Informasi Awal
TRIBUNNEWSWIKI.COM – The Grand Palace adalah sebuah bangunan tua yang menyimpan peninggalan sejarah Thailand.
Dapat dikatakan, tempat ini merupakan salah satu destinasi wisata sejarah di Thailand.
Bangunan ini sangat megah, ditambah dibalut dengan warna keemasan pada hampir seluruh bangunannya.
Phara Borom Maha Ratcha Wang merupakan nama bangunan ini dalam bahasa Thailand dan merupakan tempat tinggal para raja Siam.
Bangunan yang juga menjadi gedung administratif pemerintah ini sudah berdiri sejak tahun 1782 hingga 1925.
Luas bangunan yang terletak di dekat Sungai Chao Phraya ini sekitar 218.400 meter persegi dan dikelilingi tembok tinggi sepanjang 1,9 kilometer.
The Grand Palace ini terbagi menjadi tiga bagian, yaitu bagian depan, tengah, dan dalam.
Pada bagian depan digunakan sebagai kantor, sedangkan bagian tengah terbagi lagi menjadi tiga ruang yang dipakai raja untuk mengerjakan tugas negara.
Namun, hanya dua ruang yang dibuka untuk umum.
Selain menjadi destinasi wisata, tempat ini juga dipakai sebagai tempat ibadah untuk umat Buddha. (1)
Baca: Pasar Chatuchak
Sejarah
Pada saat Raja Buddha Yodfa Chulaloke (Rama I) memberi keputusan pemindahan Ibu Kota Siam dari Thonburi bagian barat Bangkok ke tepi Timur sungai Chao Phraya, ia menginginkan istana besar dan megah sebagai kediaman raja dan pusat pemerintahan.
Namun, saat itu, kawasan tersebut ditempati oleh pedagang China, sehingga raja memberi pemerintah untuk mengosohkan lahan dan memindahkan para pedagang Cina ke daerah Yaowarat.
Pada 6 April 1782, dimulailah pembangunan istana tersebut.
Awalnya, istana itu hanya terdiri atas beberapa bangunan kayu dengan pagar benteng tinggi yang berada di empat sisi.
Benteng yang berukuran 1.500 meter ini dengan kawasan tertutup seluas 218.400 meter persegi.
Kemudian, raja memerintahkan pembangunan Kuil Buddha Zamrud (Wat Phra Kaew) sebagai kuil probadi keluarga raja sekaligus kuil kerajaan,
Setelah pembangunan selesai, pada tahun 1785, raja mengadakan upacara penobatan.
Istana ini menjadi pusat pemerintahan Rattanakosin dan istana kerajaan sejak awal masa wangsa Chakri hingga masa pemerintahan Raja Chulalongkorn (Rama V).
Raja Chulalongkorn kemudian tinggal di Istana Dusit, tetapi istana ini tetap sebagai istana utama dan pusat pemerintahaan.
Kemudian, putra-putranya, yaitu Rama Vi dan Rama VII, ikut serta.
Raja Ananda Mahidol (Rama VIII) pindah ke istana ini setelah kembali dari luar negeri pada tahun 1945.
Namun, sejak kematiannya, penerus sekaligus adiknya, yaitu Raja Bhumibol Adulyadej (Rama IX), memutuskan untuk pindah ke Istana Chitralada.
Walau sudah tidak ditempati oleh raja, istana ini masih dipakai sebagai tempat upacara dan ritual kerajaan, seperti penobatan, pemakaman, pernikahan, dan jamuan kerajaan. (2)
Baca: Istana Deoksugung
Daya Tarik
Terdapat bagian penting yang tak boleh terlewatkan ketika berkunjung ke istana ini.
Tempat ini berfungsi sebagai tempat pemakaman bagi raja, ratu dan anggota keluarga kerajaan.
Awalnya, tempat ini terbuat dari kayu, tetapi sayangnya pada tahun 1789 tempat ini terbakar.
Kini, selain menjadi tempat istirahat yang terakhir bagi raja, tempat ini juga digunakan untuk upacara peringatan hari konsiliasi tahunan.
Terdapat pula Wat Phra Kaew yang didekor dengan kaca mosaik berwarna emas.
Tempat ini juga merupakan Kuil Buddha Zamrud.
Wat Phra Kaew yang dibangun pada masa Raja Rama I ini mengusung gaya arsitektur periode Ayudhaya.
Tempat ini difungsikan sebagai tempat upacara penobatan yang sudah diawali sejak tahun 1785.(3)
Baca: Istana Gebang
Hal yang Harus Diperhatikan
Ada satu hal yang harus diperhatikan ketika berkunjung ke Istana Raja satu ini, yaitu pakaian.
Laki-laki diharuskan menggunakan pakaian berlengan dan tidak boleh memakai kaos, serta bercelana panjang.
Perempuan tidak boleh menggunakan tanktop atau pakaian tembus pandang dan dilarang memakai rok pendek maupun celana pendek.
Saat memasuki kuil Wat Phra Kaew, pengunjung diharuskan memakai kaos kaki dan tidak boleh berfoto.
Pengunjung yang tidak taat aturan tidak diperbolehkan masuk.
Namun, di dekat pintu masuk telah disediakan pakaian tertutup untuk dipakai yang tentu ada biaya tambahannya. (4)
Baca: Istana Dolmabahce