Sementara itu, ruang IGD diubah menjadi ruang isolasi pasien Covid-19.
"Untuk layanan IGD-nya kita sudah memutuskan membangun tenda di luar RS supaya yang ingin dicek, masuknya ke sana. Tidak masuk ke ruangan IGD karena ini akan dipakai sebagai tambahan tempat tidur," kata Budi dalam konferensi pers secara virtual, Jumat (25/6/2021).
Kapasitas Rumah Sakit Darurat Wisma Atlet sudah naik hingga 7.000 tempat tidur.
Baca: Covid-19 di Ibu Kota Makin Tinggi, Anies Baswedan: Jakarta Memang Sedang Tidak Baik-baik Saja
Baca: Kasus Covid-19 Melonjak, Tempat Wisata di DKI Jakarta Tutup hingga 5 Juli 2021
Akan tetapi, kasus baru Covid-19 terus meningkat.
Oleh sebab itu, Kemenkes bersama Pemprov DKI akan menempatkan pasien Covid-19 dengan gejala ringan di Rumah Susun Nangrak dan Pasar Rumput.
"Jadi ada 7.000 tempat tidur isolasi tambahan atau dua kali lipat lebih banyak dari sebelumnya yang ada di Wisma Atlet," ujar dia,
DKI Jakarta mengalami lonjakan kasus baru Covid-19 sebanyak 7.505 kasus pada Kamis (24/6/2021).
Pemprov DKI telah menambah kapasitas pelayanan kesehatan untuk mengantisipasi lonjakan kasus.
Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menyebut ada penambahan sebanyak 34 rumah sakit rujukan Covid-19 di Jakarta sejak Juni ini.
Baca: Budi Gunadi Sadikin
Baca: Pemerintah Tingkatkan Target Vaksinasi Covid-19 Jadi 1 Juta Dosis per Hari Mulai Juli
“Di awal Juni ada 106 RS rujukan COVID-19 di Jakarta, sekarang ditambah jadi 140 RS. Dari 6694 tempat tidur utk isolasi, ditambah jadi 8524,” kata Anies.
Namun, menurut Anies hal itu tidak cukup lantaran saat ini rumah sakit hampir semua penuh menampung pasien positif terinfeksi virus corona.
Terlebih kini muncul berbagai varian Covid-19 yang penularannya jauh lebih cepat.
Sementara itu, jumlah tenaga kesehatan di DKI Jakarta tak sebanding dengan penambahan pasien covid-19.
“Tapi itu semua tak cukup, setelah ditambah pun langsung terisi hingga 90 persen. Dengan adanya varian baru virus corona, laju penularan jauh lebih cepat dari peningkatan kapasitas fasilitas kesehatan,” katanya.
Baca: Terus Dapat Komentar Negatif dari Warganet, Gofar Hilman Terpikir Tinggalkan Youtube
Baca: M. Qodari Sebut 80 Juta Rakyat Indonesia Setujui Gagasan Jokowi Menjabat 3 Periode
Pada Kamis malam, Pemprov Jakarta telah menyiapkan tenda-tenda di RSUD.
Hal ini lantaran rumah sakit sudah tak bisa menampung pasien.
Bahkan, lobi rumah sakit juga difungsikan sebagai rawat inap.
Di samping itu, Menkes Budi Gunadi juga memastikan suplai tabung oksigen untuk kebutuhan medis saat ini cukup.
“Kami bisa sampaikan di sini bahwa oksigen yang ada itu cukup, oksigen yang ada itu cukup,” katanya.
Menkes memaparkan saat ini kapasitas produksi oksigen oleh produsen lokal di tanah air sebagian besar dialokasikan untuk kebutuhan industri, yaitu sebanyak 75 persen, dan hanya 25 persen untuk kebutuhan oksigen medis.
Baca: John McAfee Ditemukan Tewas di Penjara Spanyol Setelah Ekstradisinya ke AS Disetujui
Baca: Film Pulau Plastik, Ceritakan Dampak Mengerikan Polusi Sampah Plastik, Tayang di Bioskop Online
Alokasi untuk industri tersebut, imbuhnya, akan dialihkan untuk produksi oksigen medis.
“Jadi ada satu perusahaan oksigen lokal yang memang memproduksi hampir 90 persen dari oksigen di rumah sakit-rumah sakit."
"Kapasitas perusahaan tersebut itu baru terpakai 25 persen, karena yang 75 persennya atau tiga kali lipat lebih besar itu digunakan untuk menyuplai industri."
"Komitmen dari perusahaan ini adalah, 75 persen ini siap diberikan untuk menyuplai oksigen di rumah sakit. Sehingga dengan demikian kita masih punya ruang yang cukup,” paparnya.
Terdapat sembilan pabrik yang akan menyuplai oksigen medis tersebut, yaitu empat pabrik di Jawa Barat (Jabar), satu di Jawa Tengah (Jateng), dan empat di Jawa Timur (Jateng).
Budi menegaskan pihaknya telah berkoordinasi dengan PT PLN (Persero) untuk memastikan pasokan listrik untuk pabrik-pabrik tersebut.
Dengan demikian, kejadian aliran listrik terhenti dan mengganggu produksi yang terjadi di pabrik oksigen di Jawa Tengah beberapa waktu lalu tidak terulang kembali.