TERNYATA Inilah Efek Samping Vaksin Covid-19 dari Merk Sinovac, Mulai dari Ringan hingga Berat

Penulis: Ika Wahyuningsih
Editor: Archieva Prisyta
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Seorang pekerja medis menunjukkan botol vaksin Biotek Sinovac melawan virus corona COVID-19 di pusat perawatan kesehatan di Yantai, di provinsi Shandong, China timur pada 5 Januari 2021.

TRIBUNNEWSWIKI.COM - Inilah efek samping dari CoronoVac, vaksin virus corona baru produksi Sinovac yang bisa dirasakan.

Hal ini disampaikan oleh Kepala BPOM Penny Lukito dalam konferensi pers secara daring, Senin (11/1/2021).

Penny mengatakan, efek samping lokal vaksin Covid-19 CoronoVac adalah:

1. Nyeri

2. Iritasi

3. Pembengkakan

Kemudian ada efek samping sistemik vaksin Covid-19 CoronoVac berupa :

1. Nyeri otot

2. Fatique

3. Demam

Vaksin Sinovac yang digunakan untuk memvaksin Presiden Jokowi, Rabu (13/1/2021). (Biro Pers Sekretariat Presiden/Laily Rachev)

Sementara itu, untuk efek samping derajat berat vaksin Covid-19 CoronoVac ini yakni:

1. Sakit kepala

2. Gangguan di kulit

3. Diare

Penny menjelaskan, efek samping itu tidak berbahaya dan bisa pulih kembali.

"Efek samping derajat berat yang dilaporkan hanya 0,1% hingga 1%. Efek samping itu tidak berbahaya dan bisa pulih kembali," ujar Penny.

Kemudain, Penny juga menjelaskan, data keamanan vaksin Covid-19 CoronaVac berasal dari studi klinis tahap ketiga atau akhir di Indonesia, Turki, dan Brasil.

Ini juga dipantau selama bulan setelah penyuntikan dosis yang kedua.

Baca: Bisakah Masyarakat Bisa Pilih Sendiri Merk Vaksin Covid-19? Jubir Kemenkes Buka Suara

Baca: Seperti ini Bentuk dan Kemasan Vaksin Sinovac yang Dipakai Pemerintah Indonesia

Sebagai informasi, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) pada Senin (11/1) memberikan persetujuan penggunaan darurat alias emergency use authorization (EUA) kepada CoronoVac.

"Secara keseluruhan, vaksin Covid-19 CoronoVac aman dengan kejadian efek samping yang ditimbulkan bersifat ringan hingga sedang," ujar Kepala BPOM ini.

UPDATE Vaksin Covid-19: Di Norwegia, 23 Lansia Meninggal Dunia Setelah Disuntik Vaksin Pfizer

Norwegia melaporkan 23 kematian pada orang lanjut usia (lansia) setelah disuntik vaksin corona merk Pfizer/BioNTech.

Para lansia ini meninggal dunia setelah disuntik dosis pertama vaksin virus Corona Pfizer.

Sebanyak 13 di antara mereka, meninggal dunia akibat efek samping dari vaksin tersebut, demikian dilaporkan Daily Star, Jumat (15/1/2021).

Reaksi umum terhadap vaksinasi yang terjadi pada orang-orang di Norwegia ini adalah demam dan mual.

Pejabat kesehatan Norwegia tidak mengungkapkan keprihatinan tetapi menyesuaikan pedoman mereka untuk vaksin tersebut. (AFP VIA GETTY IMAGES)

“Mungkin telah berkontribusi pada hasil yang fatal pada beberapa pasien yang lemah,” menurut Sigurd Hortemo, kepala dokter di Badan Obat Norwegia.

Ke-13 orang yang menderita efek samping adalah pasien panti jompo dan setidaknya berusia 80 tahun.

Pejabat kesehatan tidak mengungkapkan keprihatinan tetapi mereka menyesuaikan pedoman mereka tentang siapa yang harus menerima vaksin.

Steinar Madsen, direktur medis badan tersebut, mengatakan: "Sangat jelas bahwa vaksin ini memiliki risiko yang sangat kecil, dengan pengecualian kecil untuk pasien yang paling lemah.

"Dokter sekarang harus mempertimbangkan dengan cermat siapa yang harus divaksinasi."

"Mereka yang sangat lemah dan pada akhir hayat dapat divaksinasi setelah penilaian individu.”

Lebih dari 30.000 orang di Norwegia telah menerima suntikan pertama vaksin Pfizer atau Moderna sejak bulan lalu, menurut angka resmi.

Seorang petugas kesehatan di Israel mengambil botol vaksin Pfizer / BioNTech di pusat yang dibuka oleh otoritas Tel Aviv. (JACK GUEZ / AFP)

Perusahaan farmasi Pfizer mengatakan telah mengetahui kematian yang dilaporkan di Norwegia dan bekerja sama dengan Badan Obat Norwegia untuk mengumpulkan semua informasi yang relevan.

Vaksin Pfizer adalah satu dari tiga yang telah diizinkan untuk digunakan di Inggris, bersama dengan yang diproduksi oleh AstraZeneca dan Moderna.

