Rentetan rudal balistik Iran telah membuat pasukan AS kocar-kacir, beberapa di antaranya tak sadarkan diri ketika pangkalan mereka di Irak dibombardir.
Diberitakan The Washington Post, satu di antara mereka adalah Mayor Alan Johnson.
Tidak ada pasukan AS yang tewas meskipun Iran menggunakan senjata yang masing-masing memiliki panjang sekitar 40 kaki (12 meter), dan membawa bahan peledak seberat 1.600 pon .
Senjata itu lebih kuat daripada senjata apa pun yang diluncurkan untuk menyerang orang Amerika dalam satu generasi.
Tetapi, 110 tentara yang selamat akhirnya didiagnosis dengan cedera otak traumatis.
Baca: Pemimpin Terakhir Uni Soviet Desak Vladimir Putin Ketemu Joe Biden, Tak Mau Sampai Ada Perang Nuklir
Baca: Kerap Pamer Nuklir, Korut Disebut Bahaya Terbesar bagi Dunia, Setiap Uji Coba Bisa Berpotensi Perang
Beberapa membutuhkan rawat inap yang cukup lama dan terapi intensif di Pusat Medis Militer Nasional Walter Reed, di luar Washington.
Kala itu Presiden Donald Trump mengumumkan tak ada korban.
Memang benar. Namun informasi itu hanya informasi spontan di tengah situasi genting.
Kenyataannya, 29 anggota militer, termasuk Johnson.
Dia mengalami luka cukup serius dalam operasi yang disebut Iran sebagai Operasi Martir Soleimani itu.
Bahkan hingga hari ini, para tentara masih trauma.
“Saya tidak dapat berpikir bahwa ada orang yang lolos dari ini tanpa efek, secara psikologis atau emosional, karena betapa traumatisnya peristiwa itu,” kata Letnan Kolonel Johnathan Jordan, petugas operasi untuk unit Angkatan Udara yang hadir malam itu.
Baca: Dulu Jadi Sekutu Dekat AS di Era Trump, Kini PM Israel Belum Pernah Dihubungi Joe Biden, Diremehkan?
Baca: Putra Mahkota Arab Diduga Bunuh Jurnalis Khashoggi, Dulu Dilindungi Trump, Kini Dilepaskan Biden
Ketika serangan dimulai, Johnson ditugaskan ke unit penerbangan Angkatan Darat, berkumpul dengan tentara di tempat penampungan di atas permukaan tanah.
Tempat itu memiliki sisi terbuka dan karung pasir yang menutupi beton.
Bunker ini dirancang untuk menghentikan roket yang lebih kecil, bukan rudal.
Johnson tidak ingat tiga ledakan pertama dan percaya, itu karena ledakan ketiga membuatnya dan tentara lain pingsan dalam waktu singkat.
Johnson, seorang ahli bedah penerbangan, bertanya apakah ada yang membutuhkan perhatian medis.
Tidak ada yang mengatakan ya, mendorong laporan awal ke Pentagon tentang tidak adanya cedera yang kemudian diumumkan oleh Trump.
Baca: Kembali Tegang, Taiwan Kerahkan Rudal Setelah Jet Tempur China Masuk Zona Udara Taiwan
Baca: Korea Utara Kenalkan Rudal Balistik Baru, Diluncurkan dari Kapal Selam, Diklaim Paling Kuat Sedunia
“Faktanya adalah, setiap orang memiliki gejala cedera otak traumatis ini,” kata Johnson.
“Tapi gejala itu tidak signifikan dibandingkan dengan apa yang kita alami sepanjang malam.”