Rusia: 60% Penduduk Dunia Kebal Covid-19 pada Agustus 2021, Memungkinkan Kembali Hidup Normal

Penulis: Febri Ady Prasetyo
Editor: Archieva Prisyta
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Ilustrasi virus corona. Juru bicara Kantor Kepresidenan Rusia memperkirakan 60% penduduk dunia akan kebal dari virus corona pada Agustus nanti.

TRIBUNNEWSWIKI.COM - Juru bicara Kantor Kepresidenan Rusia atau Kremlin, Dmitry Peskov, mengatakan jumlah penduduk dunia yang kebal terhadap virus corona bakal mencapai 60% pada musim panas tahun ini.

Hal ini memungkinkan kembalinya kehidupan normal pada Agustus "dengan perlindungan meningkat".

Peskov menyebut hal itu sesuai dengan yang para ahli katakan.

Dia mengatakan, berdasarkan perkiraan ahli imunologi, sekitar 60% jumlah penduduk dunia harus mengembangkan kekebalan terhadap SARS-CoV-2, secara alami maupun buatan.

"Bagi saya, imunisasi vaksin virus corona harus berkembang sekitar pertengahan musim panas," kata Peskov Senin, (8/2/2021), dilansir dari Kontan yang mengutip TASS.

Pada akhir Desember 2019, China memberi tahu Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tentang wabah pneumonia yang sebelumnya tidak dikenal di Kota Wuhan.

Baca: Presiden Tanzania Tolak Vaksin Covid-19, Klaim Ditolong Tuhan hingga Enggan Jadi Kelinci Percobaan

Ilustrasi virus corona (CDC) (CDC)

Sejak itu, kasus virus corona baru dilaporkan di seluruh penjuru dunia.

Pada 11 Maret 2020, WHO menyatakan wabah virus corona sebagai pandemi.

Menurut statistik terbaru, lebih dari 106,6 juta orang telah terinfeksi virus corona di seluruh dunia dan lebih dari 2,3 kematian akibat Covid-19.

Di Rusia, hingga saat ini, mencatat lebih dari 3,9 juta kasus virus corona terkonfirmasi, dengan angka kematian akibat Covid-19 sebanyak 76.700 di seluruh negeri beruang merah.

Sementara itu, dunia sangat bergantung pada vaksin untuk menciptakan kekebalan dari corona.

Hingga saat ini ada enam vaksin Covid-19 yang diperkirakan akan segera mendapat persetujuan dari WHO.

1. Sinopharm dan SinoVac, Vaksin Covid-19 buatan China

WHO tengah mempertimbangkan kemungkinan persetujuan cepat untuk dua vaksin China, yakni Sinopharm dan Sinovac.

Baca: BPOM Setujui Vaksin Covid Buatan Sinovac Diberikan kepada Lansia, Berikut Persyaratannya

Keduanya telah mengajukan ke WHO, dan tengah dilakukan peninjauan, dengan keputusan paling cepat pada Maret.

SinoVac belum merilis hasil uji coba fase III secara global.

Namun vaksinnya sudah disetujui untuk penggunaan darurat di negara-negara termasuk Brasil, Indonesia, dan Turki.

Ilustrasi vaksin Sinovac (AFP)

Sementara untuk Sinopharm sedang mengajukan permohonan untuk dua vaksin Covid-19.

Akan tapi kemungkinan persetujuan pada Maret hanya menyangkut yang dikembangkan oleh afiliasinya yang berbasis di Beijing, Institut Produk Biologi Beijing (BIBP), yang telah banyak digunakan untuk inokulasi di China.

2. Vaksin Johnson & Johnson

Johnson & Johnson belum memublikasikan hasil uji klinis fase III dari vaksinnya.

Namun. UE telah menyampaikan pihaknya mengharapkan perusahaan untuk mengajukan persetujuan paling cepat Februari. 

Baca: Sudah Terima Vaksin Bukan Berarti Aman dari Covid-19, Ini yang Harus Dilakukan

Sebagai informasi, vaksin Johnson & Jonhson, yang mempunyai perjanjian tidak mengikat untuk memasok Covax dengan 500 juta dosis selama jangka waktu yang tidak ditentukan, diharapkan mendapatkan persetujuan WHO paling cepat pada Mei atau Juni.

3. Vaksin Pfizer-BioNTech

WHO telah mengesahkan vaksin yang dikembangkan Pfizer BioNTech pada akhir Desember lalu.

