Benteng Fort Du Bus

Editor: Febri Ady Prasetyo
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Benteng Du Bus adalah sebuah benteng yang berdiri dan diresmikan pada tanggal 24 Agustus 1828, bertepatan dengan hari ulang tahun Raja Belanda Willem III, di Desa Lobo, Kabupaten Kaimana, Papua Barat.


Daftar Isi


  • Informasi Awal


TRIBUNNEWSWIKI.COM - Benteng Du Bus adalah sebuah benteng yang berdiri dan diresmikan pada tanggal 24 Agustus 1828, bertepatan dengan hari ulang tahun Raja Belanda Willem III, di Desa Lobo, Kabupaten Kaimana, Papua Barat.

Nama “du Bus” sendiri merupakan nama dari seorang Gubernur Jenderal Hindia Belanda yang berkuasa pada masa itu, yakni Burggraaf du Bus de Gisignies.

Tujuan didirikannya benteng ini adalah menghalau gerakan pasukan kolonial Inggris dari arah selatan (Australia).

Namun, sayangnya benteng ini hanya sempat beroperasi selama delapan tahun, yakni hingga tahun 1835. 

Benteng Du Bus berheti beroperasi disebabkan munculnya berbagai macam penyakit berbahaya yang berpotensi besar mengakibatkan kematian.

Pihak kolonial pun dengan terpaksa memutuskan untuk mengosongkan dan meninggalkan benteng ini.

Awalnya, bentuk fisik dari Benteng Du Bus tetap bertahan, hingga akhirnya benar-benar dihancurkan pada tahun 1836.

Di atas area Benteng Du Bus berdiri sebuah tugu yang menjadi saksi bisu dari sejarah pendudukan pihak kolonial di daerah tersebut. (1)

Léonard Pierre Joseph du Bus de Gisignies - Gubernur Jenderal Hindia Belanda (4 Februari 1826 sampai dengan 16 Januari 1830) (Wikipedia)

Baca: Benteng Kuto Besak Palembang

Baca: Benteng Kedung Cowek

  • Latar Belakang


Sebelum memasuki abad ke-19, New Guinea Belanda (Nederlandsche Nieuw Guinea) diperintah oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda yang berkedudukan di Maluku.

Walaupun pesisir pulau ini sudah dipetakan sejak tahun 1825 oleh Lieutenant Commander D.H. Kolff.

Namun, belum ada upaya serius untuk membangun pemukiman permanen di New Guinea Belanda.

Di sisi lain, Inggris menunjukkan minat tinggi terhadap daerah tersebut sehingga mulai mengancam untuk mendudukinya.

Dalam mengatasi situasi tersebut, Gubernur Maluku Pieter Merkus, mendesak pemerintah kolonial agar membangun pos-pos di sepanjang pantai.

Kemudian dikeluarkanlah surat persetujuan raja Belanda pada 31 Desember 1827, disusul dengan keberangkatan sebuah tim ekspedisi kecil pada 18 April 1828.

Tim ini dipimpin oleh Lieutenant Jan Jacob Steenboom, dilengkapi dengan dua kapal, korvet Triton dan sekunar (schooner) Iris, dari pelabuhan Ambon (Maluku) untuk mencari lokasi yang sesuai untuk membangun pemukiman.

Lieutenant Commander C.J. Boers turut bergabung dalam tim untuk melakukan observasi-observasi nautikal bersama lima orang ahli biologi, yakni Dr. H.C. Macklot (ahli zoologi), Gerrit van Raalten (taxidermis), Pieter van Oort (artis), Salomon Müller (ahli zoologi/botani), dan Alexander Zippelius (botani).

Setelah berhenti di Banda pada 25 April 1828, Triton dan Iris melanjutkan pelayaran ke Selat Dourga dan Sungai Oetanata, namun tidak dipilih karena berawa dan berkarang.

Di suatu lokasi yang tidak dirinci, beberapa perwira dan prajurit terluka akibat serangan penduduk asli, sehingga Lieutenant Steenboom akhirnya memutuskan memilih lokasi yang layak di hulu teluk yang tertutup, pada awal bulan Juli 1828.

Ia lalu segera menamai lokasi tersebut sebagai Teluk Triton (3°42’ Lintang Selatan dan garis meridian 134°15’4” Bujur Timur), yang terletak di timur lokasi yang sekarang menjadi kota Kaimana.

Sementara itu, penduduk asli teluk menyebut teluk tersebut sebagai Uru Lengguru. (2)

Baca: Benteng Belgica Maluku

Baca: Benteng Rotterdam

  • Pembangunan Pos


Selama dua bulan, kapal-kapal Triton dan Iris berlabuh, dengan para awaknya yang membantu para pemukim membangun beberapa bangunan kecil yang dikelilingi oleh pagar kayu runcing.

Pada 24 Agustus 1828, yang juga bertepatan dengan ulang tahun Raja Willem I dari Belanda, bendera triwarna Belanda resmi dikibarkan sekaligus diumumkannya diumumkan klaim Belanda atas New Guinea.

Berikut bunyi dari klaim tersebut: “Atas nama dan untuk Sri Baginda Raja Nederland, Pangeran Oranje van Nassau, Hertog Agung Luxemburg dan seterusnya, bagian dari Nieuw Guinea, serta daerah-daerah di pedalaman yang mulai pada garis meridian 141° sebelah timur Greenwich di pantai selatan."

"Dan dari tempat tersebut ke arah barat, barat daya dan utara sampai ke Tanjung Harapan Baik di pantai utara, selain daerah-daerah Mansarai, Karondefer, Amberpura dan Ambarpon yang dimiliki oleh Sultan Tidore, dinyatakan sebagai miliknya.”

Beberapa kepala suku setempat yang menyaksikan pengumuman tersebut menyatakan kesetiaan kepada Raja Willem I dari Belanda.

Upacara tersebut dianggap sebagai tanda bahwa sejak waktu tersebut Belanda memiliki kedaulatan atas wilayah yang dinyatakan dalam proklamasi itu, sehingga wilayah tersebut tidak boleh lagi ditempati oleh kekuasaan-kekuasaan Eropa lainnya.

Orang-orang Belanda di benteng ini kemudian membuka perdagangan dengan suku-suku pesisir Asmat dan pedalaman Papua, selain dengan pedagang-pedagang dari Seram yang datang dengan perahu-perahu beratap berukuran 15-30 kaki.

Mereka saling menukar (barter) berbagai barang, seperti kulit massoia, kayu-kayu beraroma, pala, teripang, burung cendrawasih, hingga sarang burung.

Sayangnya, para pemukim kemudian terjangkit berbagai penyakit, terutama malaria, terlebih mendapat serangan dari suku-suku dari Seram dan Goram.

Kemudian, pada tahun 1835, keluarlah perintah dari Ambon, untuk segera membongkar dan meninggalkan pemukiman tersebut. (2)

Baca: Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta

Baca: Benteng Fort de Kock

(TribunnewsWiki.com/Septiarani)



Nama Fort Du Bus


Peresmian 24 Agustus 1828


Lokasi Desa Lobo, Kabupaten Kaimana, Papua Barat


Tokoh Gubernur Jenderal Burggraaf du Bus de Gisignies


Sumber :


1. www.goodnewsfromindonesia.id/2021/05/24/melihat-benteng-peninggalan-kolonial-belanda-yang-tak-lekang-oleh-zaman
2. id.wikipedia.org


Editor: Febri Ady Prasetyo

Berita Populer