Informasi Awal
TRIBUNNEWSWIKI.COM - Penyakit batu empedu atau cholelithiasis adalah kondisi yang ditandai dengan sakit perut mendadak akibat terbentuknya batu di dalam kantung empedu.
Penyakit batu empedu juga bisa terjadi di saluran empedu.
Kantung empedu adalah organ berukuran kecil yang terletak di bawah organ hati.
Organ ini mampu memproduksi dan menyimpan cairan empedu yang berperan penting dalam proses pencernaan, termasuk mencerna kolesterol yang terkandung di dalam makanan yang dikonsumsi.
Sebagian besar batu empedu berasal dari endapan kolesterol yang akhirnya mengeras dan membentuk batu.
Di dalam kantung empedu terdapat cairan yang disebut sebagai empedu dan berperan dalam pencernaan lemak.
Batu empedu akan terbentuk ketika cairan empedu tersebut mengeras.
Baca: Gagal Jantung
Ukuran batu empedu bisa bermacam-macam, mulai dari yang sekecil butiran pasir hingga sebesar bola pingpong.
Cairan empedu yang mengeras dan menjadi batu tersebut memiliki jumlah yang bervariasi.
Seseorang bisa memiliki banyak batu, bisa juga hanya memiliki satu batu pada kantong empedu, jika orang tersebut mengidap batu empedu.
Sebagian besar cholelithiasis (kolelitiasis) bersifat ringan dan tidak membutuhkan penanganan di rumah sakit.
Namun jika batu empedu menyumbat saluran empedu, upaya penanganan perlu segera dilakukan untuk mencegah komplikasi.
Gejala
Kondisi penyakit batu empedu atau kolelitiasis yang ringan jarang menimbulkan gejala.
Penderitanya mulai dapat merasakan gejala jika saluran empedu tersumbat akibat pengendapan batu empedu.
Gejala utama batu empedu adalah nyeri secara mendadak di bagian kanan atas atau tengah perut.
Sakit perut juga dapat disertai dengan gejala lain, seperti mual, muntah, hilang nafsu makan, urine berwarna gelap, sakit maag, dan diare.
Frekuensi kemunculannya jarang, tetapi bisa dipicu oleh makanan dengan kadar lemak yang tinggi.
Rasa sakit ini juga bisa menyebar ke sisi tubuh atau tulang belikat.
Segera periksakan diri ke dokter jika Anda mengalami gejala di atas atau gejala yang muncul disertai demam, menggigil, mata dan kulit berwarna kuning, atau sakit perut berlangsung hingga lebih dari 8 jam.
Jika penyumbatan terjadi pada salah satu saluran pencernaan dan disebabkan oleh batu empedu, maka akan muncul gejala-gejala seperti berikut:
• Sakit perut yang terus-menerus atau hilang timbul, terutama beberapa saat setelah mengonsumsi makanan tinggi lemak (kolik bilier).
• Sakit kuning detak jantung yang cepat.
• Timbul demam jika ada infeksi saluran empedu. Jika saluran tersumbat karena batu tanpa infeksi, demam tidak akan terjadi.
• Gatal-gatal pada kulit.
• Kehilangan nafsu makan.
• Mual dan muntah.
Untuk itu, segera periksakan diri ke dokter jika mengalami sakit perut hebat yang berlangsung lebih dari delapan jam, sakit kuning, atau demam.
Baca: Ternyata Ini Penyebab Penyakit Batu Empedu
Faktor Risiko
Faktor-faktor yang dapat meningkatkan risiko terkena batu empedu:
• Faktor usia
Semakin meningkatnya usia seseorang, maka risiko penyakit batu empedu juga akan meningkat. Penyakit ini umumnya dialami orang yang sudah berusia di atas 40 tahun.
• Jenis kelamin
Bila dibandingkan pria, wanita memiliki risiko dua kali lebih tinggi untuk terkena penyakit batu empedu.
• Dampak melahirkan
Wanita yang pernah melahirkan memiliki risiko lebih tinggi. Perubahan hormon pada masa kehamilan bisa saja meningkatkan kadar kolesterol, dan menjadi penyebab batu empedu.
• Pengaruh berat badan
Risiko akan meningkat jika mengalami kelebihan berat badan atau obesitas.
• Pemakaian pil kontrasepsi hormonal
Pemakaian pil kontrasepsi hormonal akan meningkatkan risiko terbentuknya batu kandung empedu pada wanita.
Penyebab
Batu empedu diduga muncul akibat endapan kolesterol dan bilirubin yang menumpuk di dalam kantung empedu.
Penumpukan terjadi ketika cairan empedu tidak mampu melarutkan kolesterol dan bilirubin berlebih yang dihasilkan hati.
Beberapa faktor juga dapat memengaruhi seseorang terkena batu empedu, seperti faktor usia, jenis kelamin, keturunan, pola makan tidak sehat, diet yang terlalu ketat, dan kondisi medis tertentu.
Batu empedu bisa terjadi karena adanya kolesterol yang mengeras dan tertimbun dalam cairan empedu.
Ini terjadi karena ada ketidakseimbangan antara senyawa kimia dan kolesterol dalam cairan tersebut.
Ketika seseorang memiliki batu empedu, penanganan khusus tidak dibutuhkan, karena pada umumnya batu empedu tidak menimbulkan rasa sakit.
Namun, apabila batu empedu menyumbat saluran empedu, maka pengidap batu empedu akan mengalami rasa sakit pada bagian kanan perut yang datang secara tiba-tiba atau disebut juga kolik bilier.
Baca: Geger Ditemukan 2000 Batu Empedu di Tubuh Wanita Ini, Akibat Tak Pernah Sarapan dan Jarang Minum Air
Diagnosis
Proses diagnosis batu empedu diawali dengan pemeriksaan gejala dan fisik.
Selanjutnya, dokter akan melakukan tes pemindaian untuk menentukan tingkat keparahan batu empedu yang dialami pasien.
Jenis tes pemindaian yang dilakukan meliputi USG perut, CT scan, MRI, dan endoscopic retrograde cholangio-pancreatography (ERCP).
Terkadang, tes darah juga dilakukan untuk mendeteksi penyakit yang disebabkan oleh batu empedu.
Komplikasi
Kolelitiasis jarang menimbulkan komplikasi, namun komplikasi dapat terjadi jika tindakan pengobatan tidak tepat.
Komplikasi itu meliputi kolesistitis akut, cholangitis, pankreatitis akut, pseudokista pankreas atau sepsis.
Kolesistitis atau inflamasi kantong empedu memiliki gejala, seperti rasa sakit perut yang konstan, demam tinggi, sakit kuning.
Pankreatitis akut dapat terjadi apabila batu empedu masuk dan menghambat saluran pankreas.
Peradangan pankreas ini akan menyebabkan sakit perut yang akan terus bertambah parah.
Baca: 8 Tanda Awal Gagal Ginjal yang Kerap Diabaikan, Kamu Harus Tahu!
Pengobatan
Jika batu empedu berukuran kecil dan tidak menimbulkan gejala, maka penanganan secara medis tidak diperlukan.
Namun apabila penderita merasakan gejala sakit perut yang muncul secara tiba-tiba, maka tindakan pengobatan perlu segera dilakukan.
Metode pengobatan batu empedu meliputi operasi pengangkatan kantung empedu (kolesistektomi) atau konsumsi obat.
Meski demikian, penggunaan obat jarang dilakukan karena kurang efektif dalam mengobati batu empedu.
Jenis operasi yang direkomendasikan untuk mengatasi kondisi ini adalah operasi lubang kunci atau dikenal juga dengan kolesistektomi laparoskopik.
Metode operasi ini direkomendasikan, karena tingkat risiko komplikasi yang lebih rendah.
Umumnya, batu empedu tidak mengganggu kesehatan, tetapi apabila menunjukkan gejala yang mengganggu hingga terjadi komplikasi, maka harus ditangani secara serius.
Fungsi organ ini memang penting, tetapi tubuh dapat bertahan tanpa kantung empedu.
Untuk pencernaan lemak, hati tetap dapat mengeluarkan cairan empedu meski tanpa kantung empedu.
Baca: Kebiasaan Tidur Bisa Ketahui Potensi Serangan Jantung
Pencegahan
Selain itu, mengonsumsi air putih dalam dosis yang tepat juga bisa membantu melarutkan kadar lemak yang berlebihan.
Kolelitiasis dapat dicegah dengan menjalani pola makan sehat dan seimbang.
Konsumsilah makanan tinggi serat dan hindari makanan bersantan, berminyak, berbumbu kacang, atau mengandung mentega dan kurangi konsumsi makanan berkolesterol tinggi.
Selain itu, upaya pencegahan batu empedu juga dapat dilakukan dengan membatasi konsumsi alkohol, berolahraga secara teratur, perbanyak konsumsi cairan, dan hindari diet yang terlalu ketat.
Baca: Waspada Kanker Usus, Ketahui Gejala dan Penyebabnya