Sebanyak 22 orang dari 73 korban selamat dari insiden tersebut menjadi saksi.
Kombes Pol Yusri Yunus menjelaskan, 22 saksi tersebut terdiri dari tahanan petugas Lapas yang sedang bertugas saat insiden itu terjadi serta pendamping warga binaan yang terbagi menjadi 3 cluster.
“Arahnya untuk mengetahui keterangan dari mereka semua,” tutur Yusri dalam jumpa pers di RS Polri, Kramat Jati, Jakarta Timur, Kamis (9/9/2021).
Pemeriksaan itu juga bertujuan untuk mengungkap sumber api penyebab kebakaran di Lapas Kelas I Tangerang.
Baca: Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas 1 Tangerang
Baca: Keluarga Korban Lapas Tangerang Berlinang Air Mata Datangi RS Polri : Semoga Bukan Adik Saya
Yusri mengungkapkan adanya unsur kelalaian dalam insiden yang menewaskan 41 napi tersebut.
“Arah kesana sudah ada (indikasi), tapi masih dilakukan pengujian secara laboratoris titik api tersebut,” kata Yusri.
Ia meminta masyarakat untuk tetap tenang dan tidak menerka-nerka penyebab utama insiden kebakaran itu.
Pihaknya bersama Pusat Laboratorium Forensik (Puslabfor) INAFIS saling bekerjasama mencari penyebab kebakaran yang terjadi di Lapas Kelas I Tangerang.
"Kami tim sedang bekerja akan kami sampaikan hasil dari penyidik maupun Puslabfor," imbuhnya.
Seluruh korban meninggal dalam insiden itu diidentifikasi oleh Tim Disaster Victim Indentification (DVI) Rumah Sakit (RS) Polri, Kramat Jati, Jakarta Timur.
Total sebanyak 41 narapidana kasus narkotika tewas dilahap si jago merah.
Baca: Kronologi Kebakaran yang Terjadi di Lapas Kelas I Tangerang, Banten
Baca: Berikut Identitas 41 Korban yang Tewas dalam Kebakaran di Lapas Kelas I Tangerang
Hingga siang tadi, Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karopenmas) Divisi Humas Mabes Polri Brigjen Pol Rusdi Hartono mengatakan ada 35 keluarga korban yang sudah mendatangi posko Antemortem RS Polri, Kramat Jati, Jakarta Timur.
Namun dari 35 keluarga tersebut baru 31 di antaranya yang sudah menyerahkan hasil test DNA guna identifikasi korban meninggal.
"Kemudian juga 35 keluarga telah datang ke Pos Antemortem, telah memberikan datanya dan dan sampai saat ini tim telah memiliki 31 sampel DNA," papar Yusri saat jumpa pers di RS Polri, Kramat Jati, Jakarta Timur, Kamis (9/9/2021).
Rusdi mengungkapkan, pada Kamis (9/9/2021) pukul 13.00 WIB ada 1 korban meninggal dunia yang berhasil teridentifikasi bernama Rudhi alias Cangak bin Ong Eng Cue.
"Hari ini pukul 13.00 tadi tim DVI melakukan rekonsiliasi dan teridentifikasi 1 korban atas nama Rudhi bin Ong Eng Cue, yaitu laki-laki berumur 43 tahun," kata Rusdi.
Korban berhasil diidentifikasi melalui persamaan sidik jari dan rekam medisnya.
"Korban teridentifikasi berdasarkan sidik jari dan juga rekam medis dari yang bersangkutan," terangnya.
Brigjen Pol Mashudi selaku Kepala Pusat INAFIS Polri memaparkan ada 12 sidik jari korban yang sesuai dengan data yang tersimpan di Dukcapil.
Baca lengkap soal vaksin COVID-19 di sini