K.H. Achmad Shiddiq

Editor: Febri Ady Prasetyo
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

K.H. Achmad Shiddiq


Daftar Isi


  • Informasi Awal


TRIBUNNEWSWIKI.COM- K.H. Ahmad Shiddiq adalah tokoh Nahdlatul Ulama yang menjabat sebagai Rais Aaam Syuriah periode 1984-1991.

K.H. Ahmad Shiddiq lahir di Jember, 24 Januari 1926 dan meninggal dunia tanggal 23 Januari 1991 saat berusia 64 tahun.

Pada 25 Agustus 2019, Pemerintah Kabupaten Jember mengusulkan K.H. Achmad Siddiq sebagai pahlawan nasional. (2) (1)

Baca: Omar Dhani

Achmad Shiddiq muda saat menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat periode 1956–1959 dari Partai Nahdlatoel Oelama (NO). Kanan, KH Achmad Shiddiq saat sepuh.

  • Kehidupan Pribadi


Semasa kecil K.H. Ahmad Shiddiq bernama Achmad Muhammad Hasan.

Ayahnya bernama Kyai Shiddiq, anak dari ibu Nyai H. Zaqiah (Nyai Maryam) binti KH. Yusuf.

Sejak umur 8 tahun, ia sudah ditinggalkan ayahnya, dan ibunya meninggal saat ia umur 4 tahun.

Ibunya wafat saat perjalanan di laut, ketika pulang dari menunaikan ibadah haji.

Karena K.H. Ahcmad Shiddiq sudah menjadi yatim piatu sejak kecil, ia diasuh oleh kakaknya yang bernama Kyai Mahfudz Shiddiq saat berumur 10 tahun.

K.H. Achmad Shiddiq memiliki watak sabar, tenang dan cerdas, serta memiliki wawasan yang luas baik dalam ilmu agama maupun pengetahuan umum.

Sejak kecil, ia belajar dari ayahnya sendiri.

Sebelum wafat, ayahnya mengajarkan kepada anak-anaknya untuk mewajibkan salat berjamaah 5 waktu.

K.H. Achmad Shiddiq juga mengaji ilmu dari Kyai Machfudz, banyak kitab kuning yang diajarkan kakaknya. (1) 

Baca: Ahmad Yani

  • Pendidikan


K.H. Achmad Shiddiq menimba ilmu di Tebuireng.

Saat di Tebuireng, Kiai Hasyim melihat potensi kecerdasan pada Achmad.

Kiai Hasyim pun memindahkan kamarnya dengan mengumpulkan putra-putra Kiai lainnya yang dijadikan satu kamar.

Pertimbangan tersebut bisa dimaklumi, karena para putra Kiai (dipanggil Gus atau lora atau Non) adalah putra mahkota yang akan meneruskan pengabdian ayahnya di pesantren, sehingga pengawasan, pengajaran dan pembinaannyapun cenderung dilakukan secara, khusus/lain dari santri umumnya.

Kiai Achmad memiliki kepribadian yang tenang sehingga ia disegani oleh kawan-kawannya.

Ia memiliki gaya berbicara yang khas dan banyak santri yang mengaguminya.

Selain itu, Kiai Achmad juga dikenal sosok yang suka membaca buku.

Di pondok Tebuireng, Kiai Achmad berteman dengan Kiai Muchith Muzadi.

Mereka pun menjadi mitra diskusinva dalam merumuskan konsep-konsep strategis, khususnya menyangkut ke-NU-an, seperti buku Khittah Nandliyah, Fikroh Nandliyah, dan sebagainya.

Ia sangat dekat dengan Kiai Wahid Hasyim karena kecerdasan dan kepiawaiaanya dalam berpidato yang dimiliki Kiai Achmad Shiddiq.

Kiai Wahid pun mendidik Kiai Achamad di Madrasah Nidzomiyah, dengan mengajarkan ketrampilan mengetik dan membimbing pembuatan konsep-konsep.

Bahkan, ketika Kiai Wahid Hasyim memegang jabatan Ketua MIAI, Ketua NU dan Menteri Agama; Kiai Achmad juga yang dipercaya sebagai sekretaris pribadinya.

Hal itu karena Kiai Achmad menimba ilmu selain tidak hanya dari KH Hasyim Asy'ari saja, tetapi juga dari Kiai Wachid Hasyim yang telah dipelajari mendalam.

Setelah lulus dari pondok Tebuireng, ia aktif dalam organisasi GPII (Gabungan Pemuda Islam) di Jember. (2)

Baca: Haji Misbach

 

  • Karier


K.H. Achmad Shiddiq mengawali kariernya dengan mengikuti GPII, Gabungan Pemuda Islam di Jember, sehingga kariernya melejit kepengurusan tingkat Jawa Timur.

Pada 1955, ia juga terpilih sebagai anggota DPR Daerah sementara di Jember.

K.H. Achmad Shiddiq memperjuangkan kemerdekaan Indonesia 1945 dimulai ketika ia menjabat sebagai Badan Eksekutif Pemerintah Jember, bersama A Latif Pane (PNI), P. Siahaan (PBI) dan Nazarudin Lathif (Masyumi).

Pada saat itu, bupati dijabat oleh Soedarman, patih oleh R. Soenarto dan Noto Hadinegoro sebagai sekretaris bupati.

Selain itu, Kiai Achmad juga berjuang di pasukan Mujahidin (PPPR) pada tahun 1947.

K.H. Achmad mulai mengabdi di pemerintahan sebagai kepala KUA (Kantor Urusan Agama) di Situbondo.

Pada saat itu, di departemen Agama dikuasai oleh tokoh-tokoh NU, salah satunya K.H.. Wahid Hasyim adalah Menteri Agama dari NU.

Karier pemerintahan K.H. Achamad Shiddiq melonjak cepat. Ia menjabat sebagai kepala, kantor Wilayah Departemen Agama di Jawa Timur.

Di NU sendiri, karier Kiai Achmad bermula di Jember.

Tak berapa lama, Kiai Achmad sudah aktif di kepengurusan tingkat wilayah Jawa Timur, sehingga di NU saat itu ada 2 bani Shiddiq, yaitu Kiai Achmad dan Kiai Abdullah (kakaknya).

Bahkan, pada Konferensi NU wilayah berikutnya, pasangan kakak beradik tersebut dikesankan saling bersaing dan selanjutnya Kiai Achmad Shiddiq muncul sebagai ketua wilayah NU Jawa Timur. (1)

Baca: Tan Malaka

(Tribunnewswiki.com/ Husna)



Info Pribadi


Kelahiran 24 Januari 1926 Jember,


Meninggal 23 Januari 1991


Tokoh Nahdlatul Ulama


Sumber :


1. id.wikipedia.org
2. suryamalang.tribunnews.com


Editor: Febri Ady Prasetyo

Berita Populer