Informasi Awal
TRIBUNNEWSWIKI.COM - Raymond Westerling merupakan komandan pasukan Kolonial Belanda yang memimpin Pembantaian Westerling di Sulawesi Selatan.
Raymond lahir di Istanbul Ottoman pada 31 Agustus 1919.
Ia adalah anak kedua dari pasangan Paul Westerling dan Sophia Moutzou.
Sejak muda ia telah mendapatkan pelatihan khusus di Skotlandia.
Pada 26 Agustus 1941 ia masuk ke dinas militer di Kanada.
Kemudian pada 27 Desember 1941 Raymond bekerja di Brigade Prinses Irene di Wolverhampton.
Raymond Westerling adalah salah satu orang dari 48 orang Belanda yang mendapatkan latihan khusus di Commando Basic Training Centre di Achnacarry dan Pantai Skotlandia.
Pelatihan militer tersebut adalah persiapan yang dilakukan untuk mengirim para tentaranya untuk menjadi komandan pasukan Belanda yang ada di Indonesia. (1)
Baca: Mayor Jenderal Achamadi
Peristiwa Westerling
Raymond Westerling tiba di Makassar, Sulawesi Selatan pada 5 Desember 1946.
Ia memimpin 120 tentara yang berasal dari pasukan khusus DST.
Westerling dan pasukannya kemudian mendirikan markas di Mattoangin.
Di wilayah ini, Westerling menyusun strategi untuk menumpas para pemberontak menggunakan caranya sendiri.
Dalam menumpas pemberontak, ia tidak berpedoman pada Voorschrift voor de uitoefening van de Politiek-Politionele Taak van het Leger - VPTL (Pedoman Pelaksanaan untuk Tentara untuk Tugas di bagian Politik dan Polisional).
Ia bersama dengan pasukan khususnya mulai melakukan operasi di sini.
Pasukannya yang bernama DST yang ada di bawahnya adalah pasukan khusus yang memiliki reputasi dan disegani bak dai dalam di luar negeri.
Pada 5 Januari 1948 DST diubah namanya menjadi Korps Speciale Troepen – KST (Korps Pasukan Khusus).
Dan setelah itu Westerling mengumpulkan orang-orang Indonesia yang kemudian dieksekusi mati.
Tercatat ada kurang lebih 40.000 orang pribumi yang meninggal karena eksekusi mati.
Pembantaian tersebut kemudian dikenal dengan Peristiwa Korban 40.000 Jiwa. (1) (2)
Baca: Jenderal Soedirman
Angkatan Perang Ratu Adil
Pada 19 Desember 1948 Raymond Westerling mengakhiri karier militernya dan menyerahkan jabatannya sebagai komando Korps Speciale Troepen kepada Letkol W.C.A. van Beek.
Penyerahan resmi ini dilakukan di hadapan Jenderal D.C.Buurman van Vreede, dan Kepala Staf Panglima Tertinggi Jenderal Spoor.
Setelah itu ia pun hidup di Cililin dan Pacet, Jawa Barat.
Satu tahun kemudian, pada 1949 ia menceraikan istrinya yang hidup di London dan menikah dengan perempuan Indo keturunan Prancis, Yvone Fournier.
Ia yang merupakan mantan komandan Korps Speciale Tropen (KST) dengan mudah mendapatkan dua truk militer bekas KNIL.
Dengan kendaraan itu dia pun menjadi juragan jasa angkutan hasil perkebunan.
Selain itu ia juga membentuk pasukan perang yang dikenal dengan Angkatan Perang Ratu Adil (APRA).
Ia bersama dengan pasukannya itu mencoba melakukan kudeta yang dikenal dengan "Kudeta 23 Januari" yang dilakukan di Bandung Jawa Barat.
Namun kudeta yang coba dilakukan itu berhasil ditumpas oleh APRIS (Angkatan Perang Republik Indonesia Serikat) dan Polisi Militer Belanda.
Hingga akhirnya ia pun melarikan diri dan menjadi seorang buronan. (3)
Baca: Tentara Nasional Indonesia (TNI)
Meninggal Dunia
Raymond Westerling meninggal dunia pada 1987 diusia 68 tahun.
Ia meninggal karena penyakit jantung yang ia derita.
Jenazahnya dimakamkan di Purmerend, Belanda.
Di batu nisan miliknya terdapat tulisan “Voormalig Commandant van het K.S.T. Rakjat Memberi Beliau Gelar Ratu Adil, Rechvaardige Vorst” dan dibubuhi lambang Korps Speciale Tropen. (3)