Menurut Kasar Reskrim Polres Bantul, AKP Ngadi menyatakan ada dua saksi tambahan yang telah diperiksa oleh penyidik.
Sehingga, total saksi yang telah diambil keterangannya berjumlah enam orang.
Melansir Tribunnews.com pada Kamis (29/4/2021), meski tak menjabarkan secara detail identitas saksi, ia mengatakan penerima makanan yang asli juga akan dimintai keterangan.
"Kami sudah berkomunikasi dengan penerima yang asli, nanti teknisnya bagaimana kami komunikasikan lagi. Tentu kami masih mencari saksi-saksi lain, ada kemungkinan jumlah saksi bertambah. Keluarga korban sudah dimintai keterangan, tetapi kalau ada yang perlu dikonfirmasi lagi akan kami panggil lagi,"katanya, Rabu (28/04/2021).
Kini, pihaknya masih menunggu hasil pemeriksaan makanan, termasuk sate yang dikonsumsi oleh Naba.
Sampel makanan pun telah dikirimkan ke Balai laboratorium Kesehatan dan Kalibrasi Yogyakarta sejak Senin (26/4/2021) kemarin.
Baca: Dikabarkan Bakal Jadi Komut BRI Pasca Mundur sebagai Menristek, Ini Kata Bambang Brodjonegoro
Selain memeriksa saksi dan makanan, penyidik pun mengecek sejumlah CCTV.
Namun, sayangnya tidak ada CCTV di lokasi kejadian.
"Kami periksa CCTV, tetapi CCTV dilokasi kejadian tidak ditemukan. Kami lihat CCTV yang memang diperlukan, dan nanti bisa menjadi petunjuk,"ujarnya.
Pihaknya disebut telah mengetahui sedikit ciri-ciri dari perempuan yang mengirimkan sate tersebut.
Ciri-ciri tersebut diketahui dari keterangan ayah korban, Bandiman yang bekerja sebagai ojek online.
Bandiman awalnya menerima pesanan untuk mengantar makanan secara offline ke rumah Tomy di Bangunjiwp, Kasihan.
Namun, sang penerima yakni Tomy tengah berada di luar kota dan tidak mengenal pengirim makanan tersebut.
Pesanan itu pun kemudian diberikan kepada Bandiman oleh istri Tomy.
Terkait dugaan sementara kasus tersebut, pihaknya enggan berkomentar. Sebab hingga saat ini pihaknya masih mendalami kasus dan mencari alat bukti.
NFP yang masih duduk dibangku Sekolah dasar (SD) Muhammadiyah IV Karangkajen, Sewon, Bantul, meninggal dunia usai menyantap sate.
Sate tersebut diketahui merupakan pemberian orang tak dikenal yang diterima oleh ayahnya yang bekerja sebagai pengemudi ojek online.
Kepala Sekolah SD Muhamadiyah IV Karangkajen, Jawadi mengatakan, dirinya mendapat kabar jika anak didiknya telah meninggal dunia sekitar pukul 18.15 WIB.
Ia ditelepon oleh seorang staf sekolah di SD Muhamadiyah IV Karangkajen yang mengabarkan bahwa murid berinisial NFP dinyatakan meninggal karena keracunan.
Saat itu, Jawadi meminta para guru untuk memastikan kebenaran informasi tersebut.
"Begitu dipastikan ternyata memang betul. NFP sudah meninggal karena keracunan," katanya, saat ditemui Tribunjogja.com, Senin (26/4/2021)
Jawadi sempat tak percaya, karena menurut pengetahuannya jika seseorang keracunan makanan tidak mungkin bereaksi sangat cepat.
"Kalau keracunan makanan itu gak mungkin langsung meninggal. Anak itu kan meninggalnya pas ketika di jalan menuju rumah sakit. Tapi ya sekarang masih diselidiki polisi," jelas Jawadi.
Menurut Jawadi, pada Minggu sore, NFP masih terlihat mengikuti kegiatan pengajian di sebuah masjid tak jauh dari tempat tinggalnya.
Saat menjelang maghrib, NFP izin pulang karena berniat untuk berbuka puasa bersama bapak dan ibunya di rumah.
"Magrib itu bapaknya pulang bawa makanan, bawa sate. Setelah itu dimakan bersama-sama, dan tak lama ibu dan NFP itu keracunan," tuturnya.
