Informasi Awal
TRIBUNNEWSWIKI.COM - Suriah atau Republik Arab Suriah merupakan sebuah negara yang letaknya di bagian barat Asia, yaitu pada wilayah levant di Timur Tengah.
Suriah memiliki luas wilayah 185.180 km2 termasuk wilayah Dataran Tinggi Golan seluas 1.295 km2 yang kini diduduki Israel seacar ilegal.
Suriah berbatasan langsung dengan Turki di bagian utara, Irak di bagian timur, Laut Tengah dan Lebanon di bagian barat, serta Yordania dan Israel di bagian selatan.
Letak geografis Suriah yang berada di antara 32 derajat hingga 38 derajat Garis Lintang Utara dan 35 derajat hingga 43 derajat Garis Bujur Timur.
Karena letak geografis tersebut, kondisi geografis dan iklimnya menjadi variatif, yaitu berupa kombinasi wilayah yang subur hingga wilayah padang pasir yang kering.
Saat ini, Suriah terbagi dalam 14 wilayah administratif terbesar yang disebut dengan kegubernuran yaitu:
1) Damaskus;
2) Rif Dimashq;
3) Lattakia;
4) Idlib;
5) Aleppo;
6) Homs;
7) Tartus;
8) Hama;
9) Deir ez Zur;
10) Raqqa;
11) Al-Hasakah;
12) Al-Suwayda;
13) Dar'aa;
14) Quneitra.
Dari seluruh kegubernuran tersebut, Aleppo menjadi wilayah dengan populasi terbanyak.
Demografi etnis di Suriah cukup beragam yang terdiri dari Arab Suriah, Kurdi, Turkmen, Assiria, Sirkasia, Armenia, dan grup minoritas lainnya yang berasal dari Yunani, Bosnia, dan bagian timur Eropa.
Baca: Negara Palestina
Baca: Israel
Sejarah
Peradaban di wilayah Suriah diakui sebagai salah satu peradaban tertua di dunia yang telah dimulai sejak 10.000 tahun sebelum masehi, menjadikan negara ini sangat kaya akan sejarah dan budaya.
Peradaban besar yang pernah menempati wilayah Suriah antara lain Aramea, Akkadia, Assiria, Babilonia, Persia, Makedonia, Yunani, Armenia, hingga kekaisaran Romawi.
Lalu pada abad ke-7, peradaban Islam memasuki wilayah Suriah melalui kekuasaan dinasti Umayyah, yang diteruskan oleh kekuasaan dinasti Abbasiyah, Ayyubiyyah, Mamluk, serta Ottoman.
Setelah runtuhnya dinasti Ottoman, Suriah beranjak menjadi bentuk negara modern dan mengalami beberapa dinamika.
Perubahan dimulai pada tahun 1958, saat Republik Suriah yang merdeka dari Perancis sejak tahun 1945 bergabung dengan Mesir untuk membentuk Republik Persatuan Arab (RPA).
Namun pada tahun 1961, Suriah memisahkan diri dari RPA dan memiliki nama baru yaitu Republik Arab Suriah yang digunakan hingga saat ini.
Saat ini Suriah dipimpin oleh seorang kepala negara, yaitu Presiden Bashar al-Assad yang menjabat sejak 17 Juli 2000.
Presiden al-Assad dibantu oleh Wakil Presiden Najjah al-Attar serta seorang kepala pemerintahan yang dijabat oleh Perdana Menteri Eng. Hussein Arnous sejak 30 Agustus 2020.
Baca: Mahmoud Abbas
Baca: Khaled Mashal
Iklim
Sepanjang barat gunung pantai, Suriah beriklim mediteranian, sebagaimana di daerah beriklim mediterania lain, di sana ada musim kering yang panjang dari bulan Mei ke bulan Oktober.
Hujan musim panas sangatlah jarang terjadi di Suriah.
Di pantai, musim panas sangat panas dan lembap, dengan suhu rata-rata 29°C, ketika musim dingin, daerah ini mempunyai suhu minimal harian 10 °C.
Wilayah yang musim panasnya dingin di Suriah, adalah tempat dengan ketinggian di atas 600 meter. Slunfeh, Bludan dan Mashtan al Helou adalah lokasi wisata favorit penduduk lokal.
Di Aleppo, di arah utara-barat, suhu rata-rata pada bulan Agustus adalah 30 °C, sedangkan pada bulan Januari suhunya sekitar 4,4 °C.
Baca: Afghanistan
Baca: Hamas (Harakat al-Muqawwamatul Islamiyyah)
Ekonomi
Pada 2015, ekonomi Suriah bergantung pada sumber pendapatan yang tidak dapat diandalkan secara inheren seperti menyusutnya bea cukai dan pajak penghasilan yang sangat didukung oleh jalur kredit dari Iran.
Iran diyakini menghabiskan antara $ 6 miliar dan US $ 20 miliar setahun untuk Suriah selama Perang Saudara Suriah.
Ekonomi Suriah telah berkontraksi 60 persen dan pound Suriah telah kehilangan 80 persen nilainya, dengan ekonomi menjadi bagian badan usaha milik negara dan sebagian ekonomi perang.
Pada awal Perang Saudara Suriah yang sedang berlangsung, Suriah diklasifikasikan oleh Bank Dunia sebagai "negara berpenghasilan menengah ke bawah".
Pada tahun 2010, Suriah tetap bergantung pada sektor minyak dan pertanian. Sektor minyak
memberikan sekitar 40 persen pendapatan ekspor.
Ekspedisi lepas pantai yang terbukti menunjukkan bahwa ada sejumlah besar minyak di dasar Laut Mediterania antara Suriah dan Siprus.
Sektor pertanian menyumbang sekitar 20 persen dari PDB dan 20 persen lapangan kerja.
Cadangan minyak diperkirakan akan menurun di tahun-tahun mendatang dan Suriah telah menjadi pengimpor minyak netto.
Sejak perang saudara dimulai, ekonomi menyusut hingga 35 persen, dan pound Suriah telah jatuh hingga seperenam dari nilai sebelum perang.
Pemerintah semakin mengandalkan kredit dari Iran, Rusia dan Tiongkok.