Abaikan Permintaan AS, Israel Bersumpah Lanjutkan Serangan Militer ke Gaza

Editor: Febri Ady Prasetyo
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Api dan asap terlihat di atas gedung-gedung di Kota Gaza ketika serangan udara Israel berlangsung, 17 Mei 2021.

TRIBUNNEWSWIKI.COM - Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pada Rabu, (19/5/2020), bersumpah akan melanjutkan serangan militer ke Jalur Gaza.

Dia memilih mengabaikan seruan Amerika Serikat (AS) untuk menghentikan serangan-serangan yang hingga saat ini telah menewaskan ratusan orang.

Dilansir dari Associated Press, (20/5/2021), pernyataan Netanyahu ini dianggap mengganggu usaha gencatan senjata dan merenggangkan hubungan AS dan Israel yang dikenal sebagai sekutu dekat.

Israel terus menyerang Hamas di Gaza dengan serangan udara, sedangkan militan Palestina lanjut meluncurkan roket ke Israel.

Selain itu, militen di Lebanon dilaporkan telah menembakkan roket ke Israel bagian selatan.

Setelah berkunjung ke markas militer, Netanyahu mengatakan dirinya menghargai "bantuan dari Presiden AS".

Baca: Keberanian Bella Hadid yang Tetap Lantang Bela Palestina Meski Dapat Kecaman Israel

Api dan asap terlihat di atas gedung-gedung di Kota Gaza saat serangan udara Israel berlangsung, 17 Mei 2021. (ANAS BABA / AFP)

Namun, dia menyebut Israel akan terus berusaha mengembalikan "ketenangan dan keamanan" kepada warga Israel.

Netanyahu juga berkata akan terus melanjutkan operasi serangan ini hingga tujuannya tercapai.

Ucapan itu dikeluarkan setelah Presiden AS Joe Biden berkata kepada Netanyahu bahwa dia menginginkan penurunan ketegangan yang besar agar keduanya nanti bisa melakukan gencatan senjata.

Sebelumnya, Biden menghindari menekan Israel secara langsung dan secara terbuka meminta agar ada gencatan senjata dengan militan Hamas.

Perantara perundingan dari Mesir juga telah berupaya menghentikan konflik.

Seorang diplomat Mesir mengatakan para pejabat tinggi sedang menunggu tanggapan Israel mengenai tawaran gencatan senjata.

FOTO: Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengeluarkan pernyataan di Kementerian Pertahanan Israel di Tel Aviv pada 27 Juli 2020 setelah naiknya tensi dengan kelompok militan Lebanon, Hezbollah di perbatasan Israel-Lebanon. (Tal SHAHAR / POOL / AFP)

Baca: Biaya Mahal Sistem Penghalau Roket Iron Dome Israel, Butuh Rp 711 Juta untuk Setiap Pengaktifan

Pejabat tinggi Hamas, Moussa Bu Marzouk, kepada stasiun TV Lebanon Mayadeen mengatakan dia berharap adanya gencatan senjata dalam satu atau dua hari.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Jerman Heiko Mass mengatakan dia akan pergi ke daerah konflik tersebut untuk pembicaraan dengan pihak Israel dan Palestina.

Kementerian Luar Negeri Israel mengatakan Menteri Luar Negeri Slovakia dan Ceko akan bergabung dengannya setelah diundang untuk "menunjukkan soidaritas dan dukung" untuk Israel.

Sehari sebelumnya, militer Israel mengatakan sedang memperbesar serangannya kepada militan yang ada Gaza selatan.

Serangan ini bertujuan untuk menghentikan serangan roket dari Hamas.

Baca: Joe Bidden Menelpon Presiden Palestina Mahmoud Abbas di Tengah Konflik dengan Israel

Jumlah korban

Setidaknya sembilan orang tewas pada hari Rabu di Jalus Gaza.

Sejak serangan dimulai tanggal 10 Mei lalu, sudah ada 227 warga Palestina yang tewas.

Di antara korban-korban itu, terdapat 64 anak dan 38 perempuan.

Selain itu, Kementerian Kesehatan Gaza melaporkan ada sebanyak 1.620 orang terluka.

Hamas dan mengatakan setidaknya ada 20 pejuangnya yang tewas, sedangkan menurut Israel jumlah jauh lebih besar.

Baca: Bukti Presiden Soekarno Bela Mati-matian Palestina: Larang Israel Ikut Asian Games 1962 di Jakarta

Israel menyebut setidaknya ada 130 orang yang tewas di pihak Hamas.

Ada sekitar 58.000 orang Palestina yang harus mengungsi akibat konflik ini.

Biden: Israel berhak membela diri

Biden sebelumnya sempat mengatakan Israel berhak membela diri terkait serangan dari Hamas.

"Perkiraan dan harapan saya adalah konflik ini akan segera berakhir, tetapi Israel punyak hak untuk membela dirinya," kata Biden pada hari Rabu setelah berbicara kepada Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, dikutip dari Reuters.

Dia juga memprediksi konflik antara Israel dan Palestina segera berakhir.

Baca: Israel Kembali Lakukan Serangan Besar, Gaza Diguncang Ledakan selama 10 Menit

Kendati demikian, Biden tidak menjelaskan alasan di balik sikap optimistisnya itu.

Dilansir dari Reuters, pemerintahan Netanyahu berkata kepada Biden bahwa Israel akan "terus menyerang militer Hamas dan kelompok teroris yang aktif di Jalur Gaza".

(Tribunnewswiki/Tyo)

Baca berita lainnya tentang konflik Israel-Palestina di sini.

 



Editor: Febri Ady Prasetyo
BERITA TERKAIT

Berita Populer