Kherson menjadi kota besar pertama di Ukraina yang direbut oleh militer Rusia.
Wali Kota Kherson Igor Kolykhaiev pada hari Kamis dini hari mengatakan pasukan Rusia telah menguasai balai kota.
Warga Kota Kherson kemudian diharuskan mematuhi jam malam yang diberlakukan oleh pasukan Rusia.
Di tengah jatuhnya Kherson, Kolykhaiev mengatakan dia tidak membuat "perjanjian" dengan pasukan Rusia.
Dikutip dari The Guardian, dia menyebut hanya meminta pasukan Rusia untuk tidak menembak warga Kota Kherson.
Militer Rusia, yang disebut sebagai "pengunjung bersenjata" oleh Kolykhaiev, memberlakukan sejumlah pembatan di kota tersebut.
Jam malam berlaku dari pukul 19.00 hingga 06.00. Kemudian hanya mobil pengirim makanan, obat-obatan, dan kebutuhan lainnya yang diizinkan memasuki kota.
Baca: Hari Ke-7 Invasi, Berapa Jumlah Tentara Rusia dan Ukraina yang Tewas di Medan Tempur?
Dilaporkan ada 10 perwira Rusia yang memasuki balai kota dan menginformasikan bahwa mereka berencana membuat pemerintahan militer.
Sementara itu, melalui Telegram, Gennady Lakhuta, kepala pemerintahan regional, mengatakan Kherson telah dikuasai oleh pasukan Rusia.
"[Militer] Rusia menduduki semua bagian kota dan sangat berbahaya," kata dia menurut AFP.
Rudal dan artileri Rusia dilaporkan terus menghujani kota-kota besar di Ukraina, termasuk Ibu Kota Kyiv.
Sejumlah ledakan besar terdengar pada hari Rabu malam hingga Kamis pagi.
Sementara itu, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperkirakan ada ratusan warga sipil yang tewas.
Baca: Warga Rusia Mulai Rasakan Dampak Hujan Sanksi: Harga Melonjak hingga Susah Tarik Uang
Invasi yang sudah berlangsung lebih dari seminggu itu telah memaksa banyak warga Ukraina mengungsi.
Mereka memutuskan pindah untuk sementara waktu ke negara-negara tetangga untuk menyelamatkan diri.
Komisioner PBB untuk Pengungsian, Filippo Grandi, mengatakan ada lebih dari 1 juta warga Ukraina yang telah meninggalkan negara itu.
Jumlah itu sekitar 2 persen dari seluruh penduduk Ukraina yang berjumlah 44 juta jiwa.
Grandi meminta senjata tidak ditembakkan agar bantuan kemanusiaan bisa disalurkan kepada jutaan orang yang masih berada di Ukraina.
Dia memperingatkan bahwa jumlah pengungsi nantinya bisa mencapai 4 juta orang.
Baca: Invasi Rusia-Ukraina, Pasukan Terjun Payung Mendarat di Kharkiv, Serangan Bertubi-tubi di 3 Penjuru
Baca: Invasi Rusia Berlanjut, Joe Biden: Putin Tidak Paham Apa yang Bakal Terjadi
Sementara itu, Mahkamah Internasional menyatakan tengah mengumpulkan bukti dugaan kejahatan perang terjadi di Ukraina.
Inggris dan 37 negara lainnya secara resmi juga telah melaporkan dugaan kekejaman di Ukraina kepada Mahkamah Internasional pada hari Rabu.
Baca berita lainnya tentang konflik Ukraina-Rusia di sini