Informasi Awal
TRIBUNNEWSWIKI.COM - Habib Sayyid Saggaf bin Muhammad Aljufri adalah ulama dan cendekiawan Islam Indonesia di Kota Palu.
Ia lahir pada 17 Agustus 1937 di Pekalongan, Jawa Tengah.
Ia adalah putra sulung dari pasangan Sayyid Muhammad bin Idrus Aljufri dan Syarifah Raquan binti Thalib Aljufri.
Ayahnya adalah seorang ulama bernama Sayyid Muhammad bin Idrus Aljufri, anak seorang ulama besar dari Palu yang merupakan pendiri Alkhairaat Habib Sayyid Idrus bin Salim Aljufri.
Ibunya adalah ulama wanita keturunan Arab-Indonesia.
Habib Saggaf merupakan cucu Sayyid Idrus bin Salim Aljufri.
Habib Saggaf berasal dari marga Ba 'Alawi sada keluarga Arab Hadhrami bermarga AlJufri.
Guru Tua tersebut dihormati masyarakat Kota Palu, Sulawesi Tengah.
Ia kerap dikunjungi para pejabat negara guna membahas masalah agama dan negara.
Habib Saggaf adalah alumni program Megister dari Universitas Al-Azhar tahun 1967. (1)
Baca: Habib Hasan Mulachela
Kehidupan Pribadi
Habib Saggaf memiliki tujuh anak dan tigas istri, yakni Syarifah Ruqayah Al-Jufri (1967), Syarifah Zahrah bin Yahya (1971), dan Syarifah Umnah Ar-Rumi.
Dari pernikahan pertamanya dengan Syarifah Rugaiyah Aljufri, ia dikaruniai dua anak, Alwy Aljufri dan Syarifah Sukainah Aljufri.
Kemudian, Habib Saggaf menikah dengan Syarifah Zahrah bin Yahya dan dikaruniai seorang putri bernama Syarifah Mufidah Saggaf Aljufri.
Selain itu, ia memiliki empat anak hasil dari pernikahan terakhirnya bersama Syarifah Umnah Rumi, cucu dari pendiri Alkhairaat Habib Idrus bin Salim Aljufri.
Keempat anaknya adalah Syarifah Raguan Aljufri, Syarifah Rugaiyah Aljufri, Sayyid Musthafa Aljufri, dan Syarifah Fatimah Aljufri. (2)
Baca: Syekh Ali Jaber
Perjalanan Karier
Habib Saggaf sempat tinggal di Pekalongan pada tahun 1937 hingga 1951.
Ia kemudian melanjutkan dakwah di Kota Palu pada 1951 hingga sekarang.
Setelah lulus dari Universitas Al-Azhar tahun 1967, Habib Saggaf kemudian diangkat menjadi dekan Fakultas Ushuluddin, Institut Agama Islam Negeri Palu dari 1967 hingga 1977.
Ia terpilih sebagai Ketua Ulama Indonesia Sulawesi Tengah pada 1977.
Ia juga pernah menjabat sebagai Ketua Umum Gerakan Usaha Pembaharuan Pendidikan Islam (GUPPI) di Sulawesi Tengah.
Semenjak ayahnya meninggal dunia, Sayyid Muhammad bin Idrus al-Jufri (Ketua Tertinggi Alkhairaat sejak 1969 setelah wafatnya Guru Tua) pada tahun 1974, Habib Saggaf lalu diangkat sebagai kepala tertinggi pada 1974 hingga saat ini menggantikan ayahnya. (1)
Selain itu, Habib Saggaf juga pernah menjabat sebagai anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) di Sulawesi Tengah. (2)
Habib Saggaf juga dikenal sebagai orang yang mencintai ilmu.
Sebagai salah satu wujud kecintaannya pada ilmu, ia mendirikan lembaga pendidikan Islam Alkhairaat sebagai sumbangsih nyata kepada agama Islam.
Alkhairaat didirikan di Palu, Sulawesi Tengah, saat usia Sayyid Idrus bin Salim Al-Jufri menginjak 41 tahun.
Habib Idrus dianggap sebagai inspirator terbentuknya sekolah di berbagai jenis dan tingkatan di Sulawesi Tengah yang dinaungi organisasi Alkhairaat, dan terus berkembang di kawasan timur Indonesia.
Kemudian, pada 2014, nama ayyid Idrus bin Salim Al-Jufri juga diabadikan sebagai nama baru bandara Kota Palu, sebelumnya, bernama Bandara Mutiara.
Perubahan nama tersebut dimaksudkan untuk emnghargai jasa dan perjuangan Sayyid Idrus bin Salim Aljufri dalam menyebarkan ajaran Islam di kawasan timur Indonesia.
Bandara Mutiara Palu kini menjadi Bandara Mutiara SIS (Sayid Idrus bin Salim) Aljufri Palu. (1)
Baca: Kyai Muslim Muhamad Halifah (Kyai Mojo)
Wafat
Habib Saiyid Saggaf bin Muhammad Aljufri mengembuskan napas terakhirnya di Rumah Sakit Alkhairaat, Jalan Sis Aljufri Kelurahan Siranindi, Kecamatan Palu Barat, Kota Palu, Sulawesi Tengah.
Habib Saggaf meninggal dunia pada 3 Agustus 2021, sekitar pukul 15.50 Wita.
Habib Saggaf meninggal dunia pada usia 83 tahun.
Kepergian Habib Saggaf meninggalkan duka mendalam bagi umat Islam Indonesia, khususnya Kota Palu, Sulawesi Tengah.
Almarhum semasa hidupnya dikenal sebagai sosok ulama besar berkharismatik, alim, dan istiqomah dalam menjalankan dakwahnya. (2)
Baca: Halimah As-Sadiyah