Beberapa bus yang penuh terisi tahanan melaju keluar dari penjara Insein Yangon di pagi hari, menurut laporan Reuters.
Belum ada pernyataan resmi dari pihak berwenang, terkait berapa banyak tahanan yang dibebaskan.
Seorang juru bicara militer tidak menjawab panggilan.
"Semua yang dibebaskan adalah yang ditangkap karena aksi protes, serta penangkapan malam atau mereka yang keluar untuk membeli sesuatu," kata seorang anggota kelompok penasihat hukum yang mengatakan dia melihat sekitar 15 bus keluar dari penjara.
Kelompok aktivis Asosiasi Bantuan untuk Tahanan Politik (AAPP) mengatakan setidaknya 2.000 orang telah ditahan dalam aksi protes terhadap kudeta 1 Februari, seperti melansir Tribunnews.com.
Selain itu, bisnis di Yangon ditutup dan jalan-jalan sepi tanggapan atas seruan aktivis anti-kudeta untuk melakukan gerakan bungkam.
Baca: Hasil Persib vs Bali United Berakhir 1-1, Frets Butuan Jadi Penyelamat, Andhika Kena Kartu Merah
Baca: Tanggapan Dandim soal TNI Tindak Kasar Bubarkan Pernikahan di Grobogan: Faktor Capek
Seruan aktivis pro-demokrasi untuk aksi itu membuat jalan-jalan sangat lengang dan sunyi.
"Tidak keluar rumah, tidak ada belanja di toko, tidak bekerja. Semua ditutup. Hanya untuk satu hari," kata Nobel Aung, seorang ilustrator dan aktivis, kepada Reuters.
"Penjual daging dan sayuran biasa di jalan juga tidak muncul," kata seorang warga distrik Mayangone kota.
Tidak hanya itu, seorang guru di distrik Kyauktada pun mengtakan bahwa jalan-jalan sepi.
"Tidak banyak orang di jalanan, hanya pengantar air," kata guru tersebut.
Diberitakan, para aktivis juga telah menyeruhkan "aksi protes besar" pada Kamis besok (25/2/2021).
"Badai terkuat datang setelah keheningan," Ei Thinzar Maung, salah satu pemimpin protes, mengatakan dalam sebuah postingan di Facebook.
Baca: Viral TNI Bubarkan Paksa Hajatan di Grobogan, Bentak dengan Kata Kasar: Saya Banting Sekalian!
Baca: Pilihan Mobil Bekas Harga di Bawah 100 Juta, Xenia, Jazz hingga Innova
Jurnalis AP Dibebaskan
Bersama mereka yang dibebaskan pada Rabu, Thein Zaw seorang jurnalis untuk The Associated Press yang ditangkap bulan lalu pun turut dibebaskan.
Hal itu menurut laporan AP, mengutip putusan hakim yang telah menjatuhkan tuntutan karena ia melakukan pekerjaannya pada saat penangkapannya.
Pemogokan hari Rabu datang sehari setelah staf di sebuah layanan pemakaman di Mandalay mengatakan kepada Reuters bahwa seorang anak berusia tujuh tahun tewas, karena luka tembak di kota.
Ia merupakan yang termuda dari sekitar 275 orang tewas dalam tindakan keras berdarah yang dilakukan militer, menurut AAPP.
Militer menembak ayahnya tetapi memukul gadis yang duduk di pangkuannya di dalam rumah mereka, saudara perempuannya mengatakan kepada outlet media Myanmar Now.
"Dua orang juga tewas di distrik itu," kata dia.
Militer pun tidak segera mengomentari insiden tersebut.
Badan Anak-anak Perserikatan Bangsa-bangsa (UNICEF) pun turut berkomentar.
"Pengunaan kekuatan mematikan terhadap anak-anak, termasuk penggunaan peluru tajam, oleh pasukan keamanan mengambil korban anak-anak di Myanmar," kata UNICEF.
Menurut UNICEF, setidaknya dalam insiden tersebut 23 anak telah tewas, dan 11 lainnya terluka parah.
“Sejak krisis dimulai setidaknya 23 anak-anak telah tewas dan setidaknya 11 lainnya terluka parah,” kata UNICEF.(Reuters)
Baca: Tanggapan Dispar Denpasar Soal Video Viral Warga Diusir dari Pantai Sanur: Tak Ada Pantai Pribadi
Baca: Viral Pengunjung Diusir dari Kawasan Pantai Sanur, Klaim Masuk Area Pantai Pribadi Milik Hotel
Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul Junta Militer Myanmar Bebaskan Ratusan Demonstran
Lihat selengkapnya terkait berita junta militer Myanmar di sini