Informasi Awal
TRIBUNNEWSWIKI.COM - AM Hanafie duta besar Republik Indonesia di Kuba yang menjadi eksil pasca peristiwa Gerakan 30 September 1965.
Anak Marhaen Hanafi atau yang biasa disebut dengan AM Hanafi lahir di Bengkulu pada 1918.
Ketika muda, ia menemani Soekarno yang kala itu dibuang ke Bengkulu oleh pemerintah Hindia Belanda pada 1938-1942.
Setelah selesai dalam masa pengasingan, AM Hanafi dibawa Soekarno ke Jakarta.
Di sana ia bergabung dengan para pemuda revolusioner yang bermarkas di Menteng 31.
Beberapa pemuda itu yang menonjol ialah Sukarni, Chairul Saleh, dan Adam Malik.
AM Hanafi bersama teman-temannya itu yang kemudian menculik Soekarno-Hatta ke Rengasdengklok malam sebelum proklamasi kemerdekaan. (1)
Baca: Sidik Kertapati
Karier
Setelah kemerdekaan, pada 1957-1960 ia menjabat sebagai Menteri Tenaga Rakyat.
Jabatan lain yang pernah ia emban adalah menjadi Anggota Dewan Pertimbangan Agung, Anggota MPRS, Komite Pembebasan Irian Barat dan Pendiri Badan Musyawarah Besar Angkatan 45.
Kemudian pada 1963 ia diminta oleh Soekarno untuk menjadi Duta Besar di Kuba.
Awalnya Hanafi sempat menolak jabatan itu, akan tetapi setelah Soekarno meminta istri Hanafi untuk membujuk suaminya.
Akhirnya Hanafi pun menerima jabatan itu. (1) (2)
Baca: Affandi Koesoema
Gerakan 30 September 1965
Pasca terjadinya Gerakan 30 September 1965 atau G30S/PKI, tampuk kepemimpinan Soekarno digantikan Soeharto.
Di masa pemerintahan Soeharto atau dikenal dengan Orde Baru, AM Hanafi diminta untuk pulang ke Indonesia.
Namun AM Hanafi menolak karena ia menganggap pemerintahan Soeharto itu tidak sah.
Atas dasar itu akhirnya Soeharto pun mencabut paspor milik AM Hanafi sehingga ia menjadi eksil atau tidak memiliki kewarganegaraan.
Meski begitu, AM Hanafi masih beruntung lantaran Pemimpin Kuba, Fidel Castro tetap memperlakukan AM Hanafi tetap sebagai duta besar.
Bahkan selama lima tahun biaya hidup keluarga AM Hanafi ditanggung oleh pemerintah Kuba.
Karena telah lama menerima bantuan dari Pemerintah Kuba, Hanafi merasa tidak enak hati dan memutuskan untuk ke Perancis.
Kala itu pemerintah Perancis banyak menampung para eksil dari Indonesia.
Di sana Hanafi membuka restoran Indonesia "Jakarta-Bali", akan tetapi restoran itu tidak bisa maju lantaran KBRI melarang orang Indonesia makan di restoran miliknya.
Orang Indonesia yang makan di restorannya itu akan dicap sebagai Komunis. (1)
Baca: Musso
Meninggal Dunia
Karena restoran miliknya tidak berkembang, AM Hanafi pun akhirnya memutuskan untuk menjadi pengajar Bahasa Indonesia di sekolah dan kampus.
Pada 2 Marey 2004, AM Hanafi meninggal dunia di Paris, Perancis.
Sebelum meninggal, ia berwasiat agar jenazahnya dimakamkan di Indonesia.
Oleh karenanya jenazahnya pun dibawa pulang ke Indonesia.
Pada 10 Maret 2004, jenazahnya tiba di Indonesia dan dimakamkan di TPU Tanah Kusir. (1)
(TribunnewsWiki.com/Bangkit N)