Epidemiolog Sebut Kemanjuran Sinovac Belum Bisa Dipastikan, Ibaratkan Beli Kucing Dalam Karung

Penulis: Ika Wahyuningsih
Editor: Melia Istighfaroh
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Gambar selebaran yang dikeluarkan oleh kantor pers Pemerintah Negara Bagian Sao Paulo memperlihatkan Gubernur Negara Bagian Sao Paulo Joao Doria memegang vaksin COVID-19 selama tahap uji coba vaksin yang diproduksi oleh perusahaan China Sinovac Biotech di Rumah Sakit das Clinicas (HC) di negara bagian Sao Paulo , Brasil, pada 21 Juli 2020. Uji coba vaksin akan dilakukan di Brasil dalam kemitraan dengan Brasil Research Institute Butanta. Handout / Pemerintah Negara Bagian Sao Paulo / AFP

TRIBUNNEWSWIKI.COM - Keamanan dan efikasi alias kemanjuran vaksin Sinovac memang belum bisa dipastikan.

Hal tersebut disampaikan oleh Epidemiolog Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia ( FKM UI) Pandu Riono.

Bukan tanpa alasan, hal tersebut menyusul masih dilakukannya uji klinis vaksin fase ketiga.

Juga belum keluarnya izin dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

Pandu memperingatkan supaya tidak terlena dengan euforia vaksin virus corona tersebut pada masyarakat dan pemerintah.

Dikutip Tribunnewswiki dari Kompas.com, Pandu menyinggung tentang studinya yang belum selesai dan efek samping yang belum diketahui, Jumat (11/12/2020).

Baca: Vaksin Sinovac: Diimpor Indonesia & Belum Umumkan Level Efektifitas, Ahli Medis AS Khawatir Hal Ini

Baca: Vaksin Belum Bisa Digunakan, Sejumlah Rumah Sakit Sudah Buka Pendaftaran Vaksinasi

"Karena studinya belum selesai, efek samping dari vaksin ini saya juga belum tahu. Problem terbesar ini," ujar Pandu.

Pandu mengatakan, pengadaan vaksin Covid-19 ini tidak berbeda dengan membeli kucing dalam karung.

Epidemiolog FKM UI ini sejak awal juga sudah melayangkan kritikan serupa pada pemerintah terkait pengadaan vaksin.

Pemerintah dinilai keliru dalam strategi sejak awal munculnya pandemi di Tanah Air.

Vaksin Covid-19 dari China, Sinovac tiba di Indonesia. (YouTube Kompas TV)

"Saya rasa memang pemerintah ini salah strategi, disangkanya vaksin itu adalah solusi yang terbaik. Vaksin itu secondary prevention (pencegahan kedua) sementara primary prevention-nya (pencegahan utama) masih berantakan," kata Pandu.

"Ya ini menurut saya kelihatannya bukan deal-deal efikasi, tetapi murni bisnis," imbuh dia.

Pandu mengungkapkan jika kritikan ini sudah lama disiarkan tapi tak ada yang menangkap maksudnya

"Jadi ya kita kawal terus aja bagaimana selanjutnya," ujar Epidemiolog ini.

Seperti mengamini Epidemiolog FKM UI, hal serupa juga diungkap oleh Windhu Purnomo, seorang epidemiolog Universitas Airlangga ( Unair) Surabaya Windhu Purnomo.

Windhu menyatakan pada Jumat (11/12/2020), data uji klinis fase 3 yang saat ini sedang berlangsung dan keputusan dari BPOM menjadi dasar aman tidaknya vaksin Sinovac.

"Jadi nanti kita tunggu BPOM saja, kan BPOM yang nanti akan menguji kelayakannya dalam hal kemanjuran dan keamanan setelah dilihat bukti ilmiahnya," beber Windhu.

Oleh karena itulah, Windhu tidak bisa mengungkapkan lebih lanjut terkait berbahaya atau amannya vaksin Sinovac jika dilanjutkan.

"Sampai hari ini, yang di uji coba di Unpad ini belum ada laporan tentang kejadian yang tidak diharapkan, itu belum pernah muncul. Tetapi kan uji coba belum selesai. Sekarang kalau ditanya apakah vaksin itu aman atau tidak, ya saya enggak tahu karena uji coba belum selesai," papar Windhu.

Untuk diketahui, Sinovac Biotech Ltd mengeluarkan pernyataan terbarunya terkait efektivitas vaksin Covid-19 yang diproduksinya.

Halaman
12


Penulis: Ika Wahyuningsih
Editor: Melia Istighfaroh

Berita Populer