Menlu Korea Selatan Ragu Korut Bebas Covid-19, Kim Yo Jong Marah: Dia Harus Membayar Mahal

Penulis: Ahmad Nur Rosikin
Editor: haerahr
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Kim Yo Jong, adik perempuan Pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un menghadiri sebuah acara di Ho Chi Minh Mausoleum, Hanoi, 2 Maret 2019.

"Bahkan selama Arduous March di tahun 1990-an, ketika pembelotan massal berlanjut, pemerintah tidak mengancam Penduduk di daerah perbatasan seperti ini," katanya, mengacu pada bencana kelaparan tahun 1994-1998 yang menewaskan jutaan orang Korea Utara.

Tembak Mati Pria yang Menyelundupkan Diri

ILUSTRASI - Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un ketika bertepuk tangan saat memberikan pidato dalam parade militer merayakan 75 tahun Partai Buruh di Lapangan Kim Il Sung, Pyongyang, 10 Oktober 2020. (AFP/KCNA VIA KNS/STR)

Baca: 10 Bulan Tak Muncul, Istri Kim Jong-un Dikhawatirkan Hilang, Sakit, atau Sudah Dieksekusi?

Pemerintah Korea Utara beru saja mengeksekusi warga yang ketahuan barang.

Pria itu ditembak karena disebut telah menyelundupkan diri bersama rekan bisnisnya asal China.

Pemerintah langsung menginstruksikan eksekusi publik.

Hal itu sekaligus sebagai upaya untuk menakut-nakuti warga lain agar patuh pada kebijakan karantina darurat di Korea Utara.

Pemerintah Semakin Waspada

Ilustrasi Pemerintah Korea Utara semakin waspada (ABC News)

Baca: Korea Utara: Badai Debu dari China Bisa Tularkan Covid-19

Penyelundup itu telah melewati penutupan perbatasan antara kedua negara.

Kejadian ini membuat mereka jauh lebih waspada.

Akibatnya, aturan yang lebih ketat diberlakukan.

"Sejak akhir November, Komite Sentral [Partai Pekerja Korea] telah meningkatkan tindakan karantina darurat yang ada menjadi tindakan karantina darurat 'tingkat ultra-tinggi'," seorang penduduk provinsi Pyongan Utara, di perbatasan dengan China di barat laut negara itu, mengatakan kepada RFA's Korean Service minggu ini.

Baca: Kim Jong Un Berikan Pidato Emosional dalam Parade Militer, Masyarakat Korea Utara Menangis

"Eksekusi publik terjadi karena korban didakwa melanggar karantina tepat sebelum tindakan darurat ultra-tinggi berlaku sekitar 20 November."

"Seorang pria berusia 50-an yang mencoba yang menyelundupkan mitra bisnis China ditembak sebagai contoh pada 28 November," tambah sumber itu.

Sumber tersebut mengatakan mereka tidak menghadiri eksekusi publik tetapi mendiskusikannya dengan seorang saksi, yang mengatakan penembakan itu dipindahkan dari daerah asal korban, dekat perbatasan, untuk menjaga agar berita tidak merembes ke China.

(TribunnewsWiki.com/Nur)



Penulis: Ahmad Nur Rosikin
Editor: haerahr

Berita Populer