 hingga 20 km di luar Kiev.

Hal ini dilakukan karena mereka tidak membuat banyak perkembangan dalam gerak majunya ke arah Kiev.

Pejabat tersebut mengatakan pasukan Rusia sepertinya tidak lagi berusaha bergerak ke arah Kiev.

Sebaliknya, pasukan Rusia tampaknya memprioritaskan pertempuran di wilayah Luhansk dan Donetsk di Donbas.

Rusia berusaha mencegah pasukan Ukraina bergerak ke barat untuk mempertahankan kota-kota lainnya.

Baca: Ed Sheeran hingga Camila Cabello Bakal Gelar Konser Amal untuk Pengungsi Ukraina

Pejabat itu mengatakan AS melihat adanya aktivitas dari kapal-kapal Rusia yang berlabuh di Laut Azov.

Kapal tersebut terlihat sedang mengangkut perbekalan, termasuk kendaraan, untuk pasukan Rusia.

Sementara itu, ada dugaan bahwa Vladimir Putin mungkin mempertimbangkan penggunaan senjata nuklir.

Seorang pejabat senior Rusia mengatakan senjata nuklir negara itu bisa membantu mencegah negara-negara Barat ikut campur dalam persoalan Ukraina.

"Federasi Rusia mampu menghancurkan setiap penyerbu atau kelompok penyerbu dalam hitungan menit dari jarak mana pun," kata pejabat itu.

AS mewanti-wanti kemungkinan Rusia menggunakan senjata nuklir untuk memukul mundur musuh ketika Rusia terdesak.

Namun, Rusia membantah adanya rencana seperti itu. Sebelumnya, Presiden AS Joe Biden memperingatkan bahwa Rusia bisa menggunakan senjata kimia.

Baca: Sebut Pengeboman di Ukraina Mirip Serangan Nazi Jerman, Presiden Polandia: Tanpa Ampun

Baca: AS Sebut Kekuatan Tempur Rusia Turun 90 Persen sejak Invasi ke Ukraina Dimulai

(Tribunnewswiki)

Baca berita lainnya tentang konflik Ukraina-Rusia di sini



Editor: Febri Ady Prasetyo
BERITA TERKAIT

Berita Populer