Novel - Anak Semua Bangsa

Editor: Putradi Pamungkas
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Anak Semua Bangsa


Daftar Isi


  • Informasi Awal


TRIBUNNEWSWIKI.COM - Anak Semua Bangsa adalah novel karya Pramoedya Ananta Toer.

Novel tersebut merupakan novel kedua dari Tetralogi Pulau Buru.

Tetralogi Pulau Buru berisi Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca.

Tetralogi tersebut membuat nama Pramoedya Ananta Toer dikenal sebagai salah satu sastrawan terbaik di Indonesia.

Baca: NOVEL - Ranah 3 Warna

Novel tersebut pertama kali diterbitkan oleh Hasta Mitra di Jakarta pada tahun 1980.

Pada saat itu, Anak Semua Bangsa dicetak dengan ketebalan 353 halaman.

Pada tahun 2006, novel tersebut diterbitkan ulang oleh Lentera Dipantara.

  • Sinopsis


Anak Semua Bangsa dimulai dengan suasana duka karena datangnya telegram dari Belanda yang mengabarkan kematian Annelies.

Kematian Annelies ini merupakan tonggak baru bagi Minke dan Nyai Ontosoroh.

Pramoedya Ananta Toer, penulis Tetralogi Pulau Buru (Kompas.com)

Minke mulai tumbuh menjadi pemuda terpelajar Belanda, yang sebelumnya berorientasi pada pola pikir kaum terdidik Belanda, berubah menjadi Minke yang sadar akan lingkungannya sendiri.

Suatu ketika, Minke berlibur ke desa.

Di desa, ia bertemu dengan petani bernama Kromodongso.

Kromodongso tidak dapat mempertahankan tanahnya dari tanah rakus pemilik perkebunan gula.

Selain itu, pejabat desa justru membela pemilik perkebunan gula karena ingin mendapatkan kedudukan dari pabrik gula.

Minke melihat bahwa tidak ada pihak yang membela Kromodongso.

Maka, ia memutuskan untuk membantunya.

Minke menulis pembelaan terhadap Kromodongso di berbagai surat kabar, namun tidak ada surat kabar Belanda yang mau menerbitkan. (1)

Novel tersebut menceritakan kisah Minke pada periode observasi, melihat ketidakberdayaan pribumi melawan raksasa penjajah. (2)

Ia bertemu dengan Khouw Ah Soe.

Ia adalah pria keturunan Tionghoa yang memberi pencerahan pada Minke tentang pentingnya membela bangsa sendiri.

Baca: NOVEL - Api Tauhid

Ah Soe juga mengajarkan kepada Minke bagaimana menjunjung peradaban yang telah melahirkannya. (3)

  • Penulis


Pram telah mengabdikan diri dan hidupnya untuk menulis.

Baca: NOVEL - Ayat-Ayat Cinta

Pram adalah satu-satunya sastrawan Indonesia yang pernah dinominasikan enam kali sebagai peraih nobel perdamaian.

Ia merupakan kritikus sastra yang pernah menjadi tahanan politik Orde Baru.

Melalui berbagai karyanya, ia telah mendapatkan puluhan penghargaan, antara lain:

– Balai Pustaka untuk Perburuan, tahun 1951

– Badan Musyawarah Kebudayaan Nasional (BMKN) untuk Tjerita dari Blora diberikan oleh Badan Musyawarah Kebudayaan Nasional (BMKN), 1953

– Sastra Nasional BMKN untuk Tjerita dari Blora, diberikan oleh BMKN, 1957

– Yamin Foundation untuk Orang – orang dari Banten Selatan (ditolak oleh Pramoedya, diberikan oleh Yamin Foundation, 1957

– Aadopteed Member of The Nederlands Center of P.E.N International, Belanda, 1978

– Honorary Member of The Japan Center of P.E.N International, Jepang, 1978

– Honorary Life Member of The International P.E.N Australia Center, Australia, 1982

– Honorary Member of P.E.N Center Sweden, Swedia, 1982

– Honorary Member of P.E.N, American Center, Amerika Serikat, 1987

– Deutschsweizeruches P.E.N member, Zentrum, Swiss, 1989

– The Fund for Free Expression , New York, Amerika Serikat, 1989

– International P.E.N English Center Award, Inggris, 1992

– Wertheim Award, “for his meritorious services to the struggle for emancipation of Indonesian people.”, Wertheim Foundation, Leiden, Belanda, 1995

– Ramon Magsaysay Award, “for Journalism, Literature and Creative Arts, in Recognition of his illuminating with brilliant stories the historical awakening, and modern experience of the Indonesian people.” Ramon Magsaysay Award Foundation, Manila, Filipina, 1995

– UNESCO Madanjeet Singh Prize, “in recognition of his outstanding contribution to the promotion of tolerence and non-violence.” UNESCO, Paris, Prancis 1996

Baca: NOVEL - Bumi Manusia

– Doctor of Humane Letters, ‘in recognition of his remarkable imagination and distinguished literary contributions, his example to all who oppose tyranny, and his highly principled struggle for intellectual freedom.”

– Universitas Michigan, Madison, Amerika Serikat, 1999

– Chanceller’s Distinguished Honor Award, “for his outstanding literary archievements and for his contribution to etnic tolerence and global understanding.” Universitas California, Berkeley, Amerika Serikat, 1999

– Chevalier de I’Ordre des Arts et des Letters, dari Le Ministrs, de la Culture et de la Communication Republique Francaise Paris, Prancis 1999

– International P.E.N Award Association of Writers Zentrum Deutschland, Jerman, 1999

– New York Foundation for the Arts Award New York, Amerika Serikat, 2000

– Fukuoka Cultural Grand Prize, Jepang, 2000

– The Norwegian Authors Union, Norwegia, 2004

– Centario Pablo Nerulda Republica de Chile, Chile, 2004 (4)

(Tribunnewswiki.com/Yusuf)



Penulis Pramoedya Ananta Toer


Tahun Terbit 1980


Halaman 353


Sumber :


1. ensiklopedia.kemdikbud.go.id
2. library.fis.uny.ac.id
3. spiritmahasiswa.trunojoyo.ac.id
4. kultural.id


Editor: Putradi Pamungkas
BERITA TERKAIT

Berita Populer