Informasi Awal
TRIBUNNEWSWIKI.COM - Banaspati adalah kelompok suporter dari klub Liga 2, Persijap Jepara.
Banaspati merupakan singkatan dari Barisan Suporter Persijap Sejati.
Banaspati berdiri pada 9 April 2002 yang diinisiasi oleh beberapa suporter Persijap Jepara.
Banaspati menempati tribun timur Stadion Gelora Bumi Kartini, ketika mendukung Persijap berlaga.
Warna merah merupakan warna kebesaran dari Banaspati. (1)
Baca: Adhe Owen
Sejarah Banaspati
Banaspati (Barisan Supporter Persijap Sejati) adalah salah satu supporter yang mendukung Persijap Jepara, berdiri tanggal 9 April 2002.
Banaspati yang saat didirikan merupakan sekumpulan pecinta Persijap yang pada awalnya bergabung denga Persijap Fans Club (PFC) oleh H. EKsan (Gembira Ria), H. Ali Anggoro, (Ketua Sekarang), Como Hartanto (Ketua pertama), Syaiful Huddin (Sekjen pertama), Anita (bendahara pertama), Ali Shohib (Pjs penerus Como hartanto), dan Agoes Cumes (HUMAS) Mas Sugeng Almarhum.
Merekalah orang-orang yang membentuk dan memberi nama Barisan Supporter Persijap Sejati.
Sekretariat Banaspati berada di Komplek Stadion Gelora Bumi Kartini sebelah Utara.
Banaspati menjadi kelompok suporter pendukung Persijap Jepara terbesar di Kota Jepara yang mempunyai Korwil menyeluruh ke setiap daerah Kota Jepara. (1)
Baca: Arif Budiyono
Makna Logo
Logo Banasapati digambarkan dengan sebuah ular naga berwarna merah.
Ular naga difilosofikan sebagai binatang yang kalem, merampat lambat, tetapi pasti, dan siap menerkam lawannya bila memang diusik.
Logo tersebut dibuat oleh Syaiful Huddin, pemenang pembuat lomba Logo Persijap yang sekarang menjadi logo Persijap merupakan filosofi yang selalu dikedepankan oleh para pendiri Banaspati. (2)
Baca: Ahmad Amiruddin
Sumbangan untuk Persijap
Jebloknya performa tim Persijap Jepara di kompetisi ISL tahun 2014 membuat pendukung fanatik mereka, Banaspati prihatin.
Jammet, humas kelompok suporter itu, mengakui bahwa tim kebanggaan warga Jepara itu memang kekurangan modal pada musim kompetisi 2014.
Ia mengatakan itu memang sedikit aneh karena di Jepara terdapat perusahaan besar macam PLTU, atau kerajinan-kerajinan ukir, namun tidak ada sumbangsih untuk tim.
Oleh karena itu, pada paruh kompetisi ini dia berencana akan mengadakan aksi bersama para Banaspati.
Dalam aksi tersebut, ada ajakan kepada seluruh stakeholder yang ada di Jepara untuk menanam modal di Persijap
Selain itu, ia juga akan membuka koin sumbangan yang nantinya akan diberikan kepada klub yang kini berada di dasar klasemen ISL grup barat itu.
Aksinya bisa nanti long march, dari stadion ke alun-alun, namun untuk waktunya kita akan bicarakan lagi, katanya.
Pria yang juga menjabat korlap Banaspati Jabodetabek itu hanya berharap Persijap memiliki dana segar untuk mengarungi paruh kompetisi. (3)
Baca: Alvin Derro Duaramuri
Perdamaian dengan Pendukung PSIS
Kelompok suporter dua tim asal pantai utara (Pantura) Jawa Tengah itu pernah terjebak dalam sejarah kelam permusuhan yang dimulai pada kompetisi Divisi Utama, musim 2005.
Bentrok kedua suporter itu sering terjadi hingga menimbulkan korban.
Saadi masih ingat betul kejadian memilukan pqeq 12 Maret 2006 di Stadion Kamal Junaidi.
Saat itu, kelompok pendukung tuan rumah bentrok dengan suporter PSIS Semarang yang meluas hingga ke jalan.
Sejak saat itulah benih-benih permusuhan kelompok suporter kedua tim muncul. Nyanyian rasial, sweeping suporter kedua tim, hingga tindakan anarkistis lainnya sering menghiasi hubungan kedua kelompok suporter.
Saat sesama pengurus suporter mencoba mendinginkan suasana, pada tingkat akar rumput justru terjadi aksi saling ejek di dunia maya.
Seiring berjalannya waktu komunikasi intensif yang terus dilakukan. Menurut Saadi, Banaspati mencoba datang ke Semarang saat beberapa kali mendapat undangan kegiatan dari Snex maupun Panser Biru.
Proses rekonsiliasi mencapai titik terbaik saat pergerlaran Piala Polda Jawa Tengah 2015.
Pada babak penyisihan, PSIS dan Persijap masuk dalam satu grup bersama Persis Solo.
Diawali dengan Panser Biru dan Snex yang diterima baik di Stadion Gelora Bumi Kartini (GBK), hubungan baik itu berlanjut hingga sekarang.
Dedengkot Snex, Donny Kurniawan, memaparkan proses perdamaian bisa terjadi karena kedewasaan masing-masing suporter.
Mereka berusaha selalu mengedepankan sikap saling menghormati dan keinginan untuk menghilangkan rasa permusuhan. (4)