Informasi Awal
TRIBUNNEWSWIKI.COM - FOMO atau fear of missing out adalah suatu ketakutan seseorang yang dikatakan tidak update, tidak gaul, dan takut ketinggalan berita yang baru.
Hal ini ditandai dengan keingan seseorang untuk terus terhubung dengan aktivitas orang lain.
FOMO diartikan sebagai rasa takut akan penyesalan yang akan menimbulkan kekhawatiran bahwa seseorang mungkin kehilangan kesempatan untuk interaksi sosial, pengalaman baru atau investasi yang menguntungkan. (1)
Baca: Hematochezia
Asal usul
Awalnya FOMO dipicu oleh berita yang jadi headline di media, foto-foto pesta atau konser, setelah itu bergeser tentang liburan atau tempat makan yang sedang hype.
Di era digital ini, perasaan FOMO bisa dipicu oleh sebuah aplikasi terbaru yang sedang jadi perbincangan, seperti kurang update kalau belum mengunduh aplikasi Clubhouse.
FOMO bisa merugikan kesehatan mental sebab FOMO seseorang bisa berlaku di luar batas wajarnya.
Misalnya mengarang kebohongan agar terlihat tetap kekinian.
FOMO juga bisa membuat seseorang merasa kesepian, memiliki self-esteem yang rendah, serta kurang mengasihi diri sendiri.
Ini karena kita jadi lebih banyak membandingkan diri dengan orang lain yang hidupnya kita lihat di media sosial.
Lewat gadget dan media sosial, FOMO tidak mengenal usia. Artinya, orang yang sebenarnya sudah matang dan dewasa pun bisa saja mengalami sindrom ini.
Pada dasarnya normal jika kita merasa sedikit FOMO, tetapi jika hal itu sudah menguasai cara kita berperilaku, maka akui bahwa kita sebenarnya punya masalah. (2)
Baca: Ampiang Dadiah
Efek FOMO
Kecemasan dapat membuat produksi hormon-hormon penting tubuh seperti serotonin dan adrenalin terganggu.
- Stres dan depresi berlebihan,
- Susah tidur,
- Tidak nafsu makan,
- Sakit kepala,
- Mood kacau bisa muncul ketika hormon dalam tubuh tidak seimbang.
Selain itu, saat merasa cemas, tubuh cenderung akan menghasilkan rasa mual.
Ini terjadi saat usus mengirimkan sinyal ke otak bahwa tubuh Anda sedang terancam.
Tak jarang, akhirnya tubuh akan bereaksi dengan memunculkan rasa mual.(3)
Baca: Brotowali
Cara mengatasi
Mencintai dan menerima diri secara utuh (self-compassion) akan membantu kita untuk tidak selalu ikut-ikutan dengan apa yang orang lain lakukan.
Misalnya sering membandingkan diri dengan orang lain di media sosial.
Karena mereka yang sebagai influencer atau selebritas bukan berarti mereka bahagia. Sebab setiap orang memiliki tantangan hidup masing-asing.
Interaksi teratur dengan orang lain di luar aktivitas online.
Bertemu tatap muka dengan sahabat akan membuat kita memiliki hubungan yang nyata dan kaya.
Hal ini juga mengurangi perasaan isolasi dan kesepian. Saat melakukan interaksi tatap muka, sebaiknya jangan tergoda untuk membuka ponsel atau sibuk berfoto.
Ketika seorang teman mengunggah foto barang-barang mewah yang tidak mampu kita beli, seperti mobil baru atau rumah dengan halaman belakang yang besar, lalu kita merasa iri, ingatlah bahwa itu hanyalah benda materi.
Benda-benda materi bukanlah penentu nilai diri kita atau seberapa sukses hidup kita. Pengalaman hidup lah yang membuat kita merasa kaya dan bahagia.
Lambatkan pikiran sejenak. Hadir seutuhnya pada momen ini, menikmati aktivitas bersama keluarga, sahabat, hobi, atau mungkin hewan kesayangan.
Fokuslah pada satu hal untuk satu waktu. Dengan begitu satu tugas akan bisa kita selesaikan tanpa pikiran terpecah-pecah.
Dari pada hanya rebahan di kamar dan terpaku dengan media sosial selama berjam-jam, gerakkan tubuh.
Kita bisa berolahraga ringan dengan berjalan kaki di sekitar rumah, mengikuti kelas yoga virtual, atau meluangkan satu hari untuk hiking ke hutan di kota sebelah.
Bergerak aktif atau olahraga terbukti akan memompa endorphin, menurunkan gejala kecemasan, dan membuat pikiran lebih jernih.
Lakukan kegiatan ini secara berkala.
Pikiran yang jernih akan mengurangi obsesi berlebih pada media sosial. (2)