Kala itu, tujuh orang perwira TNI yang dituding sebagai “Dewan Jenderal” diculik oleh Batalion Pasukan Pengawal Presiden Cakrabirawa.
Pasukan tersebut diketahui terafiliasi dengan Partai Komunis Indonesia (PKI).
Para perwira TNI ini disiksa dan dihabisi dalam sebuah sumur tua di daerah Lubang Buaya, Pondok Gede, Jakarta.
Namun, buntut dari peristiwa ini, ada sekitar 500 ribu orang yang dituduh menjadi antek PKI, dieksekusi secara massal di sejumlah wilayah di Indonesia.
Beberapa di antaranya dipenjara dan diasingkan sebagai tahanan politik selama puluhan tahun tanpa pernah diadili.
Ishak Bahar (87) adalah salah seorang saksi hidup yang mengetahui bagaimana peristiwa itu tersebut.
Warga Kelurahan Kalikabong, Kecamatan Kalimanah, Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah tersebut adalah lansia yang pernah menyandang pangkat terakhir Sersan Mayor (serma), yakni Komandan Regu Pengawal Istana Batalion Cakrabirawa.
“Saya pendidikan di Komando Pasukan Khusus (Kopassus) terus bertugas di pengawal Istana tahun 1964. Waktu Soekarno pidato di Konferensi Asia Afrika, saya yang mengawal presiden ke Aljazair,” kata Ishak saat berbincang di rumahnya, Rabu (29/9/2021), dikutip dari Kompas.com.
Dirinya mengaku keterlibatannya dalam tragedi G30S adalah hal yang tidak pernah ia duga.
Ia merasa terjebak dalam pusaran politik yang memutar nasibnya dari seorang patriot terhormat menjadi pesakitan pengkhianat negara.
Dalam ingatannya, terekam momen-momen saat Letkol Untung, pimpinan Ishak di Batalion Cakrabirawa memberi perintah untuk ikut bersamanya.
Padahal, seharusnya Ishak ada jadwal mengawal presiden ke Senayan.
“Sore itu sekitar jam 18.00 WIB, saya ada tugas untuk mengawal Soekarno ke Mabes Teknisi di Senayan, tahu-tahu Pak Untung datang minta saya ikut dia,” katanya.
Ishak sempat bertanya kepada Untung karena perintah untuk mendampingi bertepatan dengan tugas mengawal presiden, hanya saja ia tidak bisa membantah perintah.
“Sudah jangan mengawal (presiden), ikut saya!” kata Ishak menirukan perintah Untung.
Ishak mengawal dalam satu kendaraan bersama Letkol Untung, Kolonel Abdul Latief (Komandan Garnisun Kodam Jaya), sopir dan ajudan, serta membawa persenjataan lengkap.
“Saya tidak dikasih tahu tujuannya ke mana, tahu-tahu mampir ke Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) untuk menemui Soeharto yang sedang menjaga anaknya, Hutomo Mandala Putra (Tomy) yang lagi sakit,” beber Ishak.
Ishak tidak ikut masuk ke dalam kamar di mana Tomy dirawat, hanya saja ia mendengar bahwa Untung dan Abdul Latief sudah mendapat izin Soeharto.
Yakni tentang sebuah misi yang baru dia sadari sesudahnya.
“Baik Pak Untung dan Pak Latief itu pamitan dengan Suharto mau nyulik jenderal,” katanya.
Tiba di Lubang Buaya, Ishak diperintahkan untuk bersiaga di sebuah rumah pondok, hingga kemudian pasukan Batalion Cakrabirawa yang lain datang pada tengah malam.
“Saya kaget malah, pasukan-pasukan datang, ya anggota Cakrabirawa, teman-teman saya. Tahu-tahu dibagi regu untuk menculik jenderal. Saya tidak (menculik), saya ngawal Untung di Lubang Buaya,” ujar Ishak.
Ketika tanggal sudah menunjukkan 1 Oktober pukul 01.00 WIB, satu per satu regu bergerak menculik Dewan Jenderal.
Pukul 03.00 WIB, para jenderal datang silih berganti, namun tidak semua dalam keadaan hidup.
“Jenderal Yani (Letjen Ahmad Yani), Panjaitan (Brigjen D.I. Panjaitan), Haryono (Mayjen Harjono) mati, dan Toyo (Brigjen Sutoyo) sudah meninggal. Yang hidup hanya tiga, Jenderal Prapto (Mayjen R. Soeprapto), Jenderal Parman (Mayjen S. Parman) dan Tendean (Lettu Pirre Tandean). Jenderal Nasution enggak ada,” kata Ishak.
“Saya kaget, saya panik malah, kok ada begini, ada apa,” sambungnya.
