Informasi Awal
TRIBUNNEWSWIKI.COM - Zuhud adalah meninggalkan kepentingan dunia untuk mengejar akhirat.
Secara bahasa "zuhud" berarti meninggalkan, dan kata "zahada" bermakna sedikit pada segala sesuatu.
Para ulama mengatakan bahwa, zuhud adalah berpindah dari suatu hal yang berlebihan ke hal yang lebih baik.
Selain itu, zuhud juga termasuk dalam meninggalkan yang haram dan makruh hingga mubah. Karena hal ini dapat melalaikan akhirat dan amal saleh. (1)
Baca: Nafkah
Makna
Zuhud memiliki tiga makna, yakni:
Seorang yang zuhud meyakini bahwa rezekinya berada di tangan Allah, karena Allah telah mengatur jatah rezeki setiap hamba-Nya, sebagaimana firman-Nya:
وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الأرْضِ إِلا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا (٦)
“Dan tidak ada suatu binatang melata[709] pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezkinya [Huud: 6].
Dia juga berfirman,
وَفِي السَّمَاءِ رِزْقُكُمْ وَمَا تُوعَدُونَ (٢٢)
“Dan di langit terdapat (sebab-sebab) rezekimu dan terdapat (pula) apa yang dijanjikan kepadamu [Adz Dzaariyaat: 22].
فَابْتَغُوا عِنْدَ اللَّهِ الرِّزْقَ وَاعْبُدُوهُ (١٧)
“Maka mintalah rezeki itu di sisi Allah, dan sembahlah Dia [Ankabuut: 17].
Hal ini membuat setiap orang meyakini bahwa segala urusannya telah diatur Allah, yakni ridha terhadap segala peraturan-Nya, tidak berharap kepada makhluk dan tidak berharap mencari dunia dengan perbuatan yang dibenci.
Maka setiap orang dengan demikian sesungguhnya dia telah bersikap zuhud terhadap dunia.
Dia termasuk orang yang kaya meski tidak memiliki secuil harta dunia sebagaimana yang dikatakan oleh ‘Ammar,
كَفَى بِالْمَوْتِ وَاعِظًا، وَكَفَى بِالْيَقِينِ غِنًى، وَكَفَى بِالْعِبَادَةِ شُغُلًا
“Cukuplah kematian sebagai nasehat, yakin kepada Allah sebagai kekayaan, dan ibadah sebagai kesibukan.” [Diriwayatkan Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman (10556) dari ‘Ammar bin Yasar secara marfu’].
Apalagi seorang hamba yang tertimpa musibah, seperti kehilangan harta, anak. Maka orang itu lebih senang memperoleh pahala atas hilangnya hal tersebut daripada hal itu tetap berada di sampingnya.
Hal ini muncul dari rasa keyakinannya kepada Allah.
Diriwayatkan dari ‘Ibnu ‘Umar bahwa nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata dalam do’anya,
اَللَّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَاتَحُوْلُ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعْصِيَتِكَ وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَابِهِ جَنَّتَكَ وَمِنَ الْيَقِيْنِ مَاتُهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا مَصَائِبَ الدُّنْيَا
“Ya Allah, anugerahkan kepada kami rasa takut kepada-Mu yang membatasi antara kami dengan perbuatan maksiat kepadamu dan berikan ketaatan kepada-Mu yang mengantarkan kami ke surga-Mu dan anugerahkan pula keyakinan yang akan menyebabkan ringan bagi kami segala musibah di dunia ini.” [HR. Tirmidzi (3502); An Nasaai dalam ‘Amalul Yaum wal Lailah (402); Al Hakim (1/528); Al Baghawi (1374). At Tirmidzi mengatakan, “Hadits hasan gharib”].
Do’a tersebut merupakan tanda zuhud dan minimnya kecintaan kepada dunia sebagaimana yang dikatakan oleh ‘Ali radhiallahu ‘anhu,
مَنْ زَهِدَ الدُّنْيَا، هَانَتْ عَلَيْهِ الْمُصِيبَاتُ
“Barangsiapa yang zuhud terhadap dunia, maka berbagai musibah akan terasa ringan olehnya.”
Apabila seorang hamba memandang sama kepada orang yang memuji dan mencelanya, saat dirinya berada di atas kebeneran.
Hal ini merupakan tanda bahwa dirinya zuhud terhadap dunia, yang menganggap sebagai sesuatu yang remeh dan minimnya kecintaan dirinya kepada dunia.
Karena orang yang mengagungkan dunia akan cinta kepada pujian dan benci pada celaan.
Terkadang hal itu menggiring dirinya untuk tidak mengamalkan kebenaran karena takut celaan dan melakukan berbagai kebatilan karena ingin pujian.
Kendati demikian, setiap orang yang memandang sama tidak akan mempengaruhi hatinya untuk memamerkan jabatannya karena hatinya telah dipenuhi rasa cinta kepada Allah.
Hal ini seperti dikatakan oleh ibnu Mas'ud
الْيَقِينُ أَنْ لَا تُرْضِيَ النَّاسَ بِسُخْطِ اللَّهِ
“Yakin itu adalah engkau tidak mencari ridha manusia dengan cara menimbulkan kemurkaan Allah. Dan sungguh Allah telah memuji mereka yang berjuang di jalan-Nya dan tidak takut akan celaan.” (2)
Baca: Tabiin
Perbedaan Zuhud dan Wara'
Para ulama membedakan Zuhud dan Wara' sebagai berikut:
Zuhud adalah orang yang sudah mendapatkannya, namun orang itu tidak menganggap penting.
Ini yang disebut sebagai zuhud sejati, karena seorang hamba yang telah memiliki harta yang sudah ada di tangannya, namun ia tidak memandang nilainya dan tidak tertarik dengan dunia, hanya tertarik dengan akhirat.
Sedangkan Wara' adalah menahan diri untuk tidak meraih, artinya seorang hamba sudah meninggalkannya sebelum berada di tanggannya. (3)
Baca: Piagam Madinah