Informasi Awal
TRIBUNNEWSWIKI.COM - Tari Blantek / Ronggeng adalah tarian khas Betawi yang bersumber dari dasar tari topeng.
Dalam tradisi Topeng Betawi, ada tokoh perempuan yang selalu tampil sebagai penari disebut ronggeng.
Tarian ini menggambarkan sosok perempuan Betawi yang cantik, ramah dan rendah hati.
Tarian tersebut berfungsi sebagai tarian selamat datang bagi para tamu dalam acara-acara besar.
Selain itu, tarian ini berawal dari tarian pembuka dalam kesenian Blantek yang gerakannya memberikan kebahagiaan dan kenyamanan. [1]
Jika dahulu tari Ronggeng Blantek dipentaskan sebagai pembuka pertunjukan Topeng Blantek, kini tarian tersebut justru menjadi pelengkap dalam pertunjukan Jipeng atau pelengkap pertunjukkan seni betawi lainnya.
Selain itu, tari Ronggeng Blantek juga dipentaskan di berbagai acara kebudayaan Betawi, dan kerap digunakan sebagai penyambut tamu yang dianggap agung.
Dalam perkembangannnya tari Ronggeng Blantek semakin disukai masyarakat Betawi karena mencerminkan semangat jiwa yang menggelegar dalam menjalani hidup.
Tarian ini juga menggambarkan ketangkasan dan ketrengginasan gadis-gadis betawi yang rancak dan mampu beradaptasi dengan kemajuan zaman di gemerlapnya kota metropolitan. [2]
Baca: Tari Kecak
Sejarah
Tari Ronggeng Blantek diciptakan oleh Wiwiek Widiyastuti, Wara Selly, dan Joko Sukosadono, atas permintaan Dinas Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta di tahun 1978.
Tari Ronggeng Blantek yang seluruh penarinya adalah perempuan, sempat diragukan oleh sebagian kelompok yang kurang menghendaki kegiatan menari dilakukan oleh perempuan.
Masyarakat Betawi yang kesehariannya lekat dengan agama mempunyai rambu-rambu ketat terkait penari perempuan.
Oleh sebab itu saat menciptakan tarian ini Wiwik Widiyastuti memperhatikan detail gerak, busana, dan komposisi musik agar tetap berada dalam koridor nilai-nilai Islam yang menjadi marwah budaya Betawi.
Sejak mendapatkan respon positif dari masyarakat, pihak Pemda DKI Jakarta bekerjasama dengan Wiwik Widiyastuti selaku penata tari, membawa tari Ronggeng Blantek ke berbagai festival baik tingkat daerah, nasional, maupun mancanegara.
Tahun 1987 tari Ronggeng Blantek mendapat penghargaan Tempio de Oro dan menjadi juara dalam International Folklore di Sicilia, Italia, yang diikuti oleh 35 negara. [3]
Baca: Tarian Jawa
Gerakan
Gerakan tari Ronggeng Blantek awalnya perlahan tetapi kemudian berubah menjadi sangat cepat dan energik, dinamis namun tetap luwes dalam ayunan tangan dan kaki serta gelengan kepala.
Tari Ronggeng Blantek terbagi dalam tiga bagian yaitu :
(1) MANIS : Dimana seorang penari bergerak dengan lemah gemulai dalam ritme tarian yang santai.
(2) CEPAT : Dimana gerakan penari tiba-tiba berubah menjadi lebih cepat, enerjik, dan dinamis
(3) KLIMAKS : Yaitu munculnya unsur-unsur gerakan silat dalam tarian yang dibawakan dengan luwes oleh para penari.
Tarian Ronggeng Blantek sebenarnya terdiri dari 31 gerakan dengan urutan sebagai berikut: lenggang rongeh, ogek, selancar ngepik atas, selancar ronggeng, pakblang, selancar pakblang, ngepak blonter, tepak ngaronjeng, kepak dua tangan mundur, koma gelong, goyang cendol ijo, koma gelong, kewer kanan, koma gleong, klewer dua tangan, koma gleong, kewer satu variasi, jingke tepak blonter, gibang ronggeng, gonjingan satu, gonjingan dua, gonjingan blonter, tepak soder, gibang silat, dorong bambu, silat tangkis sejajar, silat tangkis rempak, gibang ronggeng, dorong bambu, gitek pose, dan jingke angklek.
Baca: Ondel-ondel
Busana
Sementara busana yang dikenakan berupa kebaya ronggeng blantek berwarna merah muda (pink), atau kuning maupun hijau terang, dengan kain tumpal putih dengan motif burung hong, toka-toka silang ronggeng berwarna merah, ampok, serbet, dan selendang ronggeng bermotif burung hong.
Perlengkapan lainnya berupa mahkota kembang topeng berumbai, kalung bunga teratai bersusun tiga, pending, dan anting berumbai. [3]
Baca: Tari Saman
Pengiring
Musik pengiring tari Ronggeng Blantek adalah gamelan topeng yang terdiri dari rebab, seperangkat gendang (gendang besar dan kulanter), ancak kenong tiga pencon, kecrek, kempul yang digantung pada sebuah gawangan, dan sebuah gong tahang atau gong angkong. [3]
Baca: Tari Jaipong