Yandex yang memiliki domain Yandex.ru saat ini menangani sekitar 60 persen lalu lintas pencarian di internet yang dilakukan warga Rusia.
Sayangnya, pada hari Kamis lalu, (5/3/2022), Yandex mengaku mungkin tidak bisa membayar utangnya karena pasar keuangan sedang lesu lantaran ada banyak sanksi yang dijatuhkan oleh negara-negara Barat.
Dikutip dari CNN, Yandex bermarkas di Belanda, tetapi sahamnya terdaftar di Nasdaq dan bursa efek Rusia.
Transaksi saham telah ditangguhkan pekan ini karena nilai aset Rusia anjlok menjelang invasi.
Sanksi yang dijatuhkan oleh AS, Uni Eropa, dan lainnya kepada Rusia pekan lalu juga memperberat mesin pencari tersebut.
Baca: Banyak WNA Ikut Bertempur di Ukraina: Bukan Hanya Ukraina yang Kami Lindungi
Baca: Kedekatan Vladimir Putin dan Ramzan Kadyrov Tak Dibangun Semalam, Chechnya Sempat Jadi Musuh Rusia
Kendati demikian, Yandex hingga kini belum dikenai sanksi. Para investor yang memegang $1,25 miliar dalam bentuk obligasi konversi berhak meminta pembayaran penuh, ditambah bunga, jika perdagangan sahamnya ditangguhnya di Nasdaq lebih dari lima hari.
Sementara itu, kantor berita pemerintah Rusia mengatakan pasar saham Moskwa dilaporkan tetapi ditutup setidaknya hingga Selasa depan.
"Grup Yandex secara keseluruhan tidak punya sumber daya yang cukup untuk menebus surat utang sepenuhnya," demikian pernyataan Yandex dikutip dari CNN.
Selain itu, perusahaan-perusahana Barat kini juga menghentikan layanan dan teknologi untuk pelanggan di Rusia.
Baca: Bantu Ukraina Lawan Rusia, Jerman Bakal Kirim 2.700 Rudal Buatan Soviet & 23.000 Helm
Penangguhan penjualan perangkat lunak dan keras bisa membuat masalah Yandex bertambah parah.
Namun, Yandex meyakini masih bisa beroperasi setidaknya hingga setahun mendatang.
"Kami percaya bahwa kapasitas pusat data kami saat ini dan teknologi lainnya yang sangat penting bagi pengoperasian akan memungkinkan kami untuk terus beroperasi secara normal setidaknya untuk 12 hingga 18 bulan mendatang."
Yandex dilaporkan memiliki valuasi pasar sekitar $17,4 juta pada awal Februari ini.
Mesin pencari itu menghasilkan keuntungan 356 miliar rubel tahun lalu.
Meski demikian, jumlah itu kini hanya setara $3 miliar karena nilai mata uang Rusia anjlok.
Baca: Pengusaha Rusia Bakal Berikan Rp14 Miliar kepada Orang yang Bisa Tangkap Putin Hidup atau Mati
Baca berita lainnya tentang Yandex di sini