Informasi Awal
TRIBUNNEWSWIKI.COM - Tedros Adhanom adalah Diretkur Jenderal World Health Organization (WHO).
Ia terpilih sebagai dirjen WHO pada Mei 2017.
Ia merupakan dirjen pertama yang tidak memiliki latar belakang akademik sebagai seorang dokter.
Tedros ditunjuk sebagai dirjen setelah mendapatkan 133 suara. (1)
Baca: Kofi Annan
Karir
Ia lahir pada 3 Maret 1965 di Asmara, Ethiopia.
Ia menempuh pendidikan di Universitas Asmara dengan jurusan biologi.
Tak puas di Asmara, ia melanjutkan pendidikan di Denmark.
Di Denmark, ia melihat sistem kesehatan universal dapat menjangkau seluruh warga.
Pada saat yang sama, ia membandingkan dengan negara-negara berkembang yang anak-anak biasa meninggal saat lahir.
Sementara itu, di negara seperti Denmark, anak-anak bisa tumbuh sehat dan baik.
Ia kemudian melanjutkan pendidikan master bidang imunitas penyakit menular di Universitas London.
Ia juga menjadi mahasiswa doktoral kesehatan masyarakat di Universitas Nottingham, Inggris.
Karirnya berawal ketika ia menjadi ahli kesehatan publik Kementerian Kesehatan Ethiopia.
Ia menjadi kepala Biro Kesehatan Tigray.
Di Tigray, ia sukses memangkas penularan AIDS dan meningitis.
Ia juga berhasil mendorong pertumbuhan jumlah tenaga medis dan menaikkan tingkat imunisasi.
Ia mengembangkan akses internet di rumah sakit dan klinik di wilayahnya.
Setelah sukses di Tigray, pada tahun 2005, ia diangkat menjadi Menteri Kesehatan Ethiopia.
Sebagai menteri, Tedros fokus membangun sistem kesehatan utama yang fokus pada perempuan.
Ia juga berupaya untuk menekan angka kematian bayi dan anak hingga 60%.
Baca: Ban Ki-Moon
Setelah tujuh tahun menjabat sebagai Menteri Kesehatan, pada tahun 2012, ia dipindahkan menjadi Menteri Luar Negeri.
Pada tahun 2017, ia terpilih menjadi dirjen WHO.
Ia adalah dirjen WHO pertama yang berasal dari Afrika.
Persiapan Periode Kedua
Masa jabatannya di WHO akan berakhir pada tahun 2022.
Namun, ia masih dapat mencalonkan diri untuk periode kedua.
Baca: Antonio Guterres
Oleh sebagian pihak, ia dianggap memiliki dedikasi tinggi dan berada di garis terdepan untuk menangani covid-19.
Namun, pencalonannya menjadi rumit ketika terjadi konfil di Tigray, wilayah asal Tedros.
Ehtiopia diduga menarik dukungan dari Tedros.
Padahal, umumnya, kandidat yang akan maju dinominasikan oleh negara asal. (2)