“Jadinya, orang-orang yang menyebarkan hoaks ini adalah orang-orang yang ingin mencelakaan orang lain. Jadi dia menghambat vaksinasi dan itu kan bisa membuat orang mati terbunuh juga karena corona,” ungkapnya.
Sedangkan menurut Juru Bicara Satuan Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito, narasi soal 'chip' di dalam vaksin Sinovac sangatlah bohong.
Selain tak bisa melacak orang, penerbitan izin penggunaan darurat vaksin COVID-19 Sinovac CoronaVac setelah melalui proses ilmiah.
Sehingga tak ada alasan untuk terus menjelek-jelekkan proses vaksinasi Covid-19 di Indonesia.
Baca: Paling Keras Tolak Vaksin Covid-19, Ribka Tjiptaning Dirotasi PDIP, Digeser ke Komisi VII DPR RI
Baca: HOAKS Mayor Sugeng Dikabarkan Meninggal Setelah Disuntik Vaksin, Polisi Bakal Lakukan Penyelidikan
Sebelumnya, beredar juga kabar hoaks soal keaslian vaksin Sinovac yang dipakai oleh Jokowi pada Rabu (13/1/2021).
Masih dilansir dari laman Covid19.go.id, postingan di media sosial menyebut vaksin yang digunakan Presiden Jokowi bukan Sinovac asli karena harus dimasukkan ke dalam alat suntik.
narasi tersebut langsung dibantah oleh Juru Bicara Vaksinasi Covid-19 dari PT Bio Farma, Bambang Heriyanto.
Bambang mengatakan jika postingan tersebut adalah hoaks.
Ia kemudian menjelaskan, vaksin yang dikemas menggunakan prefilled syringe (vaksin dan alat suntik dikemas dalam satu wadah dosis tunggal) adalah vaksin yang digunakan dalam uji klinis.
Sedangkan vaksin yang digunakan untuk program vaksinasi tahap awal ini memang dikemas dalam vial sehingga vaksin dalam vial harus ditarik dulu isinya menggunakan jarum suntik.
Lebih lanjut Bambang menjelaskan untuk tahap-tahap awal, vaksin Sinovac ini diprioritaskan untuk mereka di garis depan (nakes) sebanyak 3 juta dosis.
Ke depan Biofarma akan memproses sendiri vaksin menggunakan bulk dari Sinovac.
"Nanti setelah 3 juta vial ini habis, vaksin yang akan digunakan menggunakan bulk yang diproses lebih lanjut di Bio Farma, dan akan mempunyai kemasan yang berbeda," ungkapnya.