Informasi Awal
TRIBUNNEWSWIKI.COM- Aman Dimot adalah seorang tokoh pejuang kemerdekaan asal Aceh.
Pada tanggal 30 Juli 1949, Aman Dimot ikut serta dalam pasukan Bagura.
Bahkan, mujahidin asal Aceh Tengah di bawah pimpinan Ilyas Leube itu dan sejumlah 45 orang di sekitar Sumatra Utara ikut menyerang tank dan 25 truk Belanda saat Agresi Militer Belanda I.
Aman Dimot dirumorkan kebal peluru dan gilasan tank.
Aman Dimot lahir di Tenamak, Linge, Aceh, pada 1920 dan wafat di Rajamerahe, Sukaramai, Karo, Sumatra Utara pada 30 Juli 1949. (1)
Baca: Sir Alex Ferguson
Kehidupan Pribadi
Dahulu, Aman Dimot di bawah pimpinan Ilyas Leube berperang dengan cara yang unik, yaitu dengan menghadang tank dan truk pasukan Belanda.
Aman Dimot juga dianggap kebal dan memiliki ilmu kanuragan karena tidak akan tergores ataupun disabet pedang dan tidak akan tembus peluru. (2)
Baca: Letnan Komarudin
Gelar
Nama Aman Dimot harum di tengah kalangan masyarakat Gayo di Kabupaten Aceh Tengah, Bener Meriah dan Gayo Lues, karena kisah heroik perjuangannya.
Selain berjuang di daerahnya, Aman Dimot juga berjuang agar Belanda tidak masuk ke Aceh dari jalur Tanh Karo, Sumatera Utara.
Pemerintah Aceh Tengah telah mengusulkan nama Aman Dimot sebagai pahlawan nasional, bersanding dengan nama besar pahlawan Aceh lainnya, seperti Cut Nyak Dien, Panglima Polim, dan lain sebagainya.
Namanya telah disodorkan kepada Kementerian Sosial. Namun, hingga kini belum berhasil.
Harapannya adalah Aman Dimot diberi gelar pahlawan nasional. (2)
Baca: Takehiro Tomiyasu
Ditangkap Belanda
Pada pertempuran, Aman Dimot terus mengejar pasukan Belanda dengan pedang.
Namun, pasukan Belanda bingung karena senjata yang mereka miliki tidak berpengaruh sama sekali kepada Aman Dimot.
Pada akhirnya, Aman Dimot kelelahan dan ditangkap oleh Belanda.
Pasukan marsose pun menyerah karena tidak mampu membunuh Aman Dimot dengan senjata, akhirnya memasukkan granat ke dalam mulut sang pejuang.
Tidak hanya itu, pasukan Belanda pun menggilas tubuh Pang Aman Dimot dengan tank.
Aman Dimot gugur pada tanggal 30 Juli 1949 di Rajamerahe, Sukaramai, Karo, Sumatera Utara.
Beberapa tahun kemudian, kuburannya dipindahkan ke Tiga Binanga dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kabanjahe, Sumatera, Utara. (3)
Baca: FAA (Federal Aviation Administration)