Inilah Calon Peserta Vaksinasi Covid-19 Tahap Kedua dan Jadwal Penyelenggarannya

Penulis: Ika Wahyuningsih
Editor: Natalia Bulan Retno Palupi
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

ILUSTRASI - Seorang pekerja medis memberikan vaksin Biotek Sinovac untuk melawan virus corona COVID-19 kepada seorang pria di pusat perawatan kesehatan di Yantai, di provinsi Shandong, China timur pada 5 Januari 2021.

TRIBUNNEWSWIKI.COM - Berikut adalah data calon penerima vaksin covid-19 atau virus corona tahap kedua dan jadwal penyelenggarannya.

Calon peserta vaksinasi Covid-19 tahap kedua ini disampaikan oleh Juru Bicara Vaksinasi Covid-19 dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Siti Nadia Tarmidzi, Senin (15/2/2021).

Penerima vaksin Covid-19 tahap kedua ini cukup beragam, mulai dari petuga pelayan publik hingga jurnalis.

"Penerima vaksin Covid-19 tahap kedua yakni petugas pelayanan publik. Terdiri dari pendidik, pedagang pasar, tokoh agama, penyuluh agama, wakil rakyat, pedagang pasar, pejabat negara, pegawai pemerintah pusat maupun daerah, petugas keamanan, petugas pelayanan publik di sarana transportasi dan atlet,"

"Kemudian para jurnalis dan pekerja media akan termasuk juga. Untuk tahap awal ada 5.000 jurnalis sesuai surat dari PWI," papar Nadia.

Seorang perawat memegang dosis vaksin Oxford-AstraZeneca COVID-19 di komunitas Nossa Senhora Livramento di tepi Rio Negro dekat Manaus, negara bagian Amazonas, Brasil pada 9 Februari 2021. (MICHAEL DANTAS / AFP)

Inilah rincian data sementara sasaran vaksinasi Covid-19 tahap kedua:

- Pendidik (guru, dosen, tenaga pendidik) 5.057.582 orang

- Pedagang pasar 4.014.232 orang

- Tokoh agama dan penyuluh agama (66.831 orang)

- Wakil rakyat (DPR RI, DPD, DPR prov, kab/kota) 20.231 orang

- Pejabat negara (menteri/wakil menteri/kepala lembaga/gubernur/bupati/wali kota/sekda/eselon) 630 orang

- Pegawai daerah (ASN pusat, daerah, dan honorer) 2.778.246 orang

- Keamanan (TNI, Polri, satpol PP Prov/kab/kota) 2.778.246 orang

- Pelayan publik (Damkar, BUMN, BUMD, kepala desa/perangkat desa, BPJS) 3.670.069 orang

- Transportasi 1.247.116 orang

- Atlet 1.175 orang

- Jurnalis 5.000 orang

Baca: Sindikat Vaksin Covid-19 Palsu Terbongkar di China, Isi Vaksin Cuma Air Mineral, Keuntungan Rp 39 M

Baca: Sanksi Berat Menanti Warga yang Tolak Vaksinasi, Layanan Administrasi hingga Bansos Bisa Dihentikan

Sementara untuk kepastian waktu pelaksanaan masih belum diinformasikan waktunya.

"Setelah ada izin, vaksinasi (tahap kedua) langsung dilaksanakan," kata Nadia.

Sementara itu, berdasarkan data sementara Kemenkes, target sasaran vaksinasi tahap kedua untuk petugas pelayanan publik sebanyak 17.857.157 orang.

Nadia menekankan, data tersebut masih terus bergerak dan akan mengalami pembaharuan.

Hingga saat ini Kemenkes masih terus mengevaluasi dan melakukan finalisasi data calon peserta vaksinasi tahap kedua ini.

Ini dilakukan paralel sembari menanti izin penggunakan vaksin dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

Presiden Joko Widodo menjadi orang pertama yang disuntik vaksin Covid-19 dalam program vaksinasi massal secara gratis di Indonesia, di Istana Merdeka, Jakarta Pusat, Rabu (13/1/2021) pagi. Vaksin yang disuntikkan kepada Presiden Jokowi adalah vaksin CoronaVac buatan Sinovac Life Science Co Ltd yang bekerja sama dengan PT Bio Farma (Persero). Sebelum disuntik vaksin, Presiden Jokowi terlebih dahulu melakukan pendaftaran dan verifikasi data, serta penapisan kesehatan, antara lain pengukuran suhu tubuh dan tekanan darah. Vaksinasi tersebut menjadi titik awal pelaksanaan vaksinasi nasional di Indonesia sebagai salah satu upaya penanganan pandemi Covid-19. (Tribunnews/HO/Biro Pers Setpres/Muchlis Jr)

Opsi Vaksinasi Mandiri Kian Menguat, Presiden Jokowi Berikan Tanggapan

Vaksinasi mandiri Covid-19 yang dinlai dapat mempercepat target herd immunity semakin ramai dibicarakan.

