Perjalanan karier
TRIBUNNEWSWIKI.COM - Akbar Paudie adalah professional player Pro Evolution Soccer (PES) asal Gorontalo.
Pria kelahiran Gorontalo, 13 November 2001, ini saat ini membela tim Badut Esport.
Berbagai kompetisi PES baik tingkat regional, nasional, sampai dengan internasional sudah pernah ia ikuti.
Namun, di balik keperkasaannya dalam PES, dia sering dimarahi orang tuanya gara-gara terlalu sering main gim
Akbar yang memiliki nama lengkap Mohammad Akbar Paudie ini awalnya hanya hobi bermain gim.
Baca: BTR Liquid
Dari hobinya itu, Akbar sering bermain gim sampai lupa waktu, lupa belajar, istirahat, dan makan.
Dari situlah orang tuanya, baik ibu maupun ayahnya, sering memarahi Akbar.
Waktu itu ayah dan ibunya Akbar berpikir bahwa main gim tidak ada gunanya.
Selain hanya buang-buang waktu produktif, gim juga dinilai belum memiliki tempat jika harus bicara soal masa depan.
Namun, suatu ketika Akbar yang merasa mahir main game, terutama PES, pun ikut menjajal kompetisi lokal.
Baca: Bennymoza
Dia juga bergabung dalam Gorontalo PES Community (GPC), sebuah komunitas pecinta PES.
Dari situlah nama Akbar menarik perhatian tim eSports Raja Badut dan kemudian direkrut
Belum lagi eSports saat itu digadang-gadang akan masuk dalam cabang olahraga dalam Olimpiade.
Dahulu ia dimarahi ketika main gim. Namun, orang tuanya kemudian mendukungnya karena dirinya berhasil menjuarai berbagai kompetisi, . (1)
Baca: Rizky Faidan
Karier di dunia esport ia lakoni sejak 2017. Waktu itu dia mengikuti atlet esport cabang Pro Evolution Soccer (PES).
Kegemaran bermain PlayStation membuat kemampuannya bertambah sehingga memberanikan diri untuk mengikuti event lokal dan sukses menjadi pemenang.
Atas prestasinya itu, Paudie menjadi satu-satunya wakil Gorontalo untuk ikut dalam ajang kualifikasi League 1 PES SEA FINAL .
Ini merupakan ajang resmi dari vendor kenamaan untuk konsol game PES di regional Asia Tenggara.
Baca: BTR Ryzen
Pada kualifikasi di Jakarta, Paudie harus puas menempati juara 3 nasional.
Namun, posisi tersebut sudah cukup bagi dirinya yang baru berusia 18 tahun ini untuk mengenggam tiket menuju ke ajang Internasional di Kuala Lumpur (Malaysia), sebagai wakil dari tim nasional Indonesia untuk ajang e-sport cabang PES.
Hasilnya, Paudie mendapatkan juara II dan hanya kalah dari atlet e-sport Vietnam.
Pengalaman berbeda turut diceritakan Paudie saat 2019 mewakili Indonesia dalam ajang yang sama yang berlangsung di Jepang.
Bertanding pada nomor perseorang, langkah Paudie terhenti dibabak 8 besar.
Paudie kalah dari rekan senegaranya, Rizky Faidan.
Baca: SuperNayr
Terlepas dari kekalahan itu, Paudie tetap mengungkap perasaan bangga karena tim Indonesia mampu mematahkan dominasi tuan rumah, Jepang di ajang itu.
Indonesia menjadi juara pada nomor perseorangan dan nomor beregu sehingga menjadi wakil Asia dalam kejuaraan dunia yang dilangsungkan di London, Inggris.
Sepulang dari event di Jepang, sosok Paudie makin dikenal oleh kalangan pencinta e-sport PES di Indonesia.
Sebuah penawaran kontrak pun menyambut Paudie setibanya di Indonesia.
Paudie mengaku mendapat penawaran kontrak dari klub e-sport asal Jakarta untuk bergabung dalam tim Badut Esport. (2)
Baca: BTR Zuxxy
Tim
1. Gorontalo PES Community.
2. Badut Esport.
Prestasi
1. Juara PES tingkat Nasional 2017.
2. Juara 3 kualifikasi League 1 PES SEA FINAL. 2018.
3. Runner up eFootball Open World Finals 2020. (4)
(TribunnewsWiki.com/Bangkit N)