Informasi Awal
TRIBUNNEWSWIKI.COM - Dr. Gerungan Saul Samuel Jacob Ratulangi atau dikenal dengan nama Sam Ratulangi merupakan seorang politikus, jurnalis, guru dan Gubernur Sulawesi Utara pertama.
Salah satu Pahlawan Nasional Indonesia ini dilahirkan di Tondano, Sulawesi Utara, pada tanggal 5 November 1890.
Sam Ratulangi juga sering disebut sebagai tokoh multidimensional yang dikenal dengan filsafatnya: "Si tou timou tumou tou", artinya: manusia baru dapat disebut sebagai manusia, jika sudah dapat memanusiakan manusia.
Ratulangi juga merupakan anggota Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia yang menghasilkan Undang-Undang Dasar Republik Indonesia.
Dr. Gerungan Saul Samuel Jacob Ratulangi menghembuskan napas terakhirnya di Jakarta, 30 Juni 1949 ketika menginjak usia 58 tahun, (1)
Baca: Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI)
Baca: Machmud Singgirei Rumagesan
Masa Muda
Sam Ratulangi merupakan putra dari pasangan Jozias Ratulangi dan Augustina Gerungan.
Jozias merupakan seorang guru di Hoofden School (sekolah menengah untuk anak-anak dari kepala-kepala desa) di Tondano.
Ia menerima pelatihan guru di Haarlem, Belanda sekitar tahun 1880.
Sedangkan Augustina ialah putri dari Jacob Gerungan, Kepala Distrik (Mayoor) Tondano-Touliang.
Sam Ratulangi menempuh pendidikan pertamanya di sekolah dasar Belanda (Europeesche Lagere School), kemudian ia melanjutkan studinya di Hoofden School di Tondano.
Pada tahun 1904, Ratulangi bertolak ke Jawa untuk masuk dalam Sekolah Pendidikan Dokter Hindia (STOVIA) usai memperoleh beasiswa dari sekolah tersebut.
Tetapi setibanya di Batavia, ia berubah pikiran dan memutuskan untuk belajar di sekolah menengah teknik Koningin Wilhelmina.
Kemudian, ia berhasil lulus pada tahun 1908 dan mulai bekerja di konstruksi rel kereta api di daerah Priangan selatan, Jawa Barat.
Di sana, ia mendapat perlakuan tidak adil dalam urusan upah dan penginapan karyawan dibandingkan dengan karyawan Indo (Eurasia). (1)
Baca: STOVIA (School tot Opleiding van Inlandsche Artsen)
Kiprah
Pada tahun 1912, Ratulangi bertolak ke Amsterdam untuk melanjutkan pendidikannya selama dua tahun.
Namun, ia tidak diberi izin untuk mengikuti ujian lantaran ia tidak memiliki sertifikat tingkat SMA.
Kemudian, ia memutuskan mendaftarkan diri dan diterima di Universitas Zurich di Swiss.
Selama di Amsterdam, Sam sering bertemu dengan Sostro Kartono, kakak dari RA Kartini dan tiga pendiri Indische Partij, yakni Douwes Dekker, Cipto Mangunkusumo, dan Soewardi Suryaningrat.
Ia pun aktif dalam organisasi Perhimpunan Indonesia (Indische Vereeniging), yang bertujuan untuk memajukan kepentingan bersama dari orang-orang yang berasal dari Indonesia.
Pada 1914, Ratulangi dipilih sebagai ketua Perhimpunan Indonesia.
Selama masa kepemimpinannya, ia aktif menulis berbagai artikel, termasuk artikel bertajuk Sarekat Islam yang diterbitkan di Onze Kolonien (1913).
Artikel tersebut berisi tentang pertumbuhan koperasi pedagang lokal Sarekat Islam dan juga memuji gerakan Budi Utomo.
Sekembalinya ke Indonesia pada tahun 1919, Ratulangi dipindah ke Yogyakarta untuk mengajar matematika dan sains di sekolah teknik Prinses Juliana School.
Tiga tahun kemudian, Sam bersama Roland Tumbelaka, seorang dokter asal Minahasa, mulai merintis perusahaan asuransi yang diberi nama Assurantie Maatschappij Indonesia.
Pada tahun 1923, Sam terpilih untuk menjabat sebagai sekretaris badan perwakilan Partai Perserikatan Minahasa di Manado selama periode 1924 hingga 1927.
Baca: Perhimpunan Indonesia (Indonesische Vereeniging)
Baca: 17 AGUSTUS – Serial Sejarah Nasional: Indische Partij
Pada awal bulan Agustus 1945, Ratulangi diangkat sebagai anggota PPKI yang mewakili daerah Sulawesi.
Sesudah proklamasi kemerdekaan Indonesia yang dikumandangkan oleh Soekarno, keesokan harinya PPKI menyelenggarakan rapat.
Rapat tersebut turut dihadiri Sam Ratulangi dan menghasilkan Undang-Undang Dasar Republik Indonesia. (2)
Akhir Hidup
Pada masa Agresi Militer Belanda II, wilayah Yogyakarta berhasil dikuasai oleh pihak Belanda, hingga Soekarno-Hatta pun ditangkap dan diasingkan ke Bangka.
Ratulangi sendiri juga ditangkap oleh Belanda pada tanggal 25 Desember 1948, lalu dipindahkan ke Jakarta dan kemudian ke Bangka, pada 12 Januari 1949,
Namun, lantaran mempunyai masalah kesehatan, ia pun diizinkan untuk tinggal di Jakarta sebagai tahanan rumah.
Sam Ratulangi kemudian menutup usia pada 30 Juni 1949, kemudian jenazahnya dimakamkan sementara di Tanah Abang.
Pada 23 Juli 1949, jasadnya dibawa ke Manado dengan kapal KPM Swartenhondt dan tiba di tujuan pada 1 Agustus 1949.
Keesokan harinya, jenazah Sam pun dimakamkan di kampung halamannya di Tondano.
Atas jasa-jasanya, ia kemudian dianugerahi gelar Pahlawan Nasional Indonesia oleh presiden Soekarno pada Agustus 1961.
Kemudian pada 2016, Kementerian Keuangan mengeluarkan uang Rp 20.000 seri 2016, dengan gambar wajah Sam Ratulangi di bagian depan.
Selain itu, nama Sam Ratulangi pun diabadikan menjadi nama bandar udara di Manado, yakni Bandara Sam Ratulangi. (2)
Baca: Agresi Militer Belanda II