Lantaran Wajah dan Tubuh Tidak Tertutup, Taliban Melarang Kaum Wanita Terjun ke Bidang Olahraga

Penulis: Shin PuanMaharani
Editor: Natalia Bulan Retno Palupi
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

ILUSTRASI - Kaum wanita Taliban

TRIBUNNEWSWIKI.COM - Wakil Kepala Komisi Budaya Taliban, Ahmadullah Wasiq baru saja mengeluarkan aturan baru khusus bagi para wanita.

Aturan tersebut berupa larangan bagi kaum wanita untuk terjun ke bidang olahraga.

Wasiq berpendapat bahwa tidak sepantasnya para wanita menggeluti dunia olahraga.

Ia mengatakan tidak pantas dan tidak perlu kaum wanita terjun ke dunia olahraga.

Salah satu bidan olahraga tersebut ialah kriket.

"Saya rasa para wanita tidak boleh bermain kriket lantaran tidak termasuk hal yang wajib," jelas Ahmadullah Wasiq.

Penonton menyaksikan pertandingan uji coba kriket Twenty20 yang dimainkan antara dua tim Afghanistan 'Pembela Perdamaian' dan 'Pahlawan Perdamaian' di Stadion Kriket Internasional Kabul di Kabul pada 3 September 2021. Wanita Afghanistan, termasuk tim kriket nasional wanita, akan dilarang memainkan permainan olahraga di bawah pemerintahan Taliban yang baru. (Aamir QURESHI/AFP)

Baca: Taliban

Baca: Pakai Burka dan Mengaku Taat, Puluhan Pasukan SAS Inggris Tipu Taliban untuk Melarikan Diri

“Dalam kriket, mereka mungkin menghadapi situasi di mana wajah dan tubuh mereka tidak tertutup. Islam tidak mengizinkan wanita untuk dilihat seperti ini," katanya.

“Ini adalah era media, dan akan ada foto dan video, dan kemudian orang-orang menontonnya. Islam dan Imarah Islam (Afghanistan) tidak mengizinkan wanita bermain kriket atau olahraga yang membuat mereka terekspos,” imbuh Wasiq.

Selain aturan baru tersebut, Taliban juga mendeklarasikan sebuah pemerintahan baru.

Lantaran itulah, pejabat perdana menteri baru Afganistan meminta mantan pejabat yang melarikan diri untuk segera kembali ke negara tersebut.

Taliban mengklaim bahwa akan melindungi dan memberikan keselamatan bagi mereka yang melarikan diri.

Mullah Mohammad Hasan Akhund yang menjabat sebagai Perdana Menteri Afganistan memaparkan, pemerintah akan menjamin keamanan lembaga bantuan kemanusiaan, diplomat, dan kedutaan besar.

Pejuang Taliban berjaga di luar bandara di Kabul pada 31 Agustus 2021, setelah AS menarik semua pasukannya keluar dari negara itu untuk mengakhiri perang 20 tahun yang brutal -- perang yang dimulai dan diakhiri dengan kekuasaan kelompok Islam garis keras. (Wakil KOHSAR / AFP)

Baca: Taliban Dituduh Bunuh Polwan Afghanistan yang Hamil 6 Bulan di Depan Keluarganya

Baca: Hari Pertama Kehidupan Afghanistan di Bawah Taliban : Tumbuhkan Janggut, Pecat Karyawan Wanita

Mullah juga menegaskan bahwa Taliban ingin berbenah menjadi lebih baik lagi kedepannya serta kuat dengan negara-negara di kawasan sekitarnya.

“Kami telah menderita kerugian besar dalam uang dan nyawa untuk momen bersejarah ini dalam sejarah Afghanistan, tahap pertumpahan darah, pembunuhan, dan penghinaan terhadap orang-orang di Afghanistan telah berakhir, dan kami telah membayar mahal untuk ini," jelasnya.

Mullah Mohammada Hasan Akhund meyakinkan kembali janji amnesti Taliban yaitu pengampunan masal bagi siapa saja yang telah bekerja bagi Amerika Serikat dan pemerintah yang didukungnya setelah invasi 2001.

“Oleh karena itu, saya meyakinkan bangsa Islam, khususnya rakyat Afghanistan, bahwa kami menginginkan semua kebaikan, penyebab kesuksesan dan kesejahteraan, dan kami berusaha untuk membangun sistem Islam,” terang Mullah.

Akhund pun menghimbau semua orang untuk turut serta membangun Taliban menjadi lebih baik dan positif kedepannya.

(TRIBUNNEWSWIKI.COM/PUAN)

Baca lengkap soal Taliban di sini



Penulis: Shin PuanMaharani
Editor: Natalia Bulan Retno Palupi

Berita Populer