Begini Dampak Rumah Warga Ditutup Tembok di Ciledug, Bocah Harus Menanjak, Anggota FItness Berkurang

Editor: Archieva Prisyta
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Salah satu anak kecil yang menetap di gedung fitness milik keluarga Asep harus melewati dinding berkawat duri saat hendak memasuki kediaman mereka, Minggu (14/3/2021).

TRIBUNNEWSWIKI.COM - Berbagai kesulitan harus dihadapi Asep beserta keluarga, lantaran akses kediaman mereka di Tajur, Ciledug, Kota Tangerang, Banten, tertutup total oleh dinding beton.

Dilansir Kompas.com, Asep dan tujuh anggota keluarga lainnya menetap di gedung fitness sejak gedung tersebut dibeli oleh keluarganya pada 2016.

Gedung itu dibelinya melalui pelelangan.

Selain menetap di sana, keluarga Asep juga melanjutkan pengelolaan fitness sejak 2016 hingga saat ini.

Diketahui, dari delapan anggota keluarganya, empat diantaranya adalah anak kecil.

Masing-masing berumur 2 tahun, 5 tahun, 6 tahun, dan 7 tahun.

Pada Oktober 2019, salah satu mantan pemilik gedung tersebut membangun dua dinding sepanjang jalan gang rumah Asep dnegan jarak antar dinding sekitar 2,5 meter.

Dinding sepanjang kurang lebih 300 meter yang menutupi akses Asep beserta keluarga yang tinggal menetap di gedung fitness di balik dinding tersebut. Lokasi dinding dan gedung fitness itu berada di Tajur, Ciledug, Kota Tangerang, Banten.

Baca: Nissa Sabyan Nangis di Depan Kamera untuk Pertama Kalinya Setelah Ramai Isu Selingkuh dengan Ayus

Saat itu, anak mantan pemilik gedung itu memberikan akses bagi keluarga Asep, yakni jalan keluar atau masuk selebar 2,5 meter.

Kemudian, pada 21 Februari, si anak mantan pemilik gedung itu menutup total akses satu-satunya yang dimiliki keluarga Asep.

Kesulitan Akses Keluar atau Masuk Kediaman

Asep mengungkap, aktifitas empat anak yang ada di gedung tersebut sangat terhambat, karena ditutupnya akses satu-satunya itu.

Alasannya, kedua dinding itu terlalu tinggi untuk anak-anak.

Untuk mengatasinya, Asep serta keluarga pun meletakkan tangga serta kursi agar dinding itu dapat dilewati.

"Buat anak-anak naik tangga kan susah. Rawan jatoh juga mereka kalau naik tangga, jadinya ya mereka main antar anggota keluarga aja. Enggak main sama anak-anak tetangga," papar Asep ketika ditemui, Minggu (14/3/2021) sore.

Asep bercerita, sebelum dinding tersebut ditutup total, keempat anak itu kerap kali bermain bersama anak-anak tetangga sekitar.

Asep khawatir, jika anak-anak terluka karena keberadaan kawat berduri yang membentang sepanjang dua dinding itu.

Bahkan, Asep mengaku pernah terluka lantaran kawat berduri tersebut.

"Anak kecil ya kaya dipenjara aja. Harus manjat, susah. Biasa ke supermarket mereka, sekarang susah. Temennya ya sekarang dari keluarga aja," ungkapnya.

Menurut Asep, padahal di antara keempat anak itu, ada yang harus mengambil kelas tambahan dan les mengaji tiap sore hari.

Sementara itu, beberapa diantaranya ada yang sudah mulai sekolah.

"Ada yang sudah sekolah, tapi kan sekolah online. Tiap sore tapi mereka ngaji, mereka juga pernah jatoh waktu naik tangga itu. Kayunya roboh," tutur dia.

Mengenai parkir kendaraan pribadi, Asep menumpangkan kendaraan bermotornya di rumah atau gedung tetangganya.

"Kendaraan nitip di tetangga. Alhamdulillah punya tetangga baik," ujar dia.

Baca: Peneliti Sebut Varian Covid-19 N439K Kemungkinan Tidak Bisa Diatasi Dengan Vaksin yang Ada Saat Ini


Kesulitan Interaksi

Asep mengaku menemui hambatan lain, yaitu kesulitan berinteraksi dengan orang lain.

Lantaran adanya dua dinding itu, tukang sampah di permukiman tersebut tak pernah mengambil sampah dari kediaman Asep.

"Ya lewat aja tukang sampah. Enggak pernah masuk, orang enggak bisa. Ini makanya sampah numpuk di deket pager gedung," imbuhnya.

Selain itu, keluarga Asep pun kesulitan untuk membeli bahan pangan.

Sebab, tukang sayur keliling di lingkungan itu kesulitan untuk mengakses kediaman Asep.

Meski demikian, menurut Asep, si anak mantan pemilik gedung itu memberikan akses jalan keluar untuk Asep.

Akses keluar atau masuk tersebut terletak di bagian belakang gedung yang menembus jalan gang lain.

Namun, Asep dan keluarganya harus melewati pemakaman terlebih dahulu jika ingin melewati jalan itu.

"Kami dikasih jalan tuh pemakaman umum. Itu khusus untuk orang doang. Kendaraan seperti motor atau mobil enggak bisa (masuk atau keluar)," papar Asep.

Baca: Sakit Hati Sering Dihina Saat Bekerja, Kuli Bangunan di BSD Ini Dendam dan Bunuh Mantan Bosnya


Penghasilan Berkurang

Dampak lain terkait pembangunan tembok tersebut, kata Asep, adalah penghasilannya yang jauh berkurang.

Sebelumnya, usaha fitness milik keluarganya setidaknya memiliki 100 anggota tetap.

Namun, usai tembok itu dibangun, jumlah member kian berkurang.

"(Jumlah anggota fitness) sangat-sangat berkurang. Kalau dulu sampai 100, sekarang paling ada 10," ucap Asep.

"Kami kehilangan banyak member," ucapnya.

Padahal, menurutnya, usaha fitness adalah satu-satunya mata pencaharian keluarga mereka.

"Karena ini mata pencaharian pertama. Bayar listrik, air, sama biaya keseharian kan dari sini," paparnya.

Meski begitu, Asep mengaku tak menyerah dnegan kondisi tersebut.

Ia akan meneurskan usaha itu bersama keluarganya.

"Enggak pernah mikir nyerah, semangat terus. Badai dateng baru kami nyerah, sebelum badai dateng, ya enggak nyerah," ungkap dia.

Asep pun berharap agar dinding tersebut dapat segera dibongkar, agar aktivitasnya kembali normal.

"Karena sangat merugikan, ya harapannya dinding ini sama pembuatnya bisa segera dihancurkan. Biar kami lega lah," harap dia.

Baca: TP3 Enam Laskar FPI Klaim Kantongi Belasan Data Upaya Pembunuhan terhadap Rizieq Shihab

Baca: Kades Digeruduk Warga karena Mati Lampu Tak Bisa Nonton Ikatan Cinta, Bikin Pengumuman di WhatsApp

(TRIBUNNEWSWIKI.COM/Anindya, KOMPAS.OM/Muhammad Naufal)

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Dampak Rumah Warga di Ciledug Ditutup Tembok, Bocah Harus Memanjat hingga Kehilangan Anggota Fitness"



Editor: Archieva Prisyta
BERITA TERKAIT

Berita Populer