Ditemui terpisah, orang tua NFP, Bandiman masih terlihat syok atas kejadian yang menimpa keluarganya pada Minggu sore.
Pria yang akrab disapa Bandi itu menjelaskan, kronologi awal kejadian itu bermula ketika dirinya habis istirahat dan seusai menunaikan Salat Ashar di sebuah masjid di Kota Yogyakarta.
Tiba-tiba Bandi dihampiri oleh perempuan tak dikenal dan ia dimintai tolong untuk mengantarkan sebuah paket berisi sate bakar ke wilayah Kasihan, Kabupaten Bantul.
"Waktu saya siap-siap jalan, tiba-tiba ada perempuan menghampiri saya."
"Dia minta tolong antarkan paket ke daerah Kasihan ke pak Tomy. Saya bilang, pakai aplikasi saja. Terus mbaknya alasannya gak ada aplikasi Ojol," jelasnya.
Sore itu juga Bandi bergegas menuju rumah penerima paket yang berada di daerah Kasihan, Kabupaten Bantul.
"Dia minta offline, ya saya antarkan ke penerima tersebut. Perempuan itu berpesan, pengirim atas nama pak Hamid," ungkap dia.
Sesampainya di rumah tujuan penerima paket, Bandi lalu menelepon ke nomor kontak bernama Tomy yang diberikan oleh perempuan yang ia temui di masjid.
Baca: Dilantik Jadi Mendikbud-Ristek, Nadiem Makarim Sebut Riset dan Teknologi Dekat di Hatinya
Telepon Bandi pun direspon oleh Tomy.
Namun Tomy mengaku tidak memesan apapun hari itu. Lantas menyuruh Bandi untuk membawa satenya.
Ia pun menuju rumah dengan membawa satu paket sate dan tanpa berfikir negatif.
Bandiman bersama istri dan NFP pun menyantap sate itu.
Tak berselang lama, NFP yang memakan begitu lahap mengeluhkan rasa sate yang pahit.
"Pas saya makan itu gak apa-apa. Ternyata racunnya itu ditaruh dibumbunya. Anak saya bilang bumbunya pahit. Dia lalu ke dapur dan sudah muntah-muntah. Istri juga muntah-muntah. Pas tak pastikan anak saya sudah tidak sadarkan diri," jelasnya.
Karena panik, Bandiman lantas membawa putranya ke rumah sakit. Namun sayangnya, nyawa NFP tak tertolong.
"Sudah meninggal pas perjalanan ke rumah sakit. Tapi hasil pemeriksaan di laboratorium itu katanya racunnya lebih kuat dari racun pupuk pertanian," pungkasnya.
Baca: Yusri Yunus Sebut Pensiunan Dinas Pariwisata DKI Jakarta Tersangka Mafia Karantina, Punya Kartu Pas
Kasus kematian NFP (8), siswa SD yang meninggal setelah memakan sate menarik perhatian.
Diduga, NFP dan ibunya memakan sate yang berisi racun sehingga bereaksi cepat ke dalam tubuh.
“Betul, NFP memang meninggal karena racun,” ungkap dr Lipur Riyantiningtyas BS SH SpF kepada Tribun Jogja, Senin (26/4/2021).
Namun, ia mengakui jika hanya membaca dari berita, sulit untuk mengetahui jenis racun apa yang terkandung di sate itu.
“Kita harus tahu gejalanya dulu. Harus lengkap,” tuturnya lagi.
Gejala itu kemudian dihubungkan dengan hasil pemeriksaan pada korban serta hasil uji sampel dari sisa makanan.
Ditanya apakah mungkin racun yang digunakan mirip dengan sianida, Lipur enggan berspekulasi.
Menurutnya, apa yang terjadi menimpa NFP harus menunggu pernyataan resmi dari aparat dan sebaiknya tidak berasumsi.
“Tetap harus nunggu dari hasil lab ya, biar bisa dipastikan,” tandasnya.
Baca: Akui Memanipulasi Voting, Sutradara Idol School Mnet Terancam Dipenjara Selama 1 Tahun 6 Bulan
Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul Ciri-ciri Perempuan Misterius Pengirim Sate Maut Mulai Diketahui
Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul Sosok Wanita Misterius yang Pesan Sate Beracun Lewat Ojol, Anak Driver Ojol Jadi Korban Meninggal
Lihat selengkapnya terkait Sate Beracun di sini