Menurut penduduk setempat, laporan media lokal, dan kelompok hak asasi manusia (HAM) setempat, jenazah para korban juga dibakar.
Aktivis Kelompok HAM Karenni mengatakan tindakan keji itu dilakukan oleh militer Myanmar.
Dilansir dari Channel News Asia, (26/12/2021), jenazah para korban ditemukan di dekat Desa Mo So di Kota Hpruso pada hari Sabtu.
"Kami sangat mengutuk pembunuhan brutal dan keji ini, yang melanggar hak asasi manusia," kata kelompok itu dalam sebuah unggahan di media sosial Facebook, dikutip dari Channel News Asia.
Sementara itu, di sisi lain, militer Myanmar mengatakan telah menembak dan membunuh sejumlah "teroris yang bersenjata" dari pasukan oposisi di desa itu.
Mereka, kata militer Myanmar, menggunakan tujuh kendaraan dan tidak mau berhenti.
Baca: Korban Tewas Demo AntiKudeta Militer Myanmar Capai 320 Orang: 25% Tewas Ditembak di Kepala
Meski demikian, pihak militer belum memberikan tanggapan mengenai hal ini.
Foto yang dibagikan oleh kelompok HAM tersebut dan media lokal memperlihatkan sisa-sisa jenazah yang hangus di dalam truk yang terbakar.
Pasukan Pertahanan Etnis Karenni, salah satu milisi sipil terbesar yang melawan junta militer, mengatakan para korban bukan berasal dari kelompoknya.
Para korban adalah warga yang mencari perlindungan dari konflik ini.
"Kami sangat terkejut melihat semua jenazah dari bermacam-macam ukuran itu, termasuk anak-anak, wanita, dan lansia," kata pempin milisi itu kepada Reuters.
Seorang warga desa yang tidak mau disebutkan namanya mengatakan mengetahui aksi keji pada Jumat malam itu.
Namun, dia tidak bisa pergi ke tempat kejadian karena ada penembakan.
Baca: Bocah Perempuan Usia 7 Tahun Ditembak Mati Tentara Myanmar saat Berlari Ketakutan ke Pelukan Ayahnya
"Saya pergi melihat pada pagi harinya. Saya melihat jenazah yang telah dibakar, dan juga pakaian anak-anak dan wanita yang tersebar di sekitar," kata dia.
Myanmar dilanda konflik semenjak kudeta yang dilakukan oleh milter 11 bulan yang lalu.
Militer menggulingkan pemerintahan Aung San Suu Kyi dan mengklaim ada kecurangan dalam pemilihan pada bulan November 2020.
Kudeta itu mendapat tanggapan buruk dari rakyat Myanmar dan memicu protes besar-besaran.
Baca: Junta Militer Myanmar Bebaskan Ratusan Demonstran dan Jurnalis AP, Jalan di Yangon Mendadak Sepi
Baca berita lainnya tentang Myanmar di sini