Penyergapan itu langsung diumumkan Senat Berlin di akun Twitter resmi mereka.
Dalam tweet tersebut dijelaskan polisi Berlin dan Brandenburg mulai menyasar properti kelompok tersebut pada pagi hari.
Seorang juru bicara mengatakan mereka sampai harus mengerahkan sekitar 8.000 pasukan polisi, sebagaimana diberitakan DW dari kantor berita Jerman, DPA.
Dalam pasukan itu ada pula unit khusus.
Mereka menargetkan distrik Reinickendorf, Moabit, Wedding, dan Neukölln.
Baca: Mereka Bukan Tentara atau Polisi, Mereka Teroris: Seorang Wanita Pendemo Myanmar Ditembak Mati
Baca: FPI Bingung Disebut Terlibat Terorisme di Makassar, Pengacara : Sudah Bubar Masih Dibawa Repot
Kendati demikian, setelah operasi tersebut tak ada laporan mengenai penangkapan.
Sebuah pernyataan dari Senat mengatakan Jama'atu Berlin telah menyebarkan kultus mendukung "Negara Islam."
Mereka juga menolak konstitusi Jerman dan menyerukan syariah sebagai satu-satunya hukum yang sah.
Konsep tersebut mirip dengan ide khilafah yang sempat didengung-dengungkan juga di tanah air.
"(Dalam kelompok itu), ada yang menyerukan kematian orang Yahudi," kata Sekretaris Dalam Negeri Berlin Torsten Akmann.
Kelompok tersebut diyakini memiliki sekitar 20 anggota, beberapa di antaranya telah menarik perhatian sebelumnya, dengan membagikan selebaran di beberapa wilayah Berlin.
Dikaitkan dengan penyerangan pasar Natal Berlin
Baca: Mampu Beli Gedung Bekas Istana Raja di Jerman, Siapa Sosok Sukanto Tanoto? Raja Sawit Asal Indonesia
Baca: Video Viral Kanselir Jerman Angela Merkel Panik karena Tak Pakai Masker, Banjir Pujian
Senator Dalam Negeri Berlin Andreas Geisel mengatakan pada konferensi pers bahwa asosiasi yang tidak terdaftar itu telah diawasi selama dua tahun.
"Bahaya terorisme Islam tetap tinggi," kata Geisel.
"Larangan hari ini menjadi bagian dalam perjuangan tegas melawan ekstremisme kekerasan."
Surat kabar Tagesspiegel melaporkan bahwa beberapa pengikut kelompok tersebut sebelumnya menghadiri Masjid Fussilet, yang ditutup pada tahun 2017.
Anis Amri, warga negara Tunisia yang melakukan serangan di pasar Natal Berlin pada tahun 2016 menewaskan 12 orang, juga sering mengunjungi masjid tersebut, menurut otoritas.
Jumlah Salafi di Jerman naik ke rekor tertinggi sebanyak 12.150 pada 2019, menurut badan intelijen domestik.
Adakan pelatihan imam untuk tekan radikalisme
Baca: Menteri Agama Sebut Radikalisme Datang Lewat Anak Good Looking, Begini Klarifikasi Kemenag
Diberitakan sebelumnya, pemerintah dan komunitas Muslim Jerman bekerja sama untuk memerangi radikalisme.
Menteri Dalam Negeri Horst Seehofer mengatakan tak akan membiarkan ekstremisme dan terorisme menggagalkan kerja sama itu, sebagaimana diberitakan DW, 10 November silam.
Salah satu upaya yang mereka tempuh adalah program untuk para imam berbahasa Jerman di kota Osnabrück.
Dalam program tersebut, ada agenda berupa pelatihan imam.
Mereka akan berdiskusi dan menawarkan solusi tentang berbagai topik, termasuk kelas agama Islam di sekolah dan pelatihan yang diterima para penceramah Islam.
Bülent Ucar, direktur Institut Teologi Islam di Universitas Osnabrück, mengatakan bahwa pelatihan tidak akan cukup, lulusan program juga perlu mendapatkan posisi di masjid.
Baca: Joe Biden Fokus Isu Timur Tengah & Terorisme, Jaksa Militer AS Tuntut Dalang Bom Bali & JW Marriot
Dalam sebuah wawancara dengan kantor berita Protestan Jerman EPD, Ucar mendesak pemerintah Jerman untuk memberikan dukungan negara kepada masjid-masjid lokal untuk membantu mereka menjadi lebih mandiri secara finansial.
Negara dapat mendanai program integrasi dan bahasa Jerman di masjid dengan cara yang sama, seperti negara mendukung program sosial di komunitas agama lain.
“Kemudian jemaah bisa menggunakan sumbangan dari anggotanya untuk membiayai imam mereka,” kata Ucar.
Bagi ketua Dewan Muslim di Jerman, perluasan program untuk melatih para imam yang berbahasa Jerman sudah lama tertunda.
Padahal program tersebut ia nilai efektif untuk mengurangi ekstremisme, kata ketua dewan Aiman Mazyek kepada radio publik RBB menjelang konferensi tersebut.