Akan tetapi, video itu tak ada hubungannya dengan pemakzulan.
Presiden ke-45 AS itu mendesak para pendukungnya untuk menghindari kekerasan dan kekacauan politik, hal yang tak biasa dilakukan olehnya.
Namun, yang paling menonjol dari pernyataan tersebut adalah cara penyampaiannya.
Trump berbicara langsung ke kamera, menggunakan teleprompter untuk tetap mengikuti skrip.
Video itu diunggah di Kanal Youtube Gedung Putih, dan dibagikan pula oleh Official Twitter Gedung Putih.
Pasalnya, akun pribadi Trump telah ditutup permanen oleh Twitter.
Cara penyampaian Trump seperti ini benar-benar tidak seperti biasanya, yang langsung memberikan pidato prime time di depan pers.
Pilih 'Sembunyi' dari Media
Baca: Alasan Demokrat Ngotot Lakukan Pemakzulan, Jika Upaya Berhasil, Donald Trump Tak Bisa Nyapres Lagi
Faktanya, Trump belum melakukan wawancara sama sekali sejak kerusuhan di Gedung Capitol.
Dilansir Politico, baik presiden maupun para pembantunya, mangkir dari permintaan wawancara.
Mereka juga tidak memberikan statemen tentang pemakzulan.
Dan setelah dia dilarang dari Twitter, diskusi tentang pemindahan presiden ke situs media sosial alternatif juga telah ditangguhkan.
Menjauhi sorotan media seperti ini melenceng dari figur Donald Trump.
Baca: Pendukung Trump Tewas Tertembak di Gedung Capitol, Joe Biden: Ini Bukan Protes, Ini Pemberontakan
Ini juga menggambarkan betapa parahnya dampak yang ia buat atas tindakannya, menghasut pendukung yang berujung kerusuhan.
Seorang mantan ajudan mengatakan dia belum pernah melihat tingkat ketenangan seperti ini dari Trump sejak rekaman bom "Access Hollywood" dirilis pada tahun 2016.
“Ini adalah salah satu dari beberapa kali dia merasakan besar (genting)nya situasi,” kata ajudan itu.
Disarankan untuk Diam
Baca: Mike Pence Tolak Gulingkan Trump, Pentolan Partai Republik Malah Mantap Dukung Pemakzulan Presiden
Dikelilingi para pembantu senior dan pejuang kampanyenya, Trump telah menunjukkan sedikit minat untuk mencoba memutar narasi tentang pemakzulan.
Dia disarankan untuk tidak menonjolkan diri.
Terkait langkah ini, pendukung presiden mengaku lega.
Pasalnya mereka takut apa pun yang dia katakan hanya akan jadi blunder, merugikan dirinya sendiri.
"Mereka tampaknya berada dalam 'mode penguncian', yang saya yakini adalah tempat yang bijak saat ini dari sudut pandang media," kata mantan pembawa acara Fox News Eric Bolling, yang permintaannya baru-baru ini untuk mewawancara Trump tidak dijawab oleh Gedung Putih.
“Dia memiliki jejak media yang besar dan itu pasti sangat sulit. Pasti sangat sulit untuk tidak bisa membela diri, menyatakan kasus Anda, menjelaskan alasan Anda, ”kata Bolling.
Jajaki Sikap Partai Republik
Baca: Jelang Pemakzulan, Trump Tuding Antifa Jadi Dalang Kerusuhan di Gedung Capitol, Bukan Pendukungnya
Sebaliknya, Trump diam-diam telah mengukur tensi Senat Partai Republik yang akan memutuskan nasibnya, apakah bisa nyapres lagi atau tidak.
Trump membahas topik tersebut dengan Senator Lindsey Graham ketika Republikan Carolina Selatan itu bergabung dengannya di atas Air Force One, Selasa (12/1/2021).
Presiden juga berbicara melalui telepon dengan Senator Tim Scott dari Carolina Selatan, yang mengumumkan penentangannya terhadap pemakzulan Trump yang kedua.
Lingkaran dalam presiden telah berusaha untuk menekan DPR dan Senat Partai Republik.
"Setiap Republikan yang memilih untuk pemakzulan mungkin akan diutamakan dan mereka akan kalah," kata McLaughlin dalam sebuah wawancara.
Beberapa Kader Tak Takut
Baca: Twitter Resmi Tutup Akun Donald Trump Secara Permanen, Pendukung Trump Kecam Langkah Tersebut
Kendati demikian, beberapa pentolan Partai Republik tak takut dengan ancaman tersebut, termasuk Pemimpin Mayoritas Senat Mitch McConnell.
Mereka tak khawatir meski harus melepaskan diri dari lingkaran Donald Trump.
McConell merencakan akan memutskan untuk menghukum Trump, ketika proses hukum pemakzulan sudah diajukan ke Senat.
Memang secara pribadi, banyak kader partai, termasuk mereka yang bekerja untuk pemilihan kembali Trump, marah kepadanya.
Seorang mantan pejabat kampanye bahkan menyebut tindakan presiden "tidak dapat dibenarkan."
Baginya, tidak mungkin bagi partai besar untuk membela Trump.