Covax awalnya tidak memasukkan suntikan Pfizer-BioNTech dalam daftar pilihannya untuk pembelian vaksin di awal.

Pfizer dan BioNTech memakai teknologi terbaru berbasis versi sintetis molekul virus SARS-Cov-2 yang disebut messenger RNA atau disingkat mRNA. Sejauh ini belum ada vaksin berbasis teknologi ini yang diberi izin resmi.

Vaksin Pfizer-BioNTech mempunyai tingkat efikasi 95 persen setelah mendapat dua suntikan.

Namun vaksin ini harus disimpan dalam pendingin dengan suhu minus 70 derajat Celsius.

4. Vaksin Moderna

Untuk vaksin Moderna, kalender persetujuan sementara menunjukkan persetujuan WHO bagi vaksin yang didasarkan pada teknologi mRNA, diberikan pada akhir Februari.

Baca: Lewat GAVI, Indonesia Akan Dapatkan Puluhan Juta Dosis Vaksin Covid-19 Gratis Buatan AstraZeneca

Vaksin Moderna harus disimpan pada suhu minus 20 derajat Celsius.

Produsen obat AS Moderna Inc menyatakan vaksinnya 94,5 persen efektif, menurut data awal dari studi perusahaan yang masih berlangsung.

Uji coba vaksin ini melibatkan 30.000 orang di AS.

Setengah dari mereka diberi dua dosis vaksin dengan jarak empat pekan. Sisanya mendapat suntikan placebo.

Sama seperti Pfizer, vaksin Moderna juga mengandalkan messenger RNA, atau mRNA, molekul genetik yang dibaca oleh mesin sel untuk membangun protein di dalam sel.

Pada vaksin Moderna, mRNA berisi instruksi untuk membangun protein spike virus corona, bagian yang membantu virus memasuki sel manusia.

Vaksin menginduksi sel manusia untuk membuat protein spike, dan sistem kekebalan kemudian membuat antibodi untuk menempel pada protein spike.

Antibodi yang distimulasi vaksin tersebut, bertugas untuk mencegah virus asli menginfeksi sel sehat pada tubuh di masa mendatang.

5. Vaksin AstraZeneca-Oxford

Artinya, vaksin vektor virus dibuat dari versi yang dilemahkan dari virus flu biasa yang menyebabkan infeksi pada simpanse.

Virus flu simpanse telah diubah secara genetik untuk memasukkan urutan genetik dari apa yang disebut protein spike yang digunakan virus corona untuk masuk ke sel manusia.

Baca: Israel Bakal Kirim 5000 Dosis Vaksin Covid-19 untuk Vaksinasi Petugas Medis Palestina

Kantor perusahaan farmasi dan biofarmasi multinasional Inggris-Swedia AstraZeneca PLC di Macclesfield, Cheshire, Inggris. (Paul ELLIS / AFP)

Dilansir Reuters (31/12/2020), vaksin virus corona AstraZeneca-Oxford disebut manjur dalam mencegah infeksi Covid-19 bergejala dengan tingkat efektivitas sebesar 70,4 persen.

Angka ini diperoleh dari 5.807 orang yang mendapat vaksin dua dosis setelah 30 hari, dibandingkan dengan 101 dari 5.829 orang yang mendapat plasebo.

6. Vaksin yang diproduksi SK Bioscience, Korea Selatan

Vaksin yang diproduksi di Korea Selatan di SK Bioscience, berdasarkan kalender sementara yang diterbitkan WHO, dapat disetujui Badan PBB pada paruh kedua Februari.

Sebelumnya telah diberitakan jika Organisasi Kesehatan Dunia ( WHO) berencana menyetujui sejumlah vaksin.

Vaksin-vaksin ini akan diberikan ke negara miskin dalam hitungan minggu hingga bulan depan.

Langkah WHO ini bertujuan supaya negara-negara miskin segera mendapatkan vaksin virus corona, seperti dilansir dari CNA, Kamis (21/1/2021).

(Tribunnewswiki/Tyo/Kontan/S.S. Kurniawan)

Artikel ini telah tayang di Kontan.co.id dengan judul "Rusia: Agustus nanti kehidupan normal lagi, dengan 60% populasi Bumi kebal corona" dan Kompas.com dengan judul "6 Vaksin yang Akan Disetujui WHO, dari AstraZeneca hingga Sinovac"



Penulis: Febri Ady Prasetyo
Editor: Archieva Prisyta
BERITA TERKAIT

Berita Populer