Program VGR tersebut merupakan program vaksinasi mandiri berbayar untuk memperluas dan mempercepat pendistribusian vaksin Covid-19.
Vaksinasi nasional yang diberikan secara gratis oleh pemerintah selama ini menggunakan vaksin produksi Sinovac dan AstraZeneca.
Sementara itu, mengacu kepada Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 19 Tahun 2021, jenis vaksin yang akan digunakan dalam program VGR berbayar adalah vaksin Covid-19 produksi Sinopharm.
Adapun perusahaan yang bertugas dalam pengadaan vaksin adalah PT Bio Farma (Persero).
Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan Nomor HK.01.07/MENKES/4643/2021, harga satu dosis vaksin dipatok Rp 321.660.
Sementara itu, biaya layanan vaksinasi diberi tarif maksimal Rp117.910.
Dengan patokan tersebut, satu dosis vaksin Sinopharm akan membutuhkan biaya maksimal Rp439.570.
Mengingat jenis vaksin yang digunakan harus diberikan sebanyak 2 dosis, maka total biaya yang harus dikeluarkan seseorang untuk mendapatkan vaksinasi lengkap melalui jalur ini maksimal Rp879.140.
Biaya total bisa saja lebih rendah dari itu, tergantung pada kebijakan tarif layanan yang ditetapkan oleh Kimia Farma.
Kemudian bagaimana dengan program vaksinasi gratis dari pemerintah?
VGR berbayar untuk individu ini diklaim tidak akan menghentikan jalannya program vaksinasi lain seperti VGR perusahaan dan vaksinasi nasional yang dijalankan oleh pemerintah.
Baca: Resmi Diperjualbelikan Hari Ini, Vaksin Covid-19 di Kimia Farma Dihargai Rp 400 Ribu
Baca: Vaksin Sinopharm
Hal itu disampaikan oleh Wakil Menteri BUMN, Pahala N. Mansyuri.
"Pelayanan vaksinasi individu oleh Kimia Farma Group ini merupakan upaya untuk mengakselerasi penerapan Vaksinasi Gotong Royong dalam membantu program vaksinasi Indonesia untuk mencapai herd immunity secepat-cepatnya," kata Wamen BUMN, dikutip dari Instagram @kementerianbumn.
Vaksin Sinopharm adalah vaksin Covid-19 yang menggunakan partikel virus yang dimatikan untuk memicu kekebalan terhadap virus, tanpa memiliki risiko respons penyakit serius.
Melansir laman WHO, uji coba fase 3 multi-negara telah menunjukkan bahwa dua dosis Sinopharm dengan interval 21 hari memiliki efikasi sebesar 79 persen terhadap Covid-19.
Vaksin Sinopharm telah mendapatkan sertifikat halal dari Majelis Ulama Indonesia (MUI).
Selain itu, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) juga telah menyatakan vaksin tersebut aman digunakan.
Untuk vaksin Sinopharm, efek samping serius yang mungkin terjadi adalah mual, gangguan neurologis langka, dan pembekuan darah.
Namun, kondisi itu sangat jarang terjadi. Umumnya, efek yang dirasakan oleh penerima adalah sakit kepala, kelelahan, dan reaksi tempat suntikan.
Adapun vaksin Sinovac, ada sakit dan nyeri pada tempat suntikan adalah efek samping yang paling umum.
Reaksi sistemik lain vaksin Sinovac yang dilaporkan adalah kelelahan, diare, dan kelemahan otot.
Dibandingkan dengan dua vaksin lain yang telah digunakan di Indonesia saat ini (Sinovac dan AstraZeneca), vaksin Sinopharm memiliki efikasi yang lebih tinggi.
Dua dosis vaksin Sinovac diketahui memiliki efikasi atau tingkat kemanjuran sebesar 65,3 persen.
Sementara vaksin AstraZeneca memiliki efikasi sebesar 62 persen pada orang yang menerima dua dosis penuh dan mendekati 90 persen pada orang yang menerima satu setengah atau satu dosis penuh.
AstraZeneca menggunakan dua persentase ini untuk menarik rata-rata tingkat efikasi 76 persen, dikutip dari Healthline.
Sementara itu, efek samping yang ditimbulkan ketiga vaksin tersebut yang paling umum adalah rasa sakit dan nyeri di tempat suntikan.
Baca: Daftar Klinik Kimia Farma yang Melayani Vaksinasi Covid-19 Mandiri Beserta Biayanya
Baca: Vaksin AstraZeneca