Informasi Awal
TRIBUNNEWSWIKI.COM- Syaibah bin Hasyim atau dikenal Abdul Muthalib adalah kakek Nabi Muhammad SAW sekaligus salah satu sosok yang bersejarah di kehidupan Rasulullah SAW.
Abdul Muthalib dibesarkan oleh pamannya Muthalib bin Abdul Manaf.
Beliau dikenal dengan julukan Abdul Muthalib, ketika Muthalib dan Syaibah berpergian dengan hewan tunggangannya kemudian masyarakat mengira bahwa keponakannya itu sebagai budaknya Muthalib.
Nasabnya ialah Syaibah bin Hasyim bin Abdu Manaf bin Qushayy bin Kilab bin Murrah bin Ka'b bin Lu'ayy bin Ghalib bin Fihr bin Mālik bin an-Nadhr bin Kinānah bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudhar bin Nizār bin Ma'd bin 'Adnan.
Saat pamannya meninggal, Abdul Muthalib mengagantikan posisi pamannya sebagai Suku Quraisy.
Selain itu, beliau menghadapi Abrahah ketika hendak menghancurkan Ka'bah. (1)
Baca: Abu Bakar Ash-Shiddiq
Satu di Antara Petinggi Suku Quraisy.
Bahkan, Abdul Muthalib mempunyai nazar untuk mengorbankan anak terakhirnya jika genap berjumlah sepuluh orang.
Akhirnya Abdul Muthalib tak kuasa untuk mengorbankan anak terakhir.
Melainkan, Abdullah bin Abdul Muthalib adalah ayah Rasulullah SAW yang nyaris hendak dikorbankan.
Abdul Muthalib menangis, karena tak tega jika putra kesayangannya di sembelih.
Bahkan hatinya terasa kecewa seperti betapa pilunya Nabi Ibrahim dikala itu. (2)
Baca: Abu Salamah
Wafat
Abdul Muthalib sangat menyayangi Nabi, ketika melihat cucunya sebagai yatim piatu saat berziarah dari Madinah, hatinya merasa begitu sedih.
Abdul Muthalib langsung mengatakan bahwa ia akan merawat Nabi dan menjadi benteng pelindung bagi cucunya.
Beliau bagaikan oase di tengah gurun yang tandus, di tengah kerasnya suku-suku yang ada, beliau juga memiliki sifat yang lembut dan berwibawa.
Namun, kebersamaanya tak berlangsung lama karena dua tahun lebih dua bulan setelahnya, Abdul Muthalib meninggal dunia.
Pada saat itu, Rasulullah SAW berusia delapan tahun dan beliau menangis hingga ke pamakaman.
Karena bagi Nabi, Abdul Muthalib adalah kakek yang baik dan berjasa dalam hidupnya.
Bahkan melindungi dan memperhatikan Nabi sejak lahir.
Sebelum meninggal, Abdul Muthalib telah menitipkan hak asuh Nabi kepada pamannya, Abu Thalib.
Pada saat itu, Nabi akhirnya hidup bersama dengan pamannya. (3)
Baca: Abu Lahab