Pengungsi Ukraina: Tentara Rusia Menembaki Warga Sipil dengan Senapan Mesin

Editor: Febri Ady Prasetyo
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Prajurit Ukraina Andriy Yermolayev, 50, yang kehilangan sebagian kakinya selama penembakan Rusia pada 24 Februari, dievakuasi dari Kota Irpin, sebelah barat Kyiv, pada 7 Maret 2022.

TRIBUNNEWSWIKI.COM - Seorang pengungsi Ukraina bernama Ihor Diekov mengaku telah menyaksikan pasukan Rusia menembaki warga sipil.

Diekov mengatakan mendengar tembakan senapan ketika dia menyeberangai Sungai Irpin yang berada di luar Kota Kyiv.

Tak hanya itu, dia mengaku melihat sejumlah jenazah tergeletak di sepanjang jalan.

"[Militer] Rusia berjanji memberikan koridor kemanusiaan yang tidak mereka tepati. Mereka menembaki warga sipil," kata Diekov dikutip dari Associated Press, (11/3/2022).

"Ini benar sekali. Saya menyaksikannya. Orang-orang ketakutan," kata dia menambahkan.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy pada hari Rabu lalu, (9/3/2022), mengatakan ada tiga koridor yang beroperasi dari area pengeboman.

Ada sekitar 35.000 warga sipil yang dilaporkan berhasil keluar menyelamatkan diri melalui koridor tersebut.

Warga sipil meninggalkan wilayah Sumy yang berada di dekat perbatasan Rusia, daerah pinggiran Kyiv, dan Enerhodar.

Baca: Daftar Perusahaan Global yang Belum Angkat Kaki dari Rusia, Ada Burger King hingga Dunkin

Para relawan menunggu pengungsi Ukraina yang datang menggunakan kereta, di stasiun utama Berlin, Rabu, (2/3/2022). (TOBIAS SCHWARZ / AFP)

Pengungsi lain, Ilya Ivanov, menceritakan hal yang mirip dengan yang dikatakan oleh Diekov.

"Ya, saya melihat sejumlah jenazah warga sipil," kata Ivanov yang berhasil menyelamatkan diri ke Polandia.

"Mereka menembaki warga sipil dengan senapan mesin," kata dia menambahkan.

Pada hari Kamis lalu diumumkan bahwa akan ada lebih banyak lagi evakuasi yang dilakukan.

Warga sipil dilaporkan telah putus asa dan ingin meninggalkan sejumlah kota karena kehabisan pasokan makanan, air, obat-obatan, dan kebutuhan penting lainnya.

Jumlah pengungsi Ukraina dilaporkan mencapai lebih 2 juta orang dan menyebar ke seluruh Eropa.

Beberapa dari mereka juga dilaporkan membawa sejumlah bukti yang bisa digunakan dalam penyelidikan kasus kejahatan perang.

Baca: Imbas Invasi Rusia, 9 WNI di Chernihiv Ukraina Tertahan dan Berlindung di Bungker Pabrik

Dirjen Organisasi Internasional untuk Migrasi, Antonio Vitorino, mengatakan krisis kemanusiaan di Ukraina saat ini sangat parah.

Vitorino mengatakan psikolog berbahasa Rusia dan Ukraina kini sangat dibutuhkan karena banyak yang mengalami trauma.

Para siswa memberikan roti isi buatan mereka kepada pengungsi Ukraina di Kisvarda, Hongaria timur, Rabu (2/3/2022). (ATTILA KISBENEDEK / AFP)

Sementara itu, PBB pada hari Rabu lalu mencatat sudah ada pembunuhan 516 warga sipil di Ukraina sejak invasi dimulai dua pekan lalu.

Sebanyak 37 di antaranya adalah anak-anak. Mayoritas dilaporkan tewas karena "penggunaan senjata peledak yang memiliki dampak area yang luas".

Namun, diyakini bahwa jumlah kematian sebenarnya jauh lebih besar daripada yang kini tercatat.

Mahkamah Internasional pekan lalu telah memulai penyelidikan kejahatan perang di Ukraina.

Baca: Rusia Serang Rumah Sakit, Presiden Ukraina: Bukti Genosida Sedang Terjadi, Melampaui Kekejaman

Baca: AS Khawatir Rusia Bakal Rebut Bahan Penelitian Biologis di Ukraina untuk Membuat Senjata Biologis

Wakil Perdana Menteri Amerika Serikat (AS) Kamala Harris pada hari Kamis lalu mendesak adanya penyelidikan tentang dugaan kejahatan perang yang dilakukan Rusia.

Desakan itu muncul setelah tentara Rusia dilaporkan menyerang rumah sakit anak dan ibu bersalin di Mariupol.

Beberapa negara

kini memudahkan kedatangan para pengungsi dari Ukraina.

Sebagai contoh, Inggris mulai Kamis lalu mengizinkan warga Ukraina yang memiliki paspor untuk mengajukan visa secara daring.

(Tribunnewswiki)

Baca berita lainnya tentang konflik Ukraina-Rusia di sini



Editor: Febri Ady Prasetyo
BERITA TERKAIT

Berita Populer