Lantaran panik, para jenderal yang diculik dijebloskan ke dalam sebuah sumur tua, lalu ditembak dari atas secara membabi-buta.
“Saya menyaksikan langsung dengan satu polisi namanya Soekitman. Awalnya, Soekitman ini suruh dibunuh, tapi saya tahan, saya lindungi, saya bilang kamu tidak tahu apa-apa,” kata Ishak.
Baca: FILM - Pengkhianatan G30S/PKI
Baca: Partai Komunis Indonesia (PKI)
Soekitman yang diselamatkan Ishak ini kelak akan menjadi saksi kunci bagaimana kebiadaban para tentara Cakrabirawa membantai Dewan Jenderal.
Ia yang memperlihatkan lokasi jasad Dewan Jenderal dibenamkan dalam sumur tua lalu diuruk dan ditanam pohon pisang.
“Saya hanya sedikit tahu kalau Dewan Jenderal ini mau menggulingkan Pak Karno, sebagai pasukan pengawal presiden, Cakrabirawa berkewajiban menggagalkan itu,” terangnya.
“Setelah itu lalu bubar, saya enggak tahu (Untung dan Latief) pada ke mana, saya ditinggal dengan pasukan-pasukan yang lain. Saya pulang sendiri dengan pembawa truk, sopir dan Soekitman itu tadi,” katanya.
Setelah tiba markas Cakrabirawa, tidak berselang lama datang pasukan tentara berpita putih.
Ishak dilucuti dan dijebloskan ke penjara tanpa dimintai keterangan.
“Saya ditahan belasan tahun tanpa pakai persidangan apa-apa, hanya sekali dimintai keterangan jadi saksinya Untung,” ujarnya.
Selama 14 hari, Ishak ditahan di LP Cipinang dan merasakan neraka bagi pasukan Cakrabirawa yang tertangkap.
“Saya diberi makan jagung rebus saja, tapi tidak pakai piring, langsung disebar di lantai, dituturi (dipunguti) satu-satu,”
Dirinya juga mengalami penyiksaan yang tak bisa diceritakan dengan rinci.
“Saya disuruh mengaku anggota ini, anggota itu, saya jawab enggak ngerti anggota, enggak ngerti partai, enggak ngerti apa-apa, gole (petugas) mukuli semaunya,” ungkapnya.
Setelah 14 hari, Ishak dan sejumlah anggota Cakrabirawa dipindah ke Salemba hingga menghabiskan 13 tahun lamanya dalam jeruji besi tanpa mendapat peradilan yang semestinya.
“Banyak yang mati karena makanan ngga cukup, banyak juga yang mati karena disiksa. Temen-temen saya (Cakrabirawa) sudah habis, di sel banyak yang mati, dibebaskan apalagi, sudah,” kata Ishak.
Ishak akhirnya dibebaskan pada 28 Juli 1977 bebarengan dengan ratusan ribu tahanan politik yang lain.
Namun, Ishak masih harus dihadapkan dengan stigma masyarakat setelah dinyatakan bebas.
“Masyarakat tahunya saya militer, ya pada heran kenapa Pak Ishak itu anak ulama sampai ditahan di situ sebabnya apa, wong saya jebolan pondok pesantren. Jadi saya ditahan karena PKI, orang ya heran, apa sebabnya,” katanya.
Seperti bekas tapol yang lain, Ishak juga kesulitan mencari pekerjaan yang layak di lembaga formal, hingga membuatnya kerja serabutan untuk bertahan hidup.
“Umur saya baru 40-an lah waktu itu, kerja jadi buruh mencangkul, buruh menek kelapa, jual ayam, jual sayuran, jual dedak, dipikul,” katanya.
Baca: Film G30S/PKI Dinilai Cacat Fakta dan Drama, Ahli Sejarah UGM: Tak Ada Bukti Penyiksaan Jenderal
Baca: Kisah di Balik G30S: Peran Ahmad Yani dan Kronologi Tewas di Tangan PKI
Hingga kini, setiap kepingan memori tentang peristiwa malam 30 September masih lekat di kepalanya.
Semuanya seperti mimpi buruk baginya.
“Kita-kita orang enggak tahu, militer si ya, orang militer kan enggak berpolitik, belajar politik saja enggak, jadi ngertinya karena PKI,” ungkapnya.
“Jadi bagi saya, kejadian itu (G30S) seperti kejadian kemarin, masih ingat semua, masih membayang. Saya baca bukunya Soeharto itu banyak, paling berat melanggar Hak Asasi Manusia (HAM),” pungkas Ishak.
SIMAK ARTIKEL SEPUTAR G30SPKI DI SINI