Informasi Awal
TRIBUNNEWSWIKI.COM - Al Biruni merupakan ilmuwan muslim yang pertama menghitung keliling bumi pada abad ke-11.
Ilmuwan dengan nama lengkap Abu Raihan Al-Biruni tersebut lahir di kota Kath (kini wilayah Uzbekistan) pada 4 September 973.
Akan tetapi publik lebih mengenal dirinya dengan Al Biruni.
Al Biruni dikenal sebagai ilmuwan yang menguasai berbagai ilmu pengetahuan.
Ilmu pengetahuan yang berhasil ia kuasai di antaranya: astronomi, astrologi, tarikh, geografi, matematika, mekanika, kedokteran, farmakologi, meteorology, mineralogy, sejarah, agama, geografi, filsafat, dan sastra.
Kala itu nama dirinya sangat masyhur baik di kalangan akademisi, kerajaan maupun masyarakat sipil.
Tidak hanya itu, para akademisi yang hidup setelah era Al Biruni pun mengapresiasi dan memberikan penghormatan kepadanya atas kontribusi Al Biruni dalam ilmu pengetahuan. (1)
Baca: Al Kindi
Karier
Al Biruni menyukai ilmu pengetahuan sejak kecil, ilmu yang ia sukai saat itu adalah astronomi dan matematika.
Setelah itu ia pun mempelajari berbagai jenis ilmu pengetahuan seperti mekanika, kedokteran, farmakologi, meteorology, mineralogy, sejarah, agama, geografi, filsafat, dan sastra.
Dalam perjalanan kariernya, Al Biruni berpindah-pindah tempat dari satu tempat ke tempat lainnya.
Awalnya ia tinggal di Dinasti Banu Irak yang berkuasa di sisi timur kota Kath.
Namun pada tahun 995 Masehi terjadi peperangan antara Dinasti Banu Irak dengan Dinasti Ma’muni.
Dinasti Ma'muni yang dipimpin oleh Abu Ali Ma’mun bin Muhammad berhasil mengalahkan Dinasti Banu Irak.
Baca: Ibnu Al-Nafis
Setelah itu Al Biruni lebih memilih untuk meninggalkan kota kelahirannya karena takut nyawanya terancam dan pergi ke kota Rayy.
Di kota Rayy ia mengembangkan dirinya dalam bidang astronomi.
Di sini ia berhasil menyelesaikan karya tulisnya yang berjudul "Tahdid Nihayat al-Amakin li Tashbih Masafat al-Masakin" yang membahas seputar kedudukan tempat untuk memastikan jarak antar kota.
Namun perpindahan itu harus terjadi lagi lantaran penguasa Rayy, Fakhrul Daulah tidak bersedia menerimanya sebagai ilmuwan di istananya.
Kemudian ia pun kembali pergi lagi, kali ini ia pindah ke Gorgon.
Di sini ia diterima oleh penguasa Gorgon yang bernama Syamsul Ma’ali Qabus.
Syamsul mendukung penuh apa yang dikerjakan oleh Al Biruni.
Di tempat ini Al Biruni sudah memulai untuk memetakan garis lintang dan menganalisa gerhana bulan.
Buah karyanya itu ia tulis menjadi buku "Risalah Tajrid al-Sha’at".
Setelah itu Al Biruni sempat kembali pulang ke Khawarizm Kath untuk memenuhi panggilan sang khalifah.
Namun pergolakan kembali terjadi, kali ini Dinasti Ghaznawi berhasil menaklukkan Dinasti Ma'muni dan memboyong Al Biruni ke istananya.
Di istana Ghaznawi, Al Biruni diberi kelonggaran untuk mengembangkan ilmu pengetahuan.
Ia menetap di sana selama 30 tahun dan akhirnya meninggal pada 1048. (2)
Baca: Ibnu Haitham
Kontribusi Al Biruni
Dalam bidang astronomi ia banyak menulis tentang pergerakan matahari dan gerhana.
Ia mulai mengamati bagaimana bumi berputar mengelilingi matahari.
Selain itu, Al Biruni telah menemukan bagaimana bumi berputar pada sumbu, dalam hal ini ia kemudian membuat perhitungan garis lintang dan bujur.
Pada 1000 Masehi, Al Biruni menuliskan teorinya dan hasil pengamatannya ke dalam buku "Al-Athar Al-Baqiya".
Pada buku tersebut ia menuliskan berbagai teori terkait bagaimana ketepatan sebuah waktu.
Baca: Al Zahrawi
Tidak hanya itu, dirinya juga berhasil memperoleh cara untuk menemukan utara dan selatan, serta teknik matematika untuk menentukan permulaan musim.
Namun dari semua itu, salah satu temuannya yang fenomenal ialah ketika Al Biruni menjadi orang pertama yang menghitung keliling bumi.
Ia menggunakan pendekatan perhitungan trigonometri dan memakai Astrolabe al-Ustawani buatannya sendiri untuk menghitung keliling bumi.
Al Biruni sebelumnya telah meyakini bahwa bumi itu bulat sehingga hal ini cukup membantunya.
Selain itu, untuk mencari jari-jari bumi, ia menggunakan besaran phi yang telah ditemukan oleh ilmuwan sebelumnya, Al Khawarizmi.
Setelah mendapatkan data-data yang dibutuhkan, ia mulai menghitung bumi dengan rumus keliling lingkaran.
Dan hasilnya ialah 40.075 km, dan di era modern perhitungan serupa juga dilakukan dan menemukan angka 40.075,071 km.
Sehingga dalam hal ini perhitungan yang dilakukan oleh Al Biruni hanya meleset 1 persen dari perhitungan modern. (3) (4)
Baca: Ibnu Khaldun
Beberapa Karya Al Biruni
- Tahdid Nihayat al-Amakin li Tashbih Masafat al-Masakin
- Risalah Tajrid al-Sha’at
- Tarikh al-Hind
- Masamiri Khawarizm
- Al-Qonun al-Mas’udi
- Layl wa al-Nahar
- Al-Athar Al-Baqiya
- Al-Tafhim-li-Awail Sina'at al-Tanjim