Video berdurasi 2 menit 4 detik itu menggegerkan publik lantaran disebut-sebut mengandung 'chip'.
Nantinya 'chip' itu bisa melayak lokasi orang yang telah disuntik vaksin.
Selain itu, pembuat narasi juga mengungkapkan jika barcode yang tertempel ditiap vaksin, mengandung kode tertentu.
Narasi tersebut, salah satunya diunggah oleh pengguna Facebook bernama Jamilha Amar.
"Sinovac ternyata juga sbg jps /chip yg utk mngetahui keberadaan seseorang yg telah di vaksin, " tulisnya.
Dia mengunggah klaim itu dengan sebuah video wawancara Najwa Sihab dengan Menteri BUMN, Erick Thohir.
Baca: HOAKS di Facebook, Beredar Narasi Jokowi Tak Disuntik Vaksin Melainkain Disuntik Vitamin B
Baca: Beredar Teori Penyuntikan Vaksin Jokowi Gagal, Profesor Zubairi Jelaskan Lewat Utas Twitter
Dilansir dari laman Covid19.go.id, Juru Bicara Kementerian Kominfo Dedy Permadi mengatakan, informasi tersebut adalah hoaks alias tidak benar.
Menurutnya, informasi yang disebarkan oleh akun Facebook bernama Jamilha itu sangat misleading.
Pasalnya pengunggah juga sempat menyertakan kalimat barcode mengandung kode.
Padahal barcode yang terdapat pada kemasan vaksin COVID-19, yang dijelaskan oleh Erick Thohir dalam video tersebut, digunakan untuk pelacakan distribusi vaksin.
Sehingga tidak mungkin bisa digunakan dan menempel pada orang yang telah menerima vaksin.
Sejalan dengan itu, Staf Khusus Menteri BUMN Arya Sinulingga turut memberikan penjelasan soal barcode yang ada ditiap botol vaksin.
Menurut Arya, nantinya tiap botol vaksin akan disertakan barcode.
Barcode itu bertujuan untuk mengetahui distribusi vaksin dari tempat produksi hingga nantinya disuntikkan ke masyarakat.
“Pasti yang menyebarkan ini hoaks ya, memelintir informasi. Yang di maksud Pak Erick itu adalah bahwa yang namanya barcode vaksin itu, itu terdata supaya tidak ada barcode yang palsu,"
"Misalnya, vaksin yang satu ini punyanya si A. Jadi ketahuan datanya gitu loh, jadi semuanya ada barcodenya,” ujar Arya, Senin (18/1/2021).
Arya menegaskan, tak mungkin vaksin Covid-19 terdapat chip di dalamnya.
“Jadi bukan ada chip-nya, mana mungkin ada chipnya di situ, itu kan cairan, gimana sih. Ini pasti orang-orang yang membuat hoaks ini memang sengaja untuk membuat banyak korban rakyat Indonesia kalau tidak divaksin,” kata dia.
Ia pun menilai, orang yang menyebut di dalam vaksin Covid-19 terdapat chip hanya untuk menghambat proses vaksinasi yang akan dilakukan oleh pemerintah.
“Jadinya, orang-orang yang menyebarkan hoaks ini adalah orang-orang yang ingin mencelakaan orang lain. Jadi dia menghambat vaksinasi dan itu kan bisa membuat orang mati terbunuh juga karena corona,” ungkapnya.
Sedangkan menurut Juru Bicara Satuan Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito, narasi soal 'chip' di dalam vaksin Sinovac sangatlah bohong.
Selain tak bisa melacak orang, penerbitan izin penggunaan darurat vaksin COVID-19 Sinovac CoronaVac setelah melalui proses ilmiah.
Sehingga tak ada alasan untuk terus menjelek-jelekkan proses vaksinasi Covid-19 di Indonesia.
Baca: Paling Keras Tolak Vaksin Covid-19, Ribka Tjiptaning Dirotasi PDIP, Digeser ke Komisi VII DPR RI
Baca: HOAKS Mayor Sugeng Dikabarkan Meninggal Setelah Disuntik Vaksin, Polisi Bakal Lakukan Penyelidikan
Sebelumnya, beredar juga kabar hoaks soal keaslian vaksin Sinovac yang dipakai oleh Jokowi pada Rabu (13/1/2021).
Masih dilansir dari laman Covid19.go.id, postingan di media sosial menyebut vaksin yang digunakan Presiden Jokowi bukan Sinovac asli karena harus dimasukkan ke dalam alat suntik.
narasi tersebut langsung dibantah oleh Juru Bicara Vaksinasi Covid-19 dari PT Bio Farma, Bambang Heriyanto.
Bambang mengatakan jika postingan tersebut adalah hoaks.
Ia kemudian menjelaskan, vaksin yang dikemas menggunakan prefilled syringe (vaksin dan alat suntik dikemas dalam satu wadah dosis tunggal) adalah vaksin yang digunakan dalam uji klinis.
Sedangkan vaksin yang digunakan untuk program vaksinasi tahap awal ini memang dikemas dalam vial sehingga vaksin dalam vial harus ditarik dulu isinya menggunakan jarum suntik.
Lebih lanjut Bambang menjelaskan untuk tahap-tahap awal, vaksin Sinovac ini diprioritaskan untuk mereka di garis depan (nakes) sebanyak 3 juta dosis.
Ke depan Biofarma akan memproses sendiri vaksin menggunakan bulk dari Sinovac.
"Nanti setelah 3 juta vial ini habis, vaksin yang akan digunakan menggunakan bulk yang diproses lebih lanjut di Bio Farma, dan akan mempunyai kemasan yang berbeda," ungkapnya.