Informasi Awal
TRIBUNNEWSWIKI.COM - Perang Mu'tah merupakan pertempuran antara pasukan Islam melawan pasukan kekaisaran Bizantium Romawi Timur.
Perang tersebut terjadi pada tahun ke 8 Hiijriah atau 629 Masehi.
Dalam Perang Mu'tah, Rasulullah SAW mengirim 3.000 pasukan sedangkan kekaisaran Bizantium Romawi Timur mengirim 200.000 pasukan.
Di sini juga lah pertama kalinya Rasulullah mengangkat tiga panglima perang sekaligus dalam satu peperangan.
Tiga panglima perang tersebut yakni Zaid bin Haritsa, Ja’far bin Abi Thalib dan Abdullah bin Rawahah. (1)
Baca: Perang Tabuk
Penyebab Perang Mu'tah
Sebab terjadinya Perang Mu'ah yakni lantaran pembunuhan kepada utusan.
Pada saat itu Rasulullah SAW mengutus Harits bin Umair untuk menyampaikan surat kepada Raja Bushra.
Namun belum sampai di kerajaan, Harits bin Umair dihadang dan dibunuh oleh Syurahbil bin Amr al-Ghasani di Mu'tah (timur Yordania).
Syurahbil bin Amr al-Ghasani tersebut merupakan pemimpin kabilah Ghasan sekutu dari Romawi.
Mereka tidak menghormati seorang utusan dan malah membunuhnya.
Padahal terdapat suatu tradisi yang mana pihak kerajaan apapun tidak diperkenankan untuk membunuh seorang utusan kerajaan.
Terbunuhnya Harits bin Umair membuat Rasulullah SAW menyatakan perang kepada mereka. (2) (3)
Baca: Perang Uhud
Gugurnya 3 Panglima Perang
Ketika perang mulai berkecamuk, panglima pasukan Islam, Zaid bin Haritsah memimpin pasukan sembari memgang panji perang Rasulullah.
Saat memimpin pertempuran, Zaid pun gugur terkena tombak.
Kemudian panglima pasukan muslim diganti oleh Ja’far bin Abu Thalib.
Ja'far pun memimpin pasukannya sembari memegang panji perang Rasulullah.
Di tengah pertempuran yang sedang berkecamuk, Ja'far menyembelih kudanya lantaran terluka.
Dirinya maju ke pasukan musuh tanpa menunggang kuda.
Baca: Khalid bin Walid
Hingga kemudian tangan kanannya terkena sabetan pedang, ia pun mengalihkan panji perang Rasulullah itu ke tangan kirinya.
Tak dinyana, tangan kirinya pun kembali terkena sabetan pedang, dan ia pun mendekap panji itu dengan kedua lengannya.
Sampai akhirnya ia gugur setelah pedang musuh berhasil menembus baju besinya.
Melihat Ja'far telah gugur, Abdullah bin Rawahah dengan sigap mengambil alih komando dengan panji perang Rasulullah di tangannya.
Namun, ia pun ikut gugur menyusul dua panglima perang Zaid dan Ja'far. (4)
Baca: Sa’ad bin Abi Waqqash
Strategi Kemenangan
Gugurnya tiga panglima perang muslimin, membuat pasukan Islam tidak memiliki pemimpin perang.
Hingga kemudan pasukan Islam yang berada di arena pertempuran pun mengangkat Khalid bin Walid sebagai panglima.
Khalid bin Walid pun mengatur strategi dengan perubahan posisi, seragam dan pecahan pasukan.
Posisi pasukan diubah dari yang semula di depan, kemudian ditarik ke belakang, pasukan yang berada di sayap kiri, kanan dan pasukan tengah juga demikian.
Mereka posisinya diubah-ubah.
Selain itu untuk seragam perangnya, ia meminta pasukannya untuk mengganti dengan pakaian yang baru tak terkecuali bendera dan perlengkapan lainnya.
Strategi selanjutnya yakni menarik pasukan kavaleri jauh ke belakang di malam hari, dan baru muncul ke pertempuran ketika siang hari saat perang sedang berkecamuk.
Pasukan kavaleri ini diminta Khalid untuk jalan perlahan sembari membuat debu-debu yang di lewatinya beterbangan.
Dalam hal ini pasukan Romawi mengira kaum muslimin mendapat bala bantuan.
Sehingga akhirnya mereka pun memutuskan untuk mundur, dan pasukan Islam pun menang. (5)