Dalam rapat kerja antara Menteri Kesehatan dengan Komisi IX di DPR, wacana vaksinasi mandiri ini pertama kali muncul.

vaksinasi digadang-gadang dilakukan secara masif oleh dua pihak sekaligus, yakni pemerintah kepada masyarakat dan korporasi kepada karyawannya.

Saat itu, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyatakan, pemerintah membuka opsi vaksinasi Covid-19 mandiri.

Namun, vaksinasi tersebut bukan perorangan, melainkan melalui perusahaan untuk para karyawannya.

"Bolehnya untuk korporasi. Jadi dengan syarat satu, korporasi mau beli, dengan syarat semua karyawan mesti dikasih," ka Budi.

Baca: Pemilik Apotek Sebut Helena Lim adalah Partner Usaha, Polisi Selidiki Kasus Penyalahgunaan Vaksin

Baca: Mengenal Sosok Crazy Rich PIK Helena Lim yang Disuntik Vaksin Covid-19, Pernah Jadi Penyanyi

Budi menuturkan hal tersebut dalam rapat kerja bersama Komisi IX DPR, Kamis (14/1/2021).

Perusahaan diizinkan membeli vaksin sendiri dengan prodsen vaksin Covid-19.

Adapun syaratnya yakni vaksin Covid-19 yang dibeli harus sesuai standar WHO.

Serta data penerima vaksin pun harus diserahkan ke pemerintah, sehingga tidak ada.

Ini diharapkan vaksinasi dapat lebih cepat berjalan.

Dengan demikian, pencapaian target herd immunity sebesar 70.

Slamet menyampaikan, dengan adanya vaksinasi mandiri akan membantu pemerintah dalam mencapai target 70 persen penduduk yang di vaksin.

Hal tersebut agar mencapai target herd immunity secepat-cepatnya.

Kendati demikian, Slamet memberi saran kepada pemerintah terkait vaksinasi mandiri.

Menurutnya, pemerintah perlu mengendalikan harga vaksinasi mandiri.

"Seperti mengendalikan tes antigen atau rapid atau PCR. Bisa saja bisnis, tapi harus dikendalikan, pemerintah harus menentukan batas atas vaksinasi mandiri," tandas Slamet.

Respon Pemerintah

Presiden Joko Widodo juga menyinggung terkait dibukanya opsi vaksinasi Covid-19 mandiri.

Namun, jika mekanisme tersebut direalisasi, kemungkinan vaksin yang digunakan akan berbeda dengan vaksin yang digratiskan pemerintah.

"Mungkin (vaksinasi mandiri) bisa diberikan asal merek vaksinnya berbeda, tempat untuk melakukan vaksin juga berbeda bisa dilakukan," papar Jokowi di acara Kompas 100 CEO Forum, Kamis (21/1/2021).

Usulan vaksinasi mandiri, menurut Jokowi, muncul atas usulan para pengusaha di Tanah Air.

Melalui mekanisme tersebut, biaya vaksinasi akan ditanggung perusahaan.

Meskipun pemerintah menyambut baik hal tersebut, namun hingga saat ini belum diputuskan pemerintah.

Tenaga kesehatan menunjukkan vaksin Covid-19 buatan Sinovac Biotech saat pelaksanaan vaksin untuk tenaga medis di RS Siloam Kebon Jeruk, Jakarta, Kamis (14/1/20210). Vaksinasi tahap awal akan menargetkan 1,48 juta tenaga kesehatan yang dijadwalkan berlangsung dari Januari hingga Februari 2021. (KOMPAS.com / KRISTIANTO PURNOMO)

"Banyak dari perusahaan, para pengusaha menyampaikan, Pak bisa enggak kita vaksin mandiri. Ini yang baru kita akan putuskan," ujar Jokowi. "Sekali lagi harus kita kelola isu ini dengan baik," kata dia.

Jokowi juga optimis, vaksinasi Covid-19 bisa rampung kurang dari setahun.

Karena, ada 30.000 vaksinator yang siap bertugas.

Jika dalam sehari seorang vaksinator menyuntik 30 orang, maka total penduduk yang disuntik vaksin dalam sehari mencapai 1 juta.

"Oleh sebab itu ini terus kita dorong juga kesiapan vaksinnya jangan sampai trlambat," tandas Jokowi.

(TRIBUNNEWSWIKI.COM/Ka, Kompas.com)

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul Sasaran Vaksinasi Covid-19 Tahap Dua: Wakil Rakyat, Pendidik, Pedagang, hingga Jurnalis



Penulis: Ika Wahyuningsih
Editor: Natalia Bulan Retno Palupi
BERITA TERKAIT

Berita Populer