Pemilik Tanah Marah, Pengungsi Gempa Majene Harus Bongkar Tenda dan Pindah Tempat Mengungsi

Penulis: Archieva Nuzulia Prisyta Devi
Editor: Archieva Prisyta
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Gempa tektonik 5,9 sr guncang majene dan daerah sekitarnya, gunung longsor hingga gedung ambruk dilaporkan rusak

Selain itu peralatan dan perlengkapan untuk bayi seperti susu dan popok juga sangat kurang. 

Padahal, Zaskia punya 8 keluarga yang masih balita ikut mengungsi. Jarak rumah Zaskia dengan lokasi posko induk pengungsian cukup jauh. 

"Perlengkapan bayi seperti popok, susu sangat kurang. Padahal ada anak bayi yang baru berusia 20 hari tinggal di dalam (lokasi pengungsian)," ujar Zaskia.

Sementara itu Abdul Khair (31), warga Desa Tubo Tengah, Kecamatan Sendana harus pergi ke posko induk di Kecamatan Malunda untuk mendapatkan susu untuk anaknya. 

Baca: Gempa Majene, Kantor Gubernur Sulbar Ambruk, 189 Orang Dirawat di Mamuju, 637 Luka Ringan di Majene

Khair mengaku, masih banyak lokasi pengungsian di Desa Tubo Tengah yang belum terjamah. Beruntung dia memiliki kerabat yang mengungsi di posko induk di Kecamatan Malunda. 

Keluarganya itu lah yang langsung mengambil susu untuk anaknya begitu bantuan tiba. Khair lalu dihubungi keluarganya itu untuk mengambil susu anaknya yang baru berusia 6 bulan. 

"Tidak ada susu. Masih kurang bantuan. Kalau air minum sudah dapat. Kalau untuk mandi cukup air sumur," kata Khair yang mendirikan tenda di halaman rumahnya. 

(TribunnewsWiki)

Artikel ini telah tayang di tribun-timur.com dengan judul Nestapa Pengungsi Gempa Sulbar di Majene, Terpaksa Bongkar Tenda Gagara-Gara Pemilik Tanah Marah. dan "Jeritan Pengungsi Majene: Bantuan Hanya di Tenda Besar, Air Bersih dan Susu Bayi Kurang"



Penulis: Archieva Nuzulia Prisyta Devi
Editor: Archieva Prisyta

Berita Populer