Pemilik Tanah Marah, Pengungsi Gempa Majene Harus Bongkar Tenda dan Pindah Tempat Mengungsi

Penulis: Archieva Nuzulia Prisyta Devi
Editor: Archieva Prisyta
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Gempa tektonik 5,9 sr guncang majene dan daerah sekitarnya, gunung longsor hingga gedung ambruk dilaporkan rusak

Adapun korban jiwa sebanyak 11 orang. Luka berat 64 orang, 215 orang luka sedang, 275  orang luka ringan

Sedangkan warga yang dilaporkan hilang sebanyak tiga orang di Dusung Aholeang.

Mereka diduga tertimbun bangunan dan longsor. 

Puluhan pengungsi gempa di Majene tepaksa tinggal di kandang ayam, Minggu (17/1/2021). (TRIBUN-TIMUR.COM/HASAN)

Pengakuan Pengungsi Lainnya

Jeritan pengungsi Majene, mengaku bantuan hanya diberikan untuk tenda besar, kekurangan air bersih dan susu bayi.

Tiga hari sejak gempa berkekuatan magnitudo 6,2 mengguncang Majene, warga masih mengungsi di tenda-tenda darurat yang didirikan.

Sebagian warga memilih untuk mengungsi di posko yang disediakan pemerintah.

Namun ada juga yang mendirikan di dekat rumah mereka. 

Ramli (50), warga Desa Kayuangin, Kecamatan Malunda, Kabupaten Majene adalah salah satu pengungsi yang mendirikan tenda di dekat rumahnya.

Ramli menuturkan, warga yang memilih mengungsi di dekat rumah jarang tersentuh bantuan. 

Sebagian besar warga yang mendapat bantuan merupakan pengungsi di posko-posko resmi.

Padahal, sebagian warga tidak mengungsi di posko resmi karena menjaga barang-barangnya di rumahnya. 

"Kekurangan air bersih. Kalau bantuan ada juga mi sama beras. Tapi jarang, banyak bantuan yang di tenda-tenda besar," kata Ramli saat diwawancara Kompas.com, Sabtu (16/1/2020) sore.

Baca: Penyaluran Tersendat, Mensos Tri Risma Anggap Wajar Ada Penjarahan Logistik Bantuan Gempa di Majene

Penerangan di Desa Ramli bahkan masih belum stabil, pasalnya listrik masih padam.

Lilin dan minyak tanah untuk lampu pelita juga tidak ada, membuat warga menggunakan senter atau ponsel yang sudah diisi dayang di tempat lain. 

Di desa yang lebih terpencil, ada juga warga yang masih belum menerima bantuan.

Mereka berada di Desa Salutahungab, area pegunungan di Kecamatan Malunda. 

Padahal rumah mereka banyak yang rata dengan tanah. 

"Jadi ada yang bilang kenapa cuma dibawa di sini saja bukan ke Lombong," kata Ramli. 

Gempa tektonik 5,9 SR guncang majene dan daerah sekitarnya, gunung longsor hingga gedung ambruk dilaporkan rusak (KOMPAS.COM/JUNAEDI)

Senada dengan Ramli, Nurul Zaskia (22), warga Desa Mekkatta juga masih mengaku kesulitan mendapatkan air bersih.

Halaman
123


Penulis: Archieva Nuzulia Prisyta Devi
Editor: Archieva Prisyta

Berita Populer