Informasi Awal
TRIBUNNEWSWIKI.COM - Laksamana Muda Tadashi Maeda (前田 精/ Maeda Tadashi) adalah perwira tinggi Angkatan Laut Kekaisaran Jepang di Hindia Belanda pada masa Perang Pasifik yang lahir di Kagoshima, Jepang pada 3 Maret 1898.
Selama kekuasaan Jepang di Indonesia, ia menjabat sebagai Kepala Penghubung Angkatan Laut dan Angkatan Darat Tentara Kekaisaran Jepang.
Laksamana Muda Maeda turut serta berperan dalam kemerdekaan Indonesia dengan menyediakan tempat penyusunan naskah proklamasi oleh Soekarno, Mohammad Hatta, Achmad Soebardjo, dan juga Sayuti Melik.
Tempat tersebut ialah kediamannya sendiri yang berlokasi di Jl. Imam Bonjol, No.1, Jakarta Pusat.
Laksamana Muda Maeda menghembuskan nafas terakhirnya pada 13 Desember 1977, ketika usianya menginjak 79 tahun.
Baca: Perang Asia Pasifik
Baca: Sayuti Melik
Perumusan Naskah Proklamasi
Kekalahan Jepang semakin dekat usai Sekutu mengebom Jepang pada 6 dan 9 Agustus 1945, sehingga semangat pemuda Indonesia semakin menggebu-gebu untuk segera mencapai kemerdekaan.
Pada tanggal 12 Agustus 1945, Panglima Tertinggi Jepang di Asia Tenggara, Marsekal Terauchi, memanggil Soekarno, Mohammad Hatta, dan Radjiman Wedyodiningrat di markas besarnya di Dalat, Vietnam (sekarang Ho Chi Minh).
Dalam pertemuan tersebut, Terauchi menjanjikan kemerdekaan kepada bangsa Indonesia yang akan dilakukan pada tanggal 24 Agustus 1945.
Pada tanggal 15 Agustus 1945, Radio Asia Raya mengumumkan berita perihal kekalahan Jepang, yang kemudian tersebar luas ke seluruh kalangan pemuda dan rakyat Indonesia.
Atas hal tersebut, kalangan pemuda yang tergabung dalam golongan muda ingin pelaksanaan kemerdekaan dilakukan secepat mungkin.
Sebaliknya, golongan tua ingin agar kemerdekaan dilakukan sesuai janji Jepang agar menghindari adanya pertumpahan darah.
Akhirnya pada tanggal 16 Agustus 1945, golongan muda, termasuk Sukarni dan Chaerul Saleh menculik Soekarno dan Muhammad Hatta ke Rengasdengklok dan mendesak mereka untuk segera membacakan proklamasi.
Perundingan panjang terjadi, hingga akhirnya semua setuju bahwa proklamasi akan dibacakan diluar janji Jepang, yakni pada 24 Agustus.
Kemudian, para pemuda mengantarkan Soekarno dan Hatta kembali ke Jakarta agar segera merumuskan naskah proklamasi.
Namun sesampainya di Jakarta pada pukul 22.00, rombongan mendapati bahwa Hotel Des Indes yang akan digunakan mereka sudah tutup.
Tak kehabisan akal, para pemuda lalu menghubungi seorang perwira Angkatan Laut Kekaisaran Jepang yang bersimpati terhadap perjuangan bangsa Indonesia, yakni Laksamana Maeda.
Ia pun mempersilakan mereka untuk menjadikan rumahnya, yang sekarang beralamat di Jalan Imam Bonjol no.1, sebagai tempat perumusan naskah proklamasi.
Laksamana Maeda juga menjamin keamanan selama berlangsungnya rapat, karena ia merupakan Kepala Perwakilan Kaigun (Angkatan Laut Kekaisaran Jepang).
Rumahnya merupakan extra territorial dan wajib dihormati oleh Rikugun (Angkatan darat kekaisaran Jepang / Kempetai).
Kini, rumah Laksamana Maeda tersebut berubah menjadi Museum Perumusan Naskah Proklamasi. (1)
Baca: Naskah Proklamasi
Baca: Proklamasi Kemerdekaan Indonesia
Kiprah
Pada Oktober 1944, Laksmana Muda Maeda mendirikan sebuah sarana pendidikan politik bagi para pemuda yang diberi nama Asrama Indonesia Merdeka yang terletak di Kebon Sirih nomor 80, Jakarta.
Hal ini merupakan wujud kepeduliannya terhadap rakyat Indonesia agar bisa membekali diri dengan ilmu pengetahuan sehingga dapat memperjuangkan kemerdekaan.
Sederet tokoh intelektual Indonesia yang menjadi pengajar yaitu seperti Soekarno, Moh Hatta, Ahmad Subarjo, Sjahrir dan Sanoesi Pane.
Tak berselang lama, dibentuklah cabang baru di Surabaya yang diketuai oleh Ahmad Subardjo yang dibantu oleh Wikono.
Kurang lebih selama 6 bulan para pemuda terpilih di Asrama Indonesia Merdeka menjalani masa belajanya.
Sebagian dari pemuda yang berhasil lulus dari kursus singkatnya di asrama ini, menjadi anggota Barisan Pelopor Istimewa.
Laksamana Muda Maeda telah bertekad untuk dapat menyumbangkan jasanya bagi bangsa Indonesia.
Dia bersedia mengorbankan diri demi kemerdekaan Indonesia yang ia ketahui menjadi cita-cita para leluhur sejak dulu kala.
Laksamana Muda Maeda menyediakan rumah dengan keamanan terjamin sebagai tempat berkumpulnya tokoh-tokoh bangsa dalam perumusan naskah proklamasi, agar dapat dikumadangkan pada momen kemerdekaan Indonesia.
Laksamana Muda Maeda sebelumnya telah dua kali meminta pihak Jepang agar memberi kemerdekaan bagi Indonesia, namun tak kunjung diberi tanggapan.
Hal tersebut yang akhirnya membuat Laksamana Maeda bertekad untuk bertindak cepat selama kekosongan kekuasaan pada saat itu.
Ia juga melakukannya karena selaras dengan prinsip yang pernah dikemukakan oleh Presiden Amerika Serikat, Wilson, yaitu setiap bangsa berhak menentukan nasibnya sendiri.
Baca: Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)
Baca: Radjiman Wedyodiningrat
Akhir Hidup
Setahun setelah kemerdekaan Indonesia, Laksamana Maeda ditahan oleh Jepang atas tuduhan telah membantu kemerdekaan Indonesia.
Tetapi, ia berhasil membantah dengan alasan bahwa ia tidak mungkin bisa menggerakkan seluruh rakyat Indonesia untuk menyatakan kemerdekaan.
Dengan argumen itu, Maeda berhasil dibebaskan dan diperbolehkan pulang ke kampung halamannya.
Namun, setibanya di Jepang, ia kembali menjalani sidang dan mendapat perlakuan tidak baik lantaran dianggap telah mencoreng harga diri Jepang.
Pada akhirnya Laksamana Maeda mundur dari jabatannya dan menjadi rakyat biasa hingga sisa hidupnya.
Selain itu, Jepang membuat Laksamana Maeda dan keluarganya masuk daftar hitam, sehingga membuat mereka hidup tanpa fasilitas negara, sampai Maeda tutup usia pada 1977. (2)
Baca: Bendera Indonesia
Baca: Pertempuran Surabaya