Pandemi Covid-19 yang bermula dari Wuhan, China, kini telah memakan banyak korban jiwa di berbagai belahan dunia.
Lockdown dan berbagai macam cara, telah dilakukan oleh otoritas negara-negara dunia demi menanggulangi pandemi Covid-19 secara global.
Dari sisi pencegahan dan dan pengobatan, belum adanya vaksin efektif yang sanggup menangkal Covid-19.
Hal tersebut lah yang membuat membuat banyak negara atau lembaga kesehatan berpacu melakukan riset vaksin Covid-19.
Mulai dari China, Amerika Serikat hingga Jerman kini sedang berpacu dengan waktu untuk menemukan formula vaksin Covid-19 yang efektif dan cepat bisa menangkal pandemi saat ini.
Salah satu vaksin Covid-19 produksi Sinovach Biotech yang dikembangkan dari China, mendapat sorotan khusus.
Vaksin CoronaVac yang produksi Sinovac Biotech memang sudah datang di banyak negara berkembang, seperti di Indonesia, Brasil, hingga Turki.
Namun, kontroversi mengiringi pemberitaan terkait vaksin Covid-19 dari Sinovac.
Anvisa, regulator kesehatan Brasil, mengatakan, otoritas kesehatan China tidak transparan dalam mengizinkan penggunaan darurat vaksin virus corona baru buatan Sinovac tersebut.
Baca: WHO Minta Dunia Tak Cemas Berlebihan Meski Otoritas Inggris Peringatkan Salah Satu Produk Vaksin Ini
Presiden Brasil Jair Bolsonaro telah berulang kali meragukan vaksin virus corona bertajuk CoronaVac buatan Sinovac dari China, dengan mengatakan, "asal" pembuatnya tidak bisa dipercaya.
Di Sao Paulo, negara bagian terpadat di Brasil, pihak berwenang telah mempertaruhkan vaksin Sinovac, dengan Gubernur Joao Doria, musuh Bolsonaro, menyebutkan, negara bagiannya akan mulai vaksinasi pada Januari 2021.
Hanya, Sao Paulo tidak akan bisa mulai menggunakan vaksin virus corona Sinovac sampai dapat lampu hijau dari Anvisa.
Sementara Anvisa telah lama bersikap apolitis, Bolsonaro telah menunjuk sekutu untuk itu dalam beberapa bulan terakhir, memicu kekhawatiran di kalangan profesional kesehatan bahwa keputusannya mungkin dipengaruhi oleh pertimbangan politik.
"Brasil adalah pemimpin internasional dalam proses evaluasi CoronaVac," kata Anvisa dalam pernyataan di situsnya, dikutip Tribunnewswiki.com dari Kontan, Brasil: China tidak transparan untuk izin penggunaan darurat vaksin corona Sinovac.
"Vaksin tersebut telah memiliki otorisasi penggunaan darurat di China sejak Juni tahun ini".
"Kriteria China untuk pemberian otorisasi penggunaan darurat tidak transparan, dan tidak ada informasi yang tersedia tentang kriteria yang saat ini digunakan oleh otoritas China untuk membuat keputusan itu," sebut Anvisa.
Setidaknya, puluhan ribu orang telah menggunakan vaksin virus corona Sinovac dalam program penggunaan darurat China, yang secara resmi meluncur pada Juli lalu, yang menargetkan kelompok terbatas orang-orang berisiko tinggi.
Baca: Vaksin Sinovac: Diimpor Indonesia & Belum Umumkan Level Efektifitas, Ahli Medis AS Khawatir Hal Ini
China belum membuat perincian publik tentang bagaimana menentukan apakah vaksin virus corona baru memenuhi syarat untuk penggunaan darurat.
Komisi Kesehatan Nasional China tidak menanggapi permintaan komentar dari Reuters.
Seorang perwakilan Sinovac menolak berkomentar tetapi merujuk pada konferensi pers pada Oktober lalu saat seorang pejabat kesehatan China mengatakan, peluncuran inokulasi darurat setelah tinjauan yang ketat serta sesuai dengan hukum China dan aturan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
Vaksin ini menunjukkan, "Keamanan dan imunogenisitas yang sangat baik dalam uji klinis Fase 1 dan Fase 2," kata pejabat kesehatan China itu.
CoronaVac sedang menjalani pengujian Tahap 3 di Sao Paulo saat ini.
Gubernur Sao Paulo mengatakan pada Senin (14/12), data kemanjuran akan rilis pada 23 Desember, delapan hari lebih lambat dari rencana awal, untuk memungkinkan ukuran sampel yang lebih besar dan analisis yang lebih lengkap.
Selain dipertanyakan oleh otoritas, gelombang penolakan vaksin dari Sinovac juga semakin meluas di warga Brasil hingga kini.
Meski vaksin Sinovac sudah mendarat di berbagai negara dan disebut siap untuk dipakai, ahli medis di Amerika Serikat khawatir dengan rekam jejak perusahaan pembuat vaksin asal China tersebut.
Menurut keterangan Washington Post, Sinovac ternyata memiliki sejarah penyuapan di China.
Persoalan suap ini memang bukan di era vaksin Covid-19.
Skandal penyuapan terungkap pada 2016 silam, di mana Sinovac menyuap Badan Pengawas Obat dan Makanan China.
Dan teernyata suap tersebut ternyata terkait dengan izin pengembangan vaksin SARS pada 2003 dan flu babi pada 2009.
Sinovac juga mengakui kasus suap yang melibatkan pemimpinnya, Weidong Yin.
Baca: Amnesty International Khawatir Banyak Negara Kaya Berlomba Riset & Belanja Vaksin Covid-19, Ada Apa?
Perusahaan menyebutkan tak bisa menolak permintaan sejumlah uang dari pejabat saat itu sehingga mau tidak mau terjadilah penyuapan.
Yin yang juga merupakan pendiri dan kepala eksekutif perusahaan juga mengaku telah membayar suap lebih dari US$ 83.000 periode 2002-2011.
Sebagai imbalannya, pejabat regulasi akan mengupayakan sertifikasi vaksin Sinovac untuk SARS, flu burung, dan flu babi.
Rekam jejak penyuapan ini pun banyak disoroti, terlebih diketahui bahwa Sinovac belum mengumumkan kadar kemanjuran dari vaksin yang mereka kembangkan.
Berbeda dengan dua produsn lainnya seperti Moderna dan Pfize yang menyebutkan lebih dari 90% vaksin mereka efektif dalam analisis awal.
Menurut pakar medis, Sinovac memang tidak pernah terlibat dalam skandal keamanan soal vaksin.
Perusahaan ini juga tidak terbukti bahwa salah satu vaksin yang disetujui dalam kasus penyuapan adalah salah.
“Namun fakta bahwa perusahaan memiliki sejarah penyuapan menimbulkan keraguan panjang atas klaim data yang tidak dipublikasikan dan tidak ditinjau oleh rekan sejawat tentang vaksinnya,” kata Arthur Caplan, Direktur tika Medis New York University Langone Medical Center.