Seorang juru bicara perusahaan Pfizer mengatakan: "Otoritas Norwegia telah memprioritaskan imunisasi penduduk di panti jompo, kebanyakan dari mereka sangat lanjut usia dengan kondisi medis yang mendasarinya dan beberapa yang sakit parah."

"Badan Pengobatan Norwegia mengonfirmasi jumlah insiden sejauh ini tidak mengkhawatirkan, dan sesuai dengan ekspektasi," demikian pernyataan juru bicara Pfizer tersebut.

Kasus Kematian Pertama di Swiss

Sebelumnya, kejadian serupa juga terjadi di Swiss.

Seorang pasien vaksin virus Corona meninggal dunia lima hari setelah menerima suntikan Pfizer.

Sama seperti di Norwegia, pasien ini juga seorang lansia dan penghuni panti jompo.

Pasien ini meninggal pada akhir Desember 2020 lalu.

Baca: Bisakah Masyarakat Bisa Pilih Sendiri Merk Vaksin Covid-19? Jubir Kemenkes Buka Suara

Baca: Pemerintah Khususkan Vaksin Covid-19 untuk Lansia dan Perluas Ruang Lingkupan Vaksinasi

Ia dilaporkan mengalami sakit perut setelah dia diberi suntikan pada Malam Natal, dan meninggal pada hari Selasa meskipun autopsi diperlukan untuk mengetahui apakah ada hubungan sebab akibat.

Warga lanjut usia di rumah perawatan Swiss ini meninggal setelah menerima vaksin virus corona Pfizer / BioNTech, dikutip Daily Star.

Pria itu divaksinasi pada Malam Natal bersama dengan penghuni panti jompo lainnya di Lucerne.

Dua hari kemudian dia mulai mengeluh sakit uretra dan perut dan tekanan darahnya turun sementara detak jantungnya meningkat.

Dia sebelumnya bereaksi negatif terhadap vaksinasi flu tetapi ini belum dikomunikasikan kepada tim vaksinasi, Zeitpunkt melaporkan.

Dokter di rumah perawatan memeriksa pasien pada malam tanggal 27 Desember dan melaporkan bahwa pria itu tenang tetapi perutnya keras dan sakit saat disentuh.

Pada Selasa pagi dokter diberitahu bahwa kondisi pasien semakin memburuk.

Pada saat dia dipanggil kembali ke rumah, pria itu telah meninggal.

Pasien menderita demensia tetapi dilaporkan sehat.

Belum ada cukup bukti yang menunjukkan apakah dia meninggal akibat menerima vaksin, dan autopsi akan dilakukan untuk mengetahuinya.

Seorang juru bicara Pfizer mengatakan kepada Daily Star: "Pfizer dan BioNTech mengetahui kematian seperti yang dilaporkan oleh Swissmedic pada 30 Desember setelah pemberian vaksin COVID-19 BNT162b2."

"Swissmedic telah menyatakan tidak ada bukti yang menunjukkan hubungan sebab akibat langsung antara vaksinasi Covid-19 dan kematian yang dilaporkan. Pikiran langsung kami tertuju pada keluarga yang berduka."

“Penting untuk dicatat bahwa kejadian merugikan yang serius, termasuk kematian yang tidak terkait dengan vaksin sayangnya kemungkinan besar terjadi pada tingkat yang sama seperti yang terjadi pada populasi umum orang tua dan individu berisiko yang saat ini diprioritaskan untuk vaksinasi."

Ini adalah kasus pertama yang diketahui di dunia tentang seseorang yang meninggal segera setelah menerima vaksin inovatif.

Ada beberapa kasus pasien yang menderita reaksi alergi ringan hingga sedang akibat tusukan, dan masih harus dilihat apakah pria lanjut usia tersebut menderita respons imun seperti itu.

Sebanyak 13 orang lanjut usia di Norwegia yang meninggal dunia mengalami efek samping, termasuk demam dan mual, setelah disuntik vaksin Covid-19 merk Pfizer. (REUTERS VIA DAILY STAR)

Otoritas kesehatan telah memberikan peringatan bahwa semua obat seperti vaksin dapat menyebabkan efek samping.

Kebanyakan ringan dan berumur pendek, termasuk nyeri di tempat suntikan, sakit kepala atau kelelahan.

Namun, sebagian besar orang tidak akan mengalami efek samping.

Gejalanya dapat dialami dengan banyak vaksin, tidak hanya satu yang dikembangkan untuk virus corona, dan orang mungkin merasa tidak sehat saat sistem kekebalan mereka merespons protein.

Negara-negara di Uni Eropa, rata-rata memakai vaksin Pfizer / BioNTech atau vaksin Moderna.

Sebagian negara, seperti Inggris, juga memakai vaksin produksi Oxford / AstraZeneca.

(TRIBUNNEWSWIKI.COM/Hr/Ka, Kontan.co.id)

Sebagian artikel ini telah tayang di Kontan.co.id dengan judul Ringan hingga sedang, begini efek samping vaksin virus corona Sinovac



Penulis: Ika Wahyuningsih
Editor: Archieva Prisyta
BERITA TERKAIT

Berita Populer