Program pengembangan vaksin ini dilakukan melalui kerja sama antara Kementerian Kesehatan (Kemenkes), RSUP dr. Kariadi Semarang, dan Universitas Diponegoro (Undip).
Mengutip dari pemberitaan Kompas.com, pembuatan Vaksin Nusantara ini harus melalui sejumlh tahapan.
Vaksin yang diberi nama AV-Covid-19 tersebut telah menyelesaikan uji klinis tahap pertama.
Saat ini, perkembangan sudah sampai menyelesaikan uji klinis tahap kedua.
Berikut 6 fakta mengenai pengembangan Vaksin Nusantara!
Baca: PBB Kritik Keras Distribusi Vaksin Covid-19 : Tidak Adil, Ada 130 Negara Belum Terima Dosis
Baca: Sekjen PBB: Sangat Tidak Adil, 10 Negara Sudah Pakai 75% dari Seluruh Vaksin Covid
Menurut pemberitaan Kompas.com, Vaksin Nusantara diklaim sebagai vaksin pertama di dunia yang pengembangannya menggunakan pendekatan sel dendritik.
Sel dendridik merupakan komponen dari sel darah putih yang dimiliki oleh setiap orang.
Kemudian sel ini dipaparkan dengan antigen proteis S dari virus penyebab Covid-19, SARS-CoV-2.
Menurut pernyataan Tim Peneliti Vaksin Nusantara FK Undip/RSUP dr. Kariadi, Yetty Movieta Nency, pendekatan ini membuat vaksin tidak memiliki kandungan virus corona yang sudah dilemhkan dan ikut disuntikkan ke dalam tubuh pasien.
Sel dendridik yang sudah dipaparkan dengan antigen protein S tersebut kemudian diinjeksikan ke dalam tubuh kembali.
Saat diinjeksikan ke tubuh, maka sel dendridik yang sebelumnya sudah menjalani masa inkubasi dan diperkenalkan dengan rekombinan antigen SARS-CoV-2 akan memicul sel-sel imun lain.
Baca: Maruf Amin: Vaksinasi Covid-19 Hukumnya Wajib sampai 70% Tervaksin, Itu Fardu Kifayah
Baca: Terpengaruh Hoaks tentang Vaksin Covid-19, Warga Dusun di NTT Ketakutan dan Bersembunyi di Hutan
Cara kerja vaksin yang sedang dikembangkan Indonesia termasuk rumit.
Pasalnya, metode yang digunakan tidak seperti vaksin Covid-19 lainnya seperti Sinovac, Pfizer, dn AstraZeneca, yang mengandalkan sel dendridik yang sudah ada dalam tubuh manusia.
Vaksin Nusantara dikembangkan dengan cara mengeluarkan sel dendridik dari dalam tubuh, kemudian dimasukkan kembali.
Setelah darah diambil, relawan diperbolehkan pulang.
Tim pengembang vaksin kemudian akan menumbuhkan sel dendridik di laboratorium.
Sel darah merah lalu dipisahkan dan sel darah putih dihilangkan.
Hal ini dilakukan untuk menumbuhkan sel precursor dendridik di cawan laboratorium.
Sel precursor lalu diberikan senyawa khusus agar dapat tumbuh menjadi sel dendridik.
Waktu inkubasi yang dibutuhkan sekitar 2-3 hari.
Harga Vaksin Nusantara disebut akan dijual sekitar 10 dollar AS atau setara dengan sekitar Rp 144.000.
Bila dibandingkan dengan vaksin lainnya, harga ini tidak selisih jauh.
Baca: Tak Hanya Kena Sanksi Denda Rp 5 Juta, Penolak Vaksin Juga Terancam Tak Dapat Bansos
Baca: Berusia 77 Tahun, Wakil Presiden Ma’ruf Amin Divaksin Covid-19 Hari Ini
Berdasarkan pemberitaan Kompas.com, laporan dari percobaan pada 27 subjek yang menerima vaksin, diklaim bahwa tidak terjadi efek samping dengan tingkat sedang atau berat.
Menurut keterangan Yetty, efek samping yang dihasilkan pada masa uji tahap 1 tergolong ringan.
Efek samping yang ditimbulkan oleh Vaksin Nusantara dikelompokkan menjadi dua, yaitu efek samping sistemik dan lokal.
Efek samping sistemik terdiri atas keluhan berupa nyeri otot, nyeri sendi, lemas, mual, demam, dan menggigil.
Hal ini dilaporkan oleh 20 subjek.
Tujuh subjek lain mengaku tidak mengalami efek samping seperti itu.
Sedangkan efek samping lokal berupa nyeri lokal, kemerahan, pembengkakan, penebalan, serta gagal pada titik suntik.
Efek samping ini dirasakan oleh 8 subjek, sementara 19 subjek lainnya tidak mengalami efek serupa.
Vaksin Nusantara bersifat personal menyesuaikan kondisi komorbid setiap individu.
Proses dari pembuatan vaksin diambil dari darah individu yang akhirnya nanti setelah darah mengalami inkubasi akan disuntikkan kembali ke individu